
Alan terlihat bingung melihat adegan ini, ia bergegas menghampiri Zia dan menggenggam tangannya.
" Kenapa bertengkar? " tanya Alan
Zia diam seribu bahasa, berusaha menahan air mata yang tumpah. Dia selalu tidak bisa mengendalikan perasaannya saat di depan Alan. Tapi tidak untuk kali ini, dia harus kuat.
Di saat bersamaan, Teresa kembali berteriak " Zia sayang, tolong jangan seperti ini nak, maafkan ibu. Ibu yang salah. Ibu pantas dihukum! "
Teresa menampar wajahnya sendiri, trik lama yang sudah jamuran.
" Ibu, hentikan! Tolong hentikan! "
Seperti biasa, Alan tidak akan pernah membiarkan hal seperti itu terjadi di depannya.
" Ibu hanya mengucapkan beberapa patah kata saja, tapi dia begitu marah dan mengancam untuk pergi. Maafkan ibu, nak. Ibu yang salah! Tapi ibu sama sekali tidak bermaksud mengusirnya..! "
Zia merasa sangat jengah, ingin sekali ia menhadiahkan Oscar pada wanita tua itu. Benar-benar sangat apik dalam memainkan lelucon.
" Zia, tolong maafkan ibu nak! Jika kau sudah lelah merawat calon ayah mertuamu, ibu bisa maklum. Ibu bisa menyewa pengasuh untuknya. Ingat, kau sendirilah yang meminta untuk merawatnya, kau tidak bisa menyalahkan ibu seperti ini." air mata buaya merembes dari mata Teresa.
Benar memang Zia yang berinisiatif untuk merawat Farhan, tapi itu atas desakan Teresa tanpa Alan tahu. Memang dari awal, Teresa hendak menjadikannya seorang babu, karenanya dia membujuk Alan untuk mengajak Zia tinggal bersama.
Pada kenyataannya, Teresa hanya khawatir, Alan menghamburkan uang untuk membayar sewa apartemen Zia.
Begitu Zia tinggal bersama mereka, Teresa langsung memecat semua pengurus rumah, termasuk pengasuh yang merawat Farhan. Alasannya, keadaan finansial sedang down, jadi semua penghuni harus mandiri.
Kata-kata hanyalah kata-kata, manis di bibir tapi pahit dalam fakta.
" Di dunia ini, tidak ada yang gratis. Kamu harus tahu diri jika ingin tinggal di sini! " sindir Teresa saat Alan tidak ada di rumah.
Zia yang awalnya merasa bahagia karena bisa tinggal bersama pujaan hatinya, yang itu berarti bahwa keluarganya telah menerima dirinya, ternyata salah mengira.
" Kamu tahu kan, keadaan perusahaan sekarang sedang kolaps? Bukan maksudku untuk mendiktemu, tapi setidaknya kamu harus menunjukkan ketulusanmu pada kami, " kilah Teresa.
Bagi Zia, ini adalah sebuah tantangan atas cintanya. Zia tidak keberatan sama sekali, ia pun menunjukkan kesungguhannya, meski itu artinya harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, bahkan termasuk merawat Farhan yang cacat.
Di kemudian hari, perlakuan Teresa dan anak-anaknya semakin menjadi, hingga memaksa Zia pada titik ini.
Tapi ya sudahlah, ini hanyalah cerita masa lalu dirinya yang naif dan bodoh, pikir Zia.
" Zia, maaf! " gumam Alan.
" Aku tahu, kamu lelah. Kamu telah melakukan banyak hal untukku, tapi...! "
__ADS_1
Alan menatap mata Zia, berharap masih ada cinta di sana.
"...Tapi, semua itu tidak gratis. Bahkan untuk merawat ayah pun, aku memberikan kompensasi yang sesuai. Dan kurasa, itu lebih dari cukup. Zia, keadaan finansial perusahaan dalam keadaan sangat baik, itu semua berkatmu. Tentu aku juga bukan tidak tahu terima kasih, bukan? Apakah semua yang kuberikan kepadamu selama ini kurang? "
Zia membelalakan mata dan memutarnya, hingga saat ini, pria di hadapannya ini masih tidak mengerti.
" Apa kau sedang melihatku sebagai pembantu? Atau melihatku sebagai seorang pelacur? " sarkas Zia.
Buru-buru, Teresa memeluk Zia.
"Nak, kamu tidak boleh seperti itu! Kau boleh marah sama Ibu, tapi kau tidak bisa mengabaikan putraku seperti ini! " bujuk Teresa, masih dengan air mata palsunya.
" Jika kau ingin pergi, maka pergilah. Tapi tinggalkan semua yang putraku berikan padamu! Jika tidak, aku tidak bisa menjamin keselamatan si tua bangka itu " bisik Teresa di telinga Zia.
Teresa menyunggingkan seringai jahat dari sudut pandang yang tidak bisa di lihat oleh Alan.
" Ck...! " Zia berdecih, hanya itu.
Dia benar-benar sangat muak dengan semua ini. Lelahnya, jenuhnya, tak ada seorang pun yang tahu.
" Zia, ayo kembali ke rumah. Kita bisa bicarakan semua ini baik-baik. Aku dan Cheryl..., itu semua salah paham. Minggu depan kita menikah, dan...aku sudah siapkan sepuluh persen dari saham perusahaan atas namamu sebagai mas kawin. Ini sebagai bukti atas keseriusanku, "
' Deg '
Tidak! Teresa tidak bisa merelakan semua ini. Susah payah ia merangkak masuk ke dalam keluarga Pratama, bahkan Farhan pun tidak memperlakukannya seperti itu.
Tapi Zia, perempuan yang tidak jelas asal-usulnya itu, ingin menguasai keluarga Pratama dan menjadi nyonya, Teresa sungguh tidak rela. Satu sen pun, Teresa tidak rela.
" Apa kau benar-benar ingin berkonfrontasi denganku? " bisik Teresa lagi, penuh dengan nada ancaman.
Zia mengambil Black Card dari ranselnya dan melemparkannya ke tangan Alan.
" Aku tidak butuh! "
" Oh, Zia...kenapa kamu seperti ini, nak? Zia, apa kau sudah tidak memiliki hati nurani? "
Zia tidak lagi menggubris mereka berdua, dia benar-benar sudah tidak ingin lagi berurusan dengan para bedebah itu. Zia pun bergegas membuka pintu mobil, tapi Teresa mencegahnya.
" Zia, tolong hentikan semua ini! Apa kau benar-benar sudah tidak memandangku, hah!? " Alan berteriak, dia juga tidak bisa membiarkan Zia terus-terusan menguji kesabarannya.
" Zia, jangan pergi nak! Bukankah putraku begitu baik padamu? Lihat! Kau bahkan mengendarai Benz, agar kau tidak terlihat buruk di hadapan teman-temanmu. Apa kau tega, nak? "
Zia tersenyum mendengarnya, ingin rasanya ia tertawa terbahak-bahak. Dalam mimpi pun, Zia tidak pernah membayangkan, bahwa dia akan menjadi menantu dari seorang badut yang sangat kocak ini.
__ADS_1
Zia paham betul maksud dari perkataan Teresa, bahkan mobilnya pun adalah fasilitas yang Alan berikan padanya. Dan, itu pun harus ditinggalkan juga.
Zia menarik tangan Teresa, kemudian menepuk telapak tangannya untuk meletakkan kunci mobil.
" Ambillah! Aku tidak butuh...! Aku tidak butuh apapun dari kalian! "
Zia berbalik, melangkah menuju pintu gerbang dan keluar. Dengan berjalan kaki, ia keluar dari Green Gardens Village dan itu adalah jarak yang cukup jauh. Tidak akan ada taksi yang lewat, dan taksi online, Zia bahkan sudah tidak memiliki satu sen pun.
Alan menyapu kasar wajahnya, mondar-mandir sambil memegangi jidatnya. Ia bingung, ia tidak tahu harus bagaimana.
" Putraku sayang, sudahlah! Kita tidak bisa memaksakan hati seseorang. Setidaknya, kita sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tapi ya, mau bagaimana lagi? "
Teresa benar-benar berusaha memerankan tokoh ibu yang bijak.
" Masalah pernikahan, kau juga tidak perlu khawatir. Kita hanya perlu mencari pengantin pengganti, benar? Ada banyak wanita terhormat, bahkan berstatus bangsawan, yang masih setia menunggumu. Ayolah, kau tidak bisa tidak masuk akal seperti ini. Setidaknya, kau masih harus lebih memikirkan ayahmu."
Alan mengerjapkan mata sejenak, lalu terpejam. Menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghempaskannya. Laki-laki tampan itu benar-benar merasa penat.
" Nak, bagaimana kalau ibu kenalkan seseorang besok? Ibu yakin, kamu tidak akan kecewa. " bujuk Teresa.
Alan tidak merespon sama sekali, ia melangkahkan kaki untuk menemui ayahnya. Alan bahkan tidak melirik sedikitpun Chika yang sedang memapah Anton hendak pergi ke rumah sakit. Kedua saudara tirinya itu, meski Alan menganggapnya sebagai keluarga sendiri, tapi ia tidak bisa terlalu akrab.
Lebih tepatnya, dia memang tipikal orang yang tidak bisa terlalu akrab dengan seorang pun. Bahkan dengan Zia, ia sendiri lupa, kapan terakhir kali ia tersenyum padanya.
" Ayah! "
Alan mendapati ayahnya yang duduk di kursi roda, sedang menghadap jendela di kamarnya. Farhan tahu, anak kandungnya pasti segera mencarinya. Meski begitu, Farhan tidak mempedulikan Alan sama sekali, bahkan menoleh pun tidak.
Alan duduk di tepi ranjang, tepat di samping ayahnya. Selama ini, Alan yang tangguh, tentu saja ada saat dimana ia tidak bisa mengendalikan semuanya. Dan pada saat itulah, satu-satunya orang yang akan ia ajak bicara adalah ayahnya. Meski ayahnya tidak bisa bicara, tapi setidaknya Alan bisa merasakan kehangatan Farhan dari sikapnya.
Tapi kini, entah mengapa, Alan merasa kalau ayahnya benar-benar mengabaikannya. Dingin!
" Ayah, Zia telah pergi! "
Farhan masih tidak merespon.
" Apa yang harus kulakukan? "
Alan menelungkupkan wajahnya pada kedua telapak tangannya, kemudian meremas rambutnya. Menunduk!
" Aaaahhh, Alan! Cepat kemari nak! " terdengar suara Teresa. Menjerit!
Alan menoleh, memandangi pintu. Beberapa detik berlalu, barulah Alan beranjak dengan malas, untuk melihat apa yang terjadi.
__ADS_1