Selepas Kau Pergi

Selepas Kau Pergi
11. Ditampar dengan uang


__ADS_3

Mata semua orang terbelalak saat koper dibuka. Tumpukan dolar pecahan US $ 100 terlalu menggiurkan. Kezia berjalan mendekatinya, lalu menyomotnya segenggam.


" Ini biaya sewa rumah selama dua tahun! " sentak Kezia sambil melemparkan uang itu ke wajah Cheryl dan Alan.


" Dan ini, biaya makan, air dan listrik! " Kezia kembali menyapu wajah mereka dengan lembaran dolar lagi.


" Ini untuk membayar sewa mobil, uang bensin dan semua keperluanku! "


Lagi, Kezia menghamburkan uang itu dengan begitu mudah, seakan itu adalah daun kering.


Semua orang tercengang ! Para pelayan dan pengawal pun cukup tergiur. Bahkan teman-temannya yang kaya pun, tidak memiliki keberanian yang serupa.


" Dan ini, untuk semua skincare yang kau berikan! "


Lembaran dolar itu kembali berhamburan.


Menampar! Kezia benar-benar telah menampar mereka. Wajah Alan begitu muram, dipermalukan seperti ini, siapa yang bisa menahannya?


Dan itu, masih belum bisa memuaskan Kezia. Lantas, Kezia mengangkat koper itu dan menumpahkan isinya sampai tak tersisa satu lembar pun.


Membeku! Ruangan itu seakan membeku, hingga suara kertas yang jatuh terdengar begitu berisik.


" Brakkk! " Kezia melemparkan koper yang telah kosong ke lantai.


" Sekarang kita impas! Aku tidak lagi berhutang padamu! " ujar Kezia sembari berbalik.


Didapatinya Cecil yang tertegun. Menatap Kezia penuh makna. Dia hampir tidak percaya dengan semua rentetan kejadian ini. Kezia benar-benar telah berubah! Apakah ini masih best friend-nya?


Kezia mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Cecilia. Tentu ia syok, Kezia telah menunjukkan sisi yang buruk padanya. Kezia lantas tersenyum dengan hangat, dan itu mampu membuyarkan tekanan pada diri Cecil.


" Ke... Kezi! "


" Kelak jangan pernah lagi bergaul dengan orang-orang ini! Itu hanya akan menurunkan kecerdasanmu! " pesan Kezia, sambil melirik ke sekeliling.


Kerumunan mendukkan kepala, tidak ada yang berani memprotes. Kezia pun melenggang pergi, Luna mengikutinya dengan diiringi pengawal. Tepat di depan pintu, dua orang pengawal membentangkan mantel dari bulu angsa dan memakaikannya pada Kezia.


" Tunggu! " Alan mengejar.


" Kau belum meminta maaf pada Cheryl ! "


Kezia tersenyum!


" Atas dasar apa, kau menyuruhku untuk meminta maaf! "


" Kezi, tolong jangan keras kepala. Mengingat kita pernah punya hubungan, kusarankan kau untuk bersikap baik! "


Kezia masih tersenyum penuh misteri. Ia lalu menjentikan telunjuk dengan ibu jarinya!


' Tek! '


Seketika, display di ruangan itu menyala. Rekaman CCTV yang menampilkan detik-detik Cheryl menjatuhkan diri diputar berulang-ulang. Terlihat di situ, Cheryl menjatuhkan dirinya sendiri bersama dengan Venus, Kezia bahkan tidak menyentuh kulitnya sama sekali. Tidak menyentuh walau satu inci pun!


Semua orang merasakan ketidak-berdayaan. Terlalu sulit bagi mereka untuk menerima kenyataan. Dalam hati, mereka mengutuk diri mereka sendiri, menyalahkan kebodohannya.


' Bagaimana bisa, kami mempercayai siluman licik ini? '


Alan menatap Cheryl penuh ketidak-pastian ! Amarah meluap, ingin rasanya ia membunuh Cheryl pada saat ini. Gadis itu terkulai lemas, kelicikannya telah ditel*njangi mentah-mentah.


Kezia benar-benar telah merendahkannya habis-habisan !


Jamal dan William, mereka bahkan tidak yakin dengan keberadaan dirinya. Siapa mereka? Mungkin memang bukan siapa-siapa !


Robin Tumiwa bernafas lega, seakan ia telah selamat dari kematian. Hampir saja, ia menyinggung seekor singa betina. Andai itu terjadi, maka tamatlah riwayatnya.


" Tuan Pratama, selesaikan dulu urusanmu sebelum engkau mengejarku. Masih ada banyak waktu bagimu untuk menyelesaikan skor. Aku akan menunggu! "

__ADS_1


Kezia tersenyum sinis dan pergi dengan begitu elegan!


" Hadirin yang terhormat, bagaimanakah kecantikan Venus ini akan diselesaikan ? " Pada saat itu, Robin menegaskan kembali wibawanya.


Semua terdiam ! Lima puluh milyar! Siapa yang begitu dermawan ?


Alan mendengus!


Di lobi hotel, Kezia sudah ditunggu oleh satu kompi pengawalan keluarga Bramasta dan sederet mobil mewah.


Semua orang menyaksikan kepergian Kezia yang begitu elegan. Memukau!


...----------------...


" Kezia, aku tidak mau berteman denganmu lagi! " Cecilia memanyunkan bibirnya.


" Hahaha, apa kau sedang merajuk? " Kezia tertawa ringan di seberang telepon.


" Pokoknya, kamu harus memberikan penjelasan kepadaku! Atau, aku benar-benar tidak mau lagi bertemu denganmu! " Cecil mengancam


" Ehmmm, kasih tau gak yaaa? "


" Huh, sudahlah, aku akan menutup telepon sekarang ! "


" Eh, tunggu, tunggu ! Baiklah, aku akan menjelaskannya padamu. "


" Baik! Kapan ? "


" Bagaimana kalau kita pergi belanja ? Sudah lama aku tidak jalan-jalan. "


" Baiklah ! Sampai bertemu nanti. "


Cecilia menutup teleponnya dan merias diri, lalu bergegas pergi dengan Ferary-nya.


Sesuai kesepakatan, mereka pun bertemu di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka tampak gembira, memilih beberapa pakaian dan juga perhiasan.


Ketika mereka hendak membayar, terdengar suara yang sangat familiar di telinga Kezia. Teresa Permadi dan putri tercintanya menatap dengan tatapan merendahkan.


" Apa toko ini sudah turun kelas, sampai-sampai membiarkan tangan miskin yang kotor ini menyentuh barang-barangmu? " sindir Chika sambil melirik manajer toko.


Manajer toko yang tadinya sumringah karena Kezia memborong banyak pakaian, mendadak was-was. Raut mukanya menunjukkan keheranan. Bagaimanapun, Teresa dan Chika adalah pelanggan VIP di tokonya.


" Nyonya Teresa! " kepala toko menyambut penuh penghormatan.


" Kezia, siapa mereka? " bisik Cecil.


Kezia menatap kedua wanita ini dengan sinis.


" Nyonya besar keluarga Pratama dan peri kesayangannya! " jawab Kezia datar.


" Nona kecil, kau sudah tahu kan siapa kami? Letakkan belanjaanmu dan cepatlah enyah dari sini! Kalian benar-benar telah merusak mood-ku! " ujar Teresa pada Cecil.


Teresa masih menaruh sedikit kewaspadaan padanya. Dilihat dari penampilannya, Cecil ini masihlah terlihat seorang putri kaya.


" Nona, kulihat kau adalah wanita bermartabat. Wanita di sampingmu ini, dia adalah seorang miskin yang ingin menguasai kekayaan orang lain. Demi kebaikanmu, kusarankan sebaiknya kamu menjauh! " Chika berlagak peduli.


Cecilia merasa sangat tidak senang mendengar ini.


" Apakah Anda punya hak untuk menentukan dengan siapa saya harus berteman ? "


" K-kau...?! " wajah Chika merah padam.


" Heakhhh, anak-anak jaman sekarang, selalu saja bertindak impulsif. Mereka tidak tahu apa yang baik untuk mereka! " Teresa mulai jengah.


" Manajer, apakah ada aturan di tokomu yang melarang seseorang untuk berbelanja di sini? " Kezia berusaha mengalihkan pembicaraan. Buang-buang energi saja jika harus meladeni duo nyinyir ini.

__ADS_1


" Tidak! Tentu saja tidak! Siapapun boleh berbelanja di sini, selama bisa membayar! "


" Hanya saja, kedua Nyonya Pratama adalah pelanggan VIP kami. Dan toko kami memiliki sebuah komitmen, untuk mengutamakan pelayanan terhadap pelanggan VIP. Apakah Anda memiliki kartu VIP, nona? Jika tidak, maka maafkan kami jika bersikap kurang sopan. Anda bisa datang lagi lain waktu. "


" Kartu VIP ? Aku tidak memilikinya. "


" Hahahahaha! Manajer, apa kau dengar itu? Dia bahkan mengakuinya. " Chika terpingkal.


" Wanita ini adalah orang yang telah diusir dari keluarga kami, karena berusaha menipu kakakku! Manajer, cepat usir dia! "


Wajah manajer toko seketika murung. Teresa kemudian berkata,


" Manajer, segera panggil security dan usir mereka. Percayalah, wanita ini tidak akan mampu membayarnya. Dia hanya sedang berpura-pura. "


" Bagaimana jika aku bisa membayarnya ? " sergah Kezia.


" Maka aku akan memanggilmu ibu! " Teresa langsung terpancing.


Kezia tersenyum dengan senyuman yang sulit untuk diartikan.


Kezia kemudian mengeluarkan kartu hitam emas khusus dari dompetnya. Sebuah kartu khusus VVIP yang diakui secara eksklusif oleh internal toko mewah internasional. Hanya ada sepuluh kartu ini di dunia, bahkan istri presiden pun belum tentu memilikinya.


Ketika melihat kartu ini, semua orang tercengang. Dengan kartu ini, seseorang bisa mendapatkan pelayanan secara eksklusif di toko merk mewah manapun di seluruh dunia.


Keributan kecil ini, mengundang orang-orang yang sedang berbelanja untuk berkerumun. Mereka juga penasaran untuk melihat kartu legendaris ini, yang mereka hanya pernah melihat fotonya di Internet. Dan itupun, hanya sebuah kebetulan karena kartu ini begitu rahasia.


" Manajer, dia sedang menipumu! Kartu ini pasti palsu! " Chika mengatakan sesuatu yang mungkin.


Setelah sesaat mengamati dengan teliti, manajer toko langsung membubarkan kerumunan dan mengusir mereka keluar.


" Maaf, kami harus melayani nona ini secara eksklusif. Kalian boleh datang lagi lain waktu! "


Teresa dan Chika tercekat. Cecil menghampirinya dan berkata, " Bukankah kalian juga harus pergi? Cepatlah, kalian benar-benar telah merusak mood-ku! "


" Cecil, tidak usah! Biarkan mereka di sini, " cegah Kezia, kemudian berbalik.


" Manajer, tolong kosongkan tokomu! Aku borong semuanya ! "


" A... apakah Anda serius, nona? " Manajer toko hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


" Kezi, apa kau bercanda? " Cecil juga tidak mempercayainya.


" Kezia, jangan keterlaluan ! Kalian pasti sudah sekongkol untuk berakting. Mari kita lihat, apa kartumu berfungsi ! " Chika merasa sangat terintimidasi.


" Manajer, hitung harganya dan bungkus semua. Lalu kirimkan ke alamat ini! "


Kezia menuliskan sebuah alamat. Manajer itu mulai menghitung dan melakukan transaksi.


' Bip!'


Transaksi berhasil!


" Kezi, itu alamat rumahku. Kenapa kau mengirimkannya kesana? "


" Bukan apa-apa, hanya hadiah kecil. Kau bisa membuangnya jika tidak suka! "


WHAT...?!! Semua yang mendengar, berasa ingin muntah saat itu juga. Gila, ini benar-benar tidak wajar bagi mereka. Meski merekapun dari keluarga kaya, mereka juga tidak bisa menghamburkan uang dengan semudah itu.


Kezia menatap tajam duo nyinyir sambil bersedekap. Senyum jahat terlintas di bibirnya.


" Anakku, apa kau tidak menginginkan beberapa pakaian? Aku bisa memberikanmu beberapa, jika kau mau memohon, " ejek Kezia.


Cecil hampir terbahak mendengar ini.


Teresa dan Chika malu bukan main. Mereka merasa seperti ditampar, bagai pencuri yang tertangkap basah.

__ADS_1


Cecil semakin penasaran dengan identitas Kezia. Sudah dua kali ini, Kezia menampar orang-orang yang merendahkannya dengan uang, secara telak. Sangat telak!


__ADS_2