
Garland mengacak rambutnya frustasi. Dia merasa kesal saat melihat Alma sedang berduaan dengan Bagas di kafe tadi siang.
"B******k! S****n!" umpatnya.
"Percuma lo marah-marah kayak gini," ucap Gerry.
"Alma nggak akan bisa maafin elo, kalau elo nggak bisa kontrol ucapan lo," lanjutnya.
Garland menatap Gerry dengan tatapan sendu. Dia seolah kehilangan semangatnya saat ini. Dia tak benar-benar ingin berpisah dari Alma. Dia hanya terbawa emosi saja saat mengatakan itu.
"Sekarang lo pikir deh! Siapa sih yang nggak sakit hati dituduh tanpa bukti gitu?" ujar Gerry.
"Sekarang gue harus gimana Ger? Gue nggak mau kehilangan dia. Gue nggak mau putus sama Alma," tanya Garland.
Gerry menepuk pundak Garland. "Samperin dia. Samperin Alma. Minta maaf sama dia soal kemarin. Gue yakin dia pasti mau maafin elo. Gue juga yakin dia juga masih sayang sama elo," saran Gerry.
Garland mengulas senyum. "Makasih Ger atas saran elo. Sekarang gue mau ke rumah Alma. Gue mau minta maaf sama dia," ucap Garland bersemangat.
Gerry mengacungkan kedua jempolnya. "Sama-sama."
"Oh iya satu lagi. Selama ini Alma selalu jualan. Dia selalu berusaha menawarkan kartu yang dia bawa dari kantor. Enggak pernah gue lihat dia diam di booth saat sepi. Dia pasti keliling mencari customer," ucap Gerry.
"Dia juga selalu mencatat hasil jualan hari itu di bukunya. Dia juga selalu langsung menyetorkan uang hasil jualannya ke Bella," lanjutnya.
"Jadi, elo harus teliti lagi dan cari tahu lagi soal data yang lo punya," pungkasnya.
Garland terbelalak tak percaya. Selama ini dia sudah menuduh Alma yang bukan-bukan. Tanpa dia cari tahu dulu kebenarannya. Tanpa dia cari tahu dulu asal data itu.
"Maksud lo, data yang gue punya itu nggak valid?" tanya Garland.
Gerry mengangkat bahunya. "Elo harus teliti lagi Land. Lihat siapa yang benar-benar bekerja dan siapa yang hanya memanfaatkan keadaan saja," ujarnya.
"Maksud lo?" tanya Garland tak mengerti.
Gerry hanya mengulas senyum. Kemudian dia pergi meninggalkan Garland yang masih tampak bingung dengan ucapannya.
"Apa yang harus gue lakuin sekarang? Apa yang harus gue perbuat? Alma pasti marah banget sama gue?"
__ADS_1
"Tapi gue harus minta maaf sama dia. Gue harus ke rumahnya sekarang juga," tekadnya.
Tanpa berpikir dua kali, Garland menyambar jaket dan segera keluar dari dalam rumahnya.
"Garland!" panggil seseorang.
Garland berdecak kesal. Dia menoleh tanpa semangat. Dia semakin terlihat kesal saat mengetahui siapa yang datang.
"Aku mau ngomong sama kamu. Aku butuh kamu Land!" Mayang berkata sembari mencoba memeluk Garland.
Garland dengan cepat menepis tangan gadis itu dengan kasar. Dia tak sudi tubuhnya disentuh oleh gadis yang pernah menjadi kekasihnya itu.
"Kenapa Land? Kenapa kamu jadi kayak gini? Kenapa kamu menjauh dari aku?" tanyanya.
Garland tak menggubris pertanyaan dari gadis itu. Dia bergegas pergi meninggalkan gadis itu seorang diri.
Air mata Mayang menetes perlahan. Sesak rasanya diperlakukan kasar oleh orang yang selalu ada di dalam hatinya. Seseorang yang selalu mengisi relung hatinya. Tak ada yang bisa menggantikan sosok Garland di hatinya.
...****************...
Pagi ini Alma tampak keluar dari rumahnya. Dia. mengunci pintu rumahnya karena kedua orang tuanya sedang ada acara hingga sore hari. Sedangkan sang kakak sedang ada tugas di luar kota.
Tiiinnn... Tiiinnn... Tiiinnn!
Bunyi klakson mengagetkan dirinya. Alma menoleh dan mendapati Garland tengah tersenyum ke arahnya. Alma membalas senyuman itu. Dia segera menghampiri sang kekasih dan segera naik ke boncengan.
"Udah siap?" tanya Garland.
Alma merangkul pinggang Garland seraya menganggukkan kepalanya. Senyum manis terukir di wajahnya.
Garland segera melajukan motornya membelah jalanan kota. Senyum tak luntur dari wajahnya. Hatinya juga berbunga-bunga karena dirinya dan Alma bisa kembali bersama.
Semalam, Garland menemui Alma di rumahnya. Dia meminta maaf pada gadis itu. Dia jelaskan semuanya pada Alma tentang hubungannya dengan Dania. Dia berharap setelah Alma mengetahui yang sebenarnya, Alma mau kembali bersama dengannya.
"Aku berani berani sumpah. Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Dania. Aku sama sekali nggak ada rasa sama dia," jelas Garland.
"Iya, awalnya emang nggak ada rasa. Tapi ujung-ujungnya saling nyaman dan memiliki rasa," ketus Alma.
__ADS_1
"Sayang, dengerin aku. Aku sama sekali nggak pernah berpikir untuk menduakan kamu. Aku sayang sama kamu."
Garland meraih tangan Alma. Namun gadis itu dengan cepat menarik tangannya. Dia masih merasa kesal dengan sikap Garland akhir-akhir ini.
"Al, aku serius. Aku nggak ada rasa sama sekali dengan Dania. Cuman kamu yang ada di hati aku. Cuman kamu satu-satunya wanita yang aku cintai," ucap Garland lagi.
Alma menatap mata pemuda di depannya itu. Dia mencari sebuah kebohongan di sana. Namun ia sama sekali tak menemukan kebohongan. Dia hanya menemukan kesungguhan hati serta ketulusan di sana.
"Jangan ngelamun aja. Fokus sama jalan di depan." Alma memperingatkan sang kekasih yang sedang menyetir.
Garland mengulas senyum. "Iya Sayang. Ini aku lagi fokus kok!" jawab Garland.
Alma tersenyum. "Aku sayang banget sama kamu." Alma mengatakan itu sembari mengeratkan pelukannya di pinggang sang kekasih.
Garland tersipu malu saat mendengar Alma mengatakan itu. Sebuah ungkapan yang akhir-akhir ini tak pernah ia dengar.
Motor terus melaju hingga tanpa terasa mereka telah sampai di pelataran parkir kantor. Alma segera turun dari boncengan. Dia melepas helm yang ia kenakan.
"Kamu udah sarapan?" tanya Garland.
"Udah tadi. Kenapa? Kamu belum sarapan ya?" tebak Alma.
Garland nyengir kuda mendengar tebakan Alma. Dia memang terburu-buru tadi. Jadi dia tak sempat membeli sarapan seperti biasanya.
"Tumben belum sarapan? Biasanya juga udah sarapan?" ujar Alma.
"Tadi aku bangunnya kesiangan. Jadi nggak sempat beli sarapan kayak biasanya," jawab Garland.
"Ya udah kita absen dulu setelah itu aku temenin kamu beli sarapan di kantin," ucap Alma.
Garland mengulas senyum. Kemudian mereka berdua berjalan masuk ke dalam untuk absensi. Setelah melakukan absensi, Alma menemani sang kekasih untuk membeli sarapan di kantin.
"Beneran kamu udah makan?" tanya Garland meyakinkan.
"Udah. Aku udah sarapan tadi," jawab Alma.
"Ya udah kalau gitu pesan minuman aja ya," ucap Garland.
__ADS_1
Alma menganggukkan kepalanya. Senyum tergambar jelas di wajahnya yang terlihat cantik sekali hari ini.
Di kejauhan dua pasang mata tengah menatap kebersamaan mereka dengan tatapan yang berbeda. Seseorang menatap Alma dengan pandangan yang sendu. Sedangkan seorang lagi menatap Alma dengan pandangan penuh kebencian.