Selepas Kau Pergi

Selepas Kau Pergi
21. Cemburu


__ADS_3

Garland menatap sang kekasih dengan tajam. Alma yang ditatap demikian oleh Garland menjadi salah tingkah. Memang ini salahnya. Dia menerima begitu saja ajakan Bara untuk pulang bersama.


"Land, aku bisa jelasin sama kamu. Tadi aku tuh sama Bara lagi---"


Alma menghentikan ucapannya saat melihat Garland mengangkat sebelah tangannya. Wajah Garland yang merah padam semakin membuat Alma terdiam.


"Kamu mau jelasin apa sekarang? Kamu mau mengelak dengan cara apa lagi?" ujar Garland.


Alma menghela napas panjang. Dia memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya mulai berbicara.


"Bisa duduk dulu? Aku akan jelasin semuanya sama kamu," ucap Alma. Dia masih berusaha untuk tetap tenang walaupun hatinya sedang bergemuruh.


"Mau jelasin apa? Mau jelasin kalau kamu pengin balikan lagi sama mantan kamu itu? Iya?"


Emosi Garland sudah sampai puncaknya hingga tanpa sadar dia membentak Alma.


Alma masih berusaha untuk tetap tenang. Dia tak ingin ikut emosi juga.


"Bisa duduk dan dengerin aku dulu?" ucap Alma lagi.


Garland akhirnya mau juga duduk. "Sekarang jelasin ke aku. Kenapa kamu bisa pulang bareng sama Bara?"


Alma menghela napas panjang sebelum mulai menjelaskan pada Garland.


"Aku tadi ada meeting di luar sampai sore. Terus pas aku mau pulang, Bara nawarin aku buat bareng. Jadi---"


"Kenapa kamu nggak nolak ajakan dia? Kamu kan bisa telepon aku buat jemput kamu," potong Garland cepat.


Alma menghela napas sekali lagi. Gadis itu tampaknya berusaha sekuat mungkin untuk tak terpancing emosinya.


"Aku nggak mau bikin kamu kecapekan. Makanya aku nggak telepon kamu tadi," jawab Alma.


Garland menyunggingkan senyum miring. "Alasan!" ucapnya singkat.


"Terserah kamu mau percaya atau enggak. Tapi yang jelas, aku udah jujur sama kamu. Aku udah ngomong yang sebenarnya sama kamu. Enggak ada yang aku tutupi dari kamu," ucap Alma.


Garland tampak menatap Alma dengan tajam. Dia merasa ada yang masih disembunyikan oleh Alma darinya. Tapi dia tak bisa menebak apa itu.


"Maafin aku kalau bikin kamu kecewa dan ngerasa kamu nggak dihargai. Tapi percaya deh sama aku. Aku nggak pernah punya niatan untuk ngeduain kamu," ucapnya.

__ADS_1


"Enggak dengan Bara atau cowok lain di dunia ini," lanjutnya.


Garland masih terdiam. Dia masih berusaha mencari kebenaran dalam kata-kata Alma.


Sementara itu, Bara tampak baru saja sampai di rumah. Dia memasukkan mobilnya ke dalam garasi.


"Baru pulang?" tanya Amanda.


Bara tak menjawab pertanyaan sang istri. Dia berlalu begitu saja melewati perempuan yang selama tujuh tahun terakhir menemaninya.


Amanda hanya menghela napas panjang. Dia tak lagi mendesak Bara untuk menjawab setiap pertanyaan darinya.


"Bisanya cuman ngomel aja tanpa ngerti keadaan suami," gerutu Bara.


Dia melepaskan sepatu dan pakaiannya. Kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi. Berendam di air hangat membuatnya sedikit relaks.


...****************...


Hari-hari begitu cepat berlalu. Hubungan Alma dengan Garland masih berjalan sebagaimana biasanya. Hubungannya dengan Bara pun masih berlanjut walaupun harus secara sembunyi-sembunyi.


"Besok enggak usah dianterin ya," pinta Alma.


Garland mengerutkan keningnya. "Kenapa?" tanya Garland.


Garland mengulas senyum. Dalam hati dia merasa senang karena sang kekasih begitu mengerti keadaannya.


"Enggak apa-apa, Sayang. Aku rela kok bolak-balik kayak gini asalkan aku bisa terus sama kamu," jawab Garland.


Alma tersenyum tipis. "Iya sih. Tapi aku kasihan sama kamu, Sayang. Aku nggak mau kamu sakit karena tiap hari harus kayak gini," ucapnya lagi.


"Sayang, dengerin aku!" Garland menggenggam tangan Alma dengan erat. Dia menatap lekat-lekat wanita yang selalu menjadi penyemangatnya itu.


"Aku nggak apa-apa. Aku rela bolak-balik kayak gini demi kamu. Aku rela ngelakuin ini demi kamu, Sayang!" lanjutnya.


Alma menghela napas panjang. "Ya udah terserah kamu aja. Yang jelas aku udah bilang sama kamu," ucap Alma.


Garland lagi-lagi tersenyum. Dia merasa bangga karena Alma mau mengerti keadaan dirinya. Mau mengerti kondisinya. Dia tak pernah menuntut apapun darinya.


"Ya udah! Aku kerja dulu ya. Nanti kalau udah jam pulang, kamu telepon aku ya. Biar aku bisa jemput kamu," ucap Garland.

__ADS_1


Alma mengangguk. "Hati-hati ya. Semangat kerjanya, Sayang!" balas Alma.


Garland tersenyum. Dia kemudian melakukan motornya keluar dari gedung tempat Alma bekerja. Alma masih melambaikan tangannya sampai motor Garland menghilang dari pandangan matanya.


"Mesra banget!" cibir Bara yang tahu-tahu sudah ada di dekat Alma.


"Eh Pak Bara! Bikin kaget aja deh." Alma mengelus dadanya karena kaget mendengar teguran Bara.


Bara tak menampakkan senyumnya. Wajahnya tampak menahan emosi kala melihat Alma berduaan dengan Garland tadi.


"Jangan marah dong! Kalau di kantor, aku milik kamu." Alma berbisik mesra di telinga Bara.


Bara menatap Alma lekat-lekat. Ingin rasanya dia ******* bibir mungil Alma saat ini juga. Apalagi melihat Alma menggigit bibirnya seperti ini membuatnya semakin tak bisa menahan nafsunya.


"Kita masuk yuk! Soalnya sebentar lagi kita ada meeting dengan PT. Alam Bawah Sadar," ajak Alma.


Bara menganggukkan kepalanya. Dia kemudian mengikuti langkah Alma masuk ke dalam gedung bertingkat itu.


Sementara itu, Garland baru saja tiba di kantornya. Di lobby kantor, dia sudah disambut oleh Dania. Garland menampilkan raut tak suka saat melihat wajah Dania.


"Land! Aku udah lama nungguin kamu di sini. Aku---"


"Berhenti mengganggu gue. Apapun yang lo omongin, gue udah nggak percaya lagi. Sekarang, mendingan lo pergi dari sini!" Garland memotong ucapan Dania dengan cepat.


Setelah berkata demikian, Garland berlalu pergi meninggalkan Dania. Dia tak ingin berlama-lama berhadapan dengan gadis seperti Dania.


Dania menatap punggung Garland dengan perasaan kecewa.


"Ini mungkin salah gue. Tapi nggak seharusnya dia bersikap kayak gini ke gue!" gumamnya.


Dania menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Rasa sesak tiba-tiba menyerang dirinya. Hingga dia susah bernapas.


Tanpa dia sadari, dua pasang mata tengah mengawasinya dari tempat yang berbeda. Mereka menatap Dania dengan tatapan yang sama.


"Itu karna buat lo, Dan! Elo udah bikin Alma keluar dari kantor ini dan membuat Garland patah hati. Sekarang elo rasain akibatnya!" gumamnya. Setelah itu, dia segera berlalu dari tempatnya.


Sementara itu, seorang lagi tampak berjalan mendekati Dania. Dia menyunggingkan senyum sinis saat dirinya berhadapan dengan Dania.


"Apapun usaha lo, enggak bakalan bisa membuat Garland mempercayai elo!" ucapnya.

__ADS_1


Dania mengerutkan keningnya. "Maksud lo?"


Dia berjalan menjauh dari tempat itu tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Dania. Senyum penuh kemenangan tergambar jelas di wajahnya.


__ADS_2