Selepas Kau Pergi

Selepas Kau Pergi
22. Permainan Alma


__ADS_3

Alma bekerja seperti biasanya. Dia mengerjakan tugasnya dengan sangat baik hari ini. Saat Alma mengerjakan tugasnya, tiba-tiba Bara datang dan memeluk dirinya dari belakang. Pria itu tak kuasa menahan nafsunya lagi.


"Eh! Pak Bara!" Alma memekik kaget saat tangan Bara menyentuh bagian sensitifnya.


"I love you, Honey!" bisik Bara.


Alma menjadi merinding saat mendengar suara Bara.


"Jangan kayak gini, Pak. Ini masih di kantor. Bagaimana nanti kalau ada yang lihat?" Alma berusaha melepaskan tangan Bara dari tubuhnya.


"Biarkan saja. Aku sudah tak tahan lagi, Al!" Bara semakin berani menciumi leher Alma yang mulus.


"Pak, jangan begini. Ini masih di kantor. Saya nggak mau ada yang curiga dengan hubungan kita!" ucap Alma.


Dia masih berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Bara. Tapi Bara tak menghiraukan perkataannya. Tubuhnya sudah dikendalikan oleh nafsu yang tak berujung.


"Pak, tolong lepaskan atau saya akan teriak!" ancam Alma.


Bara menghentikan aksinya. Tapi dia tak melepaskan tubuh mungil Alma.


"Kenapa, Al? Bukannya kamu suka hal seperti ini?" ujar Bara.


Alma melepaskan tangan Bara. Dia menjauh sedikit dari Bara yang berusaha menjangkaunya lagi.


"Please! Ini masih di kantor. Aku nggak mau ada yang lihat ini. Aku nggak mau ada yang curiga dengan hubungan kita di masa lalu," ucap Alma.


Bara mendengus kesal mendengar jawaban Alma. Padahal nafsunya sudah tak tertahankan lagi. Tapi Alma menolaknya dengan sangat menyakitkan.


Tanpa berkata apapun juga, Bara keluar dari ruangan Alma dan melangkah menuju pantry. Di sana dia bisa melihat OG baru yang body-nya mirip Kim Kardashian.


Nasib baik berpihak pada Bara. Saat akan memasuki pantry, gadis itu juga akan ke pantry. Bara menatapnya dengan penuh nafsu. Dia menelisik tubuh gadis itu dari atas hingga bawah.


"Pak Bara!" ucap gadis itu.


Bara tersenyum penuh nafsu. Tanpa banyak biara lagi, dia menyeret tubuh gadis itu menuju pantry. Tanpa perlawanan, Bara berhasil membuat gadis itu menikmati permainannya. Dia berhasil menuntaskan nafsunya walaupun bukan dengan Alma.


Sementara itu, Amanda tengah bersiap untuk berangkat ke kantor Bara. Entah mengapa dia merasa ada yang tidak beres dengan sang suami.


"Mbak Penny, tolong jagain Fanni ya. Saya mau keluar sebentar. Makanannya udah saya siapin. Tinggal diangetin aja kalau mau makan. Terus ASI-nya udah ada di kulkas. Mbak Penny tinggal lihat tanggalnya dan jamnya ya!" ucap Amanda.


Wanita yang dipanggil mbak Penny itu mengangguk mengerti. Dia kemudian membawa Fanni masuk ke dalam kamarnya.


Setelah itu, Amanda segera keluar dari dalam rumah. Dia bergegas menuju mobilnya dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Perasaannya kacau saat ini. Tapi dia tak tahu apa yang terjadi.

__ADS_1


Tak berapa lama, dia telah sampai di kantor Bara. Para karyawan menyapa dengan hormat sang pemilik perusahaan itu.


"Alma!" panggil Amanda.


Alma menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Amanda.


"Eh! Selamat siang, Bu!" sapa Alma.


Amanda mengangguk. "Pak Bara ke mana?" tanya Amanda.


Alma mengerutkan keningnya. "Tadi ada di sini, Bu. Tapi saya nggak tahu lagi sekarang," jawab Alma.


Tanpa sadar Amanda berdecak. "Sekarang kamu mau ke mana?" tanyanya lagi.


"Mau ke pantry, Bu. Mau bikin kopi," jawab Alma.


"Kamu ikut saya ya. Bantuin saya nyariin Bara," ucapnya.


Alma tak bisa menolaknya. Walaupun dalam hati dia merasa kesal. Seharusnya kalau mau mencari Bara, Amanda bisa minta tolong pada security kantor, bukan padanya.


Alma mengikuti langkah Amanda menyisir satu demi satu ruangan yang ada di kantor itu. Tapi Bara belum juga di temukan. Hanya satu yang belum mereka periksa, pantry.


"Ke mana sih tuh orang!" kesal Amanda.


"Saya coba cari ke pantry ya, Bu!" ucap Alma.


"Huh! Enak aja nyuruh-nyuruh buat nyariin lakinya. Emang dia pikir, aku satpam apa? Dasar!" gerutu Alma.


Dia berjalan terus hingga sampai di depan pintu pantry. Saat akan membuka pintu, dia mendengar suara-suara menggelikan dari dalam. Ada suara laki-laki dan perempuan sedang... Ah! Kalian pasti tahu lah mereka sedang apa.


Alma menempelkan telinganya ke pintu. Dia mencoba mendengarkan lebih jelas lagi.


"Gimana Al? Udah ketemu?" Amanda tiba-tiba muncul dari belakang dan menegurnya.


Alma terlonjak kaget saat mendengar suara Amanda. "Be-belum, Bu," jawab Alma.


Amanda berdecak kesal. Tapi tiba-tiba dia berjalan menuju pintu pantry.


"Al, kamu dengar suara nggak? Kayak suara cewek sama cowok lagi---"


"Eng-enggak kok, Bu. Saya nggak dengar apa-apa. Ibu salah dengar kali," potong Alma cepat.


Amanda sudah akan menjawab ucapan Alma. Tapi dengan cepat Alma mengajaknya untuk beranjak dari sana.

__ADS_1


...****************...


Hari telah menjelang petang. Bagas tampak baru keluar dari kantornya. Dia mengedarkan pandangannya. Seolah sedang mencari seseorang.


"Biasanya jam segini, Alma juga baru pulang kantor. Dan dia pasti akan berjalan ke sini untuk mengambil motornya," gumam Bagas.


"Hah! Tapi sekarang, enggak ada lagi. Dia udah pergi dari tempat ini. Yah! Semoga dia bahagia dan sukses lah di tempat yang baru," gumamnya lagi.


Bagas meneruskan langkahnya menuju parkiran dengan kepala tertunduk. Saat sedang asik berjalan, tiba-tiba saja dia seperti menabrak seseorang.


"Kalau jalan, pandangannya itu lurus ke depan. Bukan nunduk aja. Enggak ada berlian jatuh kan?" tegur seseorang.


Bagas mengangkat kepalanya. Dia menatap orang itu dengan tatapan tak percaya.


"Alma!" pekiknya tertahan.


Alma tersenyum padanya. "Apa kabar, Gas?" Alma mengulurkan tangannya ke arah Bagas.


Bagas tersenyum sembari menerima uluran tangan Alma.


"Alma, kok bisa ada di sini?" tanyanya.


"Iya. Sekali-kali aku pengin jemput Garland. Tapi kayaknya dia belum keluar deh dari kantor," jawab Alma.


Mendengar nama Garland disebut, raut wajah Bagas seketika berubah. Ada raut kecewa saat Alma menyebut nama itu di depannya.


"Ooh! Gimana kerjaan kamu? Nyaman?" tanya Bagas.


Alma mengangguk. "Nyaman banget. Semua teman-teman di sana juga baik-baik."


Bagas menganggukkan kepalanya. "Alhamdulillah kalau gitu, Al. Aku ikut senang dengarnya," ucap Bagas.


Alma melirik jam tangannya. "Aku duluan ya, Gas. Kayaknya Garland udah keluar kantor. Lain kali kita ngobrol lagi ya," kata Alma.


Bagas mengacuhkan kedua jempolnya. Senyum juga terkembang di wajah tampannya.


"Kalau gitu, aku duluan ya. Bye!" ucap Alma. Kemudian dia berjalan menuju arah lain.


Bagas memperhatikan kepergian Alma dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bahagia dan juga kecewa yang bercampur jadi satu. Bagas menghela napas panjang. Kemudian dia melanjutkan langkahnya menuju parkiran.


Sementara itu, Alma tampak sedang menerima telepon dari seseorang.


"Ya, itu terserah kamu. Yang jelas aku udah nolongin kamu tadi," ucap Alma.

__ADS_1


"Iya sih. Tapi kalau---"


"Turuti apa mauku atau kubongkar semuanya!" ancamnya.


__ADS_2