
Setelah mengantar kepergian Cecil, Kezia ikut bergabung dengan Rayhan yang tampak sedang menceramahi Raditya.
"Heh, Tuan Radit, mau sampai kapan kau terus menjomblo hah? Gak sadar apa, sama umur?" cecar Rayhan.
Raditya tampak acuh tak acuh, sibuk dengan laptopnya.
"Sudahlah, Ayah. Jangan terlalu memojokkan kakak seperti itu," Rayhan menoleh ķe arah Kezia, duduk di samping Raditya sambil menghembuskan nafas kasar.
"Huh, ayah pusing memikirkan kalian! Yang satu gagal nikah, yang satu gagal move on, yang satu lagi...ah, entah." Rayhan terus menggerutu.
"Rhein? Kapan Rhein pulang? Aku sangat merindukannya."
"Mana ayah tahu. Di kepalanya cuma ada bola, huh!"
Rheinhard adalah anak ketiga Rayhan. Seorang pemain sepak bola top yang sedang menjalankan karirnya di luar negeri. Raditya menghentikan sejenak pekerjaannya, menoleh ke arah Rayhan dan Kezia.
"Kalau Ayah ingin menimang cucu, kenapa Ayah tidak menikah lagi saja?" ujar Rayhan sambil berdiri dan bergegas masuk ke kamar.
"K...kau, dasar anak kurang ajar!" Rayhan memaki, tapi Raditya sudah terlanjur pergi.
"Tuan Radit, heh!" Rayhan merasa sangat gondok dengan tingkah anak sulungnya itu.
Kezia terkekeh dengan tingkah mereka yang susah untuk akur.
Yah, mau bagaimana lagi. Mungkin ini memang sudah takdir, pikir Kezia. Raditya pernah punya seorang kekasih, tapi kekasihnya itu mengidap penyakit kronis hingga akhirnya nyawanya tidak bisa diselamatkan. Sejak saat itu, Raditya masih belum ada tanda-tanda terlihat dekat dengan wanita lagi. Dan nasib Kezia sendiri, ah Kezia juga malas memikirkannya. Hubungannya yang kandas dengan Alan membuatnya malas untuk memikirkan masalah jodoh. Jujur, di dalam hatinya, Kezia masih sangat mencintai Alan. Tapi, dirinya sangatlah bodoh jika terus mempertahankan hubungan yang tidak sehat seperti itu.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Raditya, saat Kezia menyusul ke kamarnya, jemarinya masih asyik dengan memainkan laptop.
"Ehmm, mungkin aku akan kembali menekuni V & K," ujar Kezia setelah sejenak berpikir.
"Hmm, parfum?" Raditya berkernyit,Kezia mengangguk.
Dulu waktu masih kuliah, Kezia sudah mendirikan sebuah perusahaan parfum bersama dengan seorang temannya. V & K adalah inisial nama mereka. Namun semenjak Kezia bertunangan dengan Alan dan dirinya fokus membantu Pratama Corp., Kezia mempercayakan perusahaan tersebut pada temannya, tentu dengan Bramasta Grup ikut mengawal di belakang layar.
__ADS_1
"Besok, kau bisa ikut ke kantor untuk memulai!" ujar Raditya kemudian.
"Yah, tentu saja. Sepertinya itu akan menyenangkan!" Kezia tampak sumringah.
"Kau tidak ingin menikah?" tanya Kezia kemudian dengan nada hati-hati.
"Jangan bahas itu, Kezi!"
" Tapi..."
"Sudahlah, jangan menasehatiku. Kau sendiri gagal nikah, " tukas Raditya, menyindir.
"Kenapa kau bicara seperti itu? Jahat!"
"Heakhhhh.....!" Raditya mendesah. Pusing juga sebenarnya ia memikirkan semua itu.
Selama ini Raditya hanya berpura-pura tidak peduli, dia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan untuk melupakan semua yang telah terjadi. Namun tidak bisa dipungkiri, hatinya masih sangat mencintai kekasihnya dan masih tidak bisa merelakannya. Raditya mengamati sebuah pigura di meja kerjanya. Tampak foto seorang gadis cantik yang sedang tersenyum, seakan setia menemani Raditya selama ini.
________
Sementara itu, di rumah keluarga Ananta, Cecilia sedang diintetogasi oleh ayahnya dengan belanjaan yang menumpuk memenuhi ruang tamu. Ayahnya mengira kalau Cecil sudah melakukan pemborosan dan menghamburkan uang seenaknya.
"Cecil, kau jangan kelewatan. Belanjaan sebanyak ini, mau buat apa? Kau harus sadar dengan kondisi keluarga ini! Meski kita mampu membayarnya, tapi ini namanya pemborosan. Ayah baru saja mengeluarkan banyak uang untuk membayar mobilmu," geram Bramantyo sambil melirik Cecil yang tengah asyik membongkar belanjaannya satu per satu.
Belum lama ini, Cecil baru saja meminta mobil sport yang cukup mahal sebagai hadiah ulang tahunnya. Bramantyo sempat berpikir beberapa kali, tidak terlalu antusias untuk memenuhi rengekan Cecil waktu itu, meski akhirnya dikabulkan juga.
Dan hari ini, Bramantyo hampir syok ketika beberapa mobil box datang mengantarkan belanjaan yang begitu banyak, berikut dengan pemilik tokonya yang ikut mengantar langsung dengan penuh rasa terima kasih. Bramantyo cukup familiar dengan pemilik toko itu, yang jika tidak salah ingat adalah pemilik toko pakaian dan perhiasan mewah.
Jelas, para pelanggan di toko itu adalah para pengusaha, pejabat dan artis. Bramantyo saja hanya sesekali berbelanja di toko tersebut. Bramantyo serasa mau pingsan, memikirkan harga yang harus Cecil keluarkan untuk membayar semua barang-barang mewah tersebut, yang ditaksir hampir mendekati harga sebuah mobil sport yang dibelinya.
"Aduh, Pa! Bisa gak, papa jangan menuduh orang sembarangan? Ini semua gratis! Cecil tidak mengeluarkan uang sepeser pun!" Cecil membela diri, tangannya mengeluarkan satu set perhiasan mahal nan mewah untuk ibunya.
"Ma, ini untuk mama!" katanya kemudian.
__ADS_1
Ibu Cecil terlihat berbinar, namun urung untuk mengekspresikannya karena takut dengan Bramantyo yang terlihat sangat geram.
"Apa maksudmu dengan gratis? Barang-barang mewah seperti ini, dan sebanyak ini, memangnya kau pikir bisa jatuh dari langit dengan begitu saja? Kamu jangan ngadi-ngadi, Cecil!"
setengah teriak, Bramantyo berusaha menahan ucapannya. "Ya, memang gratis. Ini hadiah dari seorang teman, Pa! Dia sangat kaya! Belanjaan segini, bagi dia hanya seperti membuang kentut!"
Cecilia terkekeh. Bramantyo dan istrinya terperangah, mereka hampir tersedak dengan ucapan putrinya yang asal nyeplos itu.
"Apa itu nak Roy, yang memberikan semua ini?" tanya ibunya, penasaran.
Roy adalah satu-satunya pemuda kaya yang ibu Cecilia kenal sering datang ke rumah untuk mengejar anaknya. Tapi entah mengapa, Cecilia tampak tidak tertarik dengan Roy.
"Hah? Siapa? Roy? Aduh, mama...! Mana mungkin bajingan tengik seperti dia bisa dibandingkan dengan keluarga Bramasta? Hadeuhhhhh...!"
"Apa!? Keluarga Bramasta?! Jadi semua ini dari keluarga Bramasta?" tanya Bramantyo.
"Ups!" Cecilia menutup bibirnya dengan kedua tangan, ia keceplosan.
Pasangan keluarga Ananta itu menatap Cecilia penuh selidik. Apakah yang dimaksud oleh putrinya adalah Bramasta yang merupakan keluarga kaya nomer satu di negeri ini, atau bukan?
"Cecil, coba jelaskan, apa maksud dari semua ini?" tatapan Bramantyo jadi semakin penuh curiga.
"Ehmm, itu... anu...Ah, sudahlah! Cĺecil mau tidur, ngantuk! Sudah ya, Pa, Ma, Cecil mau tidur dulu. Besok Cecil mau panggil para sepupu buat bagi-bagi hadiah!" Cecil bergegas masuk ke kamarnya setelah mencium pipi kedua orang tuanya.
Bramantyo dan istrinya saling pandang. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran mereka.
"Keluarga Bramasta? Apa maksudnya, putri kita sedang menjalin hubungan dengan Raditya Bramasta, pengusaha muda anak dari Bramasta Grup itu?" gumam istri Bramantyo.
"Pa, sepertinya kita akan dapat mantu orang kaya!" lanjutnya, binar kebahagiaan tidak lagi mampu disembunyikan di wajahnya.
"Ehm, masalah itu..." Bramantyo menarik nafas dalam. Dadanya bergemuruh. Ada sebuah harapan dalam hatinya, bahwa apa yang diucapkan istrinya itu benar. Namun, Bramantyo juga tidak ingin berspekulasi terlalu jauh hanya dengan mendengar ucapan Cecil yang ambigu itu. '
'Keluarga Bramasta ' , ' Seperti membuang kentut'. Ah, entahlah... Kata-kata itu terus terngiang di telinga Bramantyo
__ADS_1