
Kezia Alexandra Bramasta, anak kedua dari Rayhan Bramasta, pemilik Bramasta Grup, dia rela meninggalkan keluarganya, melepas status tinggi dan kehormatannya, demi mengejar cintanya.
Demi seorang Alan Pratama, CEO Pratama Corp. Seorang pria yang telah berhasil memikat hatinya, yang ia kejar semenjak mereka sama-sama duduk di bangku kuliah.
Berawal dari sebuah pertemuan, yang bisa dikatakan sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama. Zia begitu terpukau pada ketampanannya, pada sikapnya yang lumayan cool dan cuek. Berbeda dari kebanyakan pria pada umumnya, yang membuat Zia semakin penasaran dan greget saat melihatnya.
Hampir sepanjang hari, Zia menggoda dan mengganggunya, membuat Alan lama-lama jengah.
Namun sampai pada sebuah kejadian, akhirnya Zia mampu membuat hati seorang Alan Pratama luluh. Dan, mereka pun resmi pacaran hingga lulus kuliah dan memutuskan untuk bertunangan.
Meski keluarga Alan awalnya tidak menyetujui pertunangan tersebut, karena Zia dianggap tidak jelas asal-usulnya, tidak sederajat! Namun Alan mampu meyakinkan mereka.
Dan akhirnya Zia diterima bahkan Alan jadikan sekretaris pribadi di kantornya. Dua tahun, Zia membantu Alan yang waktu itu berstatuskan CEO yang baru menjabat, menggantikan ayahnya yang mendadak terkena struk di kala perusahaannya hampir mengalami kebangkrutan.
Dua tahun, Zia bekerja keras membantu Alan, membuat Pratama Corp berjaya dan semakin bersinar, merebut posisi perusahaan nomer satu di kota A.
Dua tahun, Zia membantu Alan menyingkirkan pesaing-pesaing bisnisnya, memotivasi Alan hingga Alan mendapatkan kepercayaan dirinya.
Semua itu, Zia lakukan dengan senang hati, hanya demi pujaan hati yang ia harap akan jadi pendamping hidup untuk selamanya.
Tapi.....
Green Gardens Village
Kezia memasuki kompleks perumahan elit yang hanya dimiliki oleh orang-orang kaya dan berpengaruh, bahkan jika kamu orang kaya namun tidak memiliki koneksi yang kuat, belum tentu bisa tinggal di tempat tersebut. Zia memarkir mobilnya di depan sebuah bangunan yang cukup megah. Itu adalah cluster nomer satu dan yang termewah di bloknya, luas tanahnya saja sekitar dua hektar.
Hanya satu hal yang membuat Zia kembali ke rumah itu. Album kenangan dan beberapa berkas penting yang ia simpan, ia ingin membawanya pergi bersama.
Farhan Pratama, yang menyaksikan tindakan Zia dari kursi roda, merasakan gelagat yang tidak baik. Dengan susah payah, Farhan menarik pergelangan tangan Zia saat melintas di depannya.
Zia yang sedari tadi tidak terlalu memperhatikan, karena fokusnya hanya pada apa yang ia cari, menoleh ke arah orang tua itu. Tampak raut wajah memelas, bahkan air matanya hampir tumpah, menatap penuh harap pada Zia.
Meski awalnya Farhan tidak merestui pertunangan putranya, tapi saat ia terkena struk, Zia telah begitu telaten merawatnya. Sejak saat itu, Farhan telah mengubah pandangannya tentang gadis ini.
" Sudah mau pergikah? "
Meski bibirnya tidak mampu berucap, tapi itulah yang tersirat dalam tatapan mata Farhan. Hatinya senantiasa merasa tidak tenang. Semua penghinaan dan penderitaan yang dialami Zia di rumah itu, Farhan adalah saksinya. Ia telah melihat, siapa orang yang benar-benar tulus dan siapa yang bersandiwara. Semua kebenaran yang ia terlambat menyadari, bahkan Alan pun belum menyadarinya. Dalam sakit yang di deritanya, Farhan selalu menyalahkan diri sendiri.
Farhan sadar, cepat atau lambat, Zia pasti akan pergi dari rumah, meski dirinya berharap hal itu tidak akan pernah terjadi.
Zia bersimpuh d hadapan pria tua itu, menggenggam tangannya erat-erat.
" Maaf! " gumam Zia, tanpa terasa air mata jatuh dari sudut matanya.
" Jangan pergi! Aku mohon, jangan tinggalkan putraku! "
__ADS_1
Perasaan Zia semakin membuncah, bukan air mata lagi yang jatuh, tapi tangis yang berurai.
" Tidak...! " Zia menggelengkan kepala.
" Aku benar-benar sudah tidak kuat! " lanjutnya.
Farhan meneteskan tangis, tak kuasa ia memandang kepergian Zia. Perasaannya membuncah, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
" Hey, gadis miskin! Apa yang sedang kamu lakukan hah? "
Zia berpapasan dengan nyonya rumah, Teresa Permadi, saat ia melewati ruang tamu. Teresa melirik tangan Zia yang membawa beberapa lembar dokumen. Terlihat kecurigaan yang dalam di manik matanya.
" Apa yang hendak kamu lakukan dengan berkas-berkas itu? Apa kau ingin mencurinya? "
" Ini berkas milikku sendiri, kenapa aku harus mencurinya? " sahut Zia, jengah.
" Heh... Siapa yang tahu? Gadis miskin sepertimu, apalagi yang bisa dilakukan selain merayu pria kaya dan menguasai semua aset yang kami miliki? Apa kau pikir, tipuan murahan seperti itu dapat mengelabui kami, hah? "
" Nyonya Teresa yang terhormat, apakah cuma itu yang ada dalam pikiranmu, hah? Kenapa seluruh pikiranmu hanya berisi sampah?"
Deg!
Teresa terhenyak! Di masa lalu, Zia tidak akan pernah berani menjawab, apalagi membantah.
" K- Kau...beraninya kau membantahku. Apa kau sadar posisimu hah? Kalau bukan kami yang berbelas kasih untuk menarikmu dari jalanan, apa kau pikir kau bisa tinggal di rumah mewah dan menikmati fasilitas orang kaya? "
" Berhenti menyebutku pelacur....! " sergah Zia.
" Daripada memakiku, kenapa kalian tidak mengambil cermin dan berkaca? Lihatlah baik-baik, siapa yang pantas untuk di sebut pelacur? "
" K- Kau... beraninya kau! " Chika melayangkan tangannya, hendak menampar Zia. Namun Zia berhasil menghindar dan membuat Chika terperosok jatuh.
" Dasar jal*ng! Beraninya kau...! " Teresa histeris. Dia langsung bergegas memapah Chika dan membantunya berdiri.
" Hey, hey...Ada apa ini ribut-ribut? "
Anton Permadi, saudara tiri Alan, yang baru saja memasuki rumah sambil bersenandung, memainkan kunci mobil di jarinya, datang menghampiri.
" Anton, cepat hajar pelacur itu! Usir dia dari sini! " teriak Teresa.
Sambil bersiul, Anton mendekati Zia, tatapan matanya yang cabul memandangi Zia dari atas hingga bawah. Dari awal, dia tidak pernah berhenti mengagumi kecantikannya. Hanya saja, nasib tidak memihaknya. Anton selalu merasa kesal, saat berkali-kali mendapat penolakan untuk mengajak Zia ke tempat tidur.
" Hey, gadis miskin! Selain tubuh dan wajahmu yang menggiurkan, kau ini hanyalah sampah. Kenapa kau begitu sombong, hah? " Anton Permadi mondar-mandir di hadapan Zia, berlagak paling berkuasa dengan tatapan mata cabulnya.
Zia hanya melirik sadis, lalu membuang muka. Dia benar-benar jijik dengan manusia satu ini.
__ADS_1
" Minggir! " bentak Zia.
" Hey, sikap macam apa itu? Apa kau ingin diusir dari sini hah? " Anton naik pitam, mencekik leher Zia.
" Anton, cepat usir dia, lempar dia ke jalanan! " teriak Teresa, sangat tidak sabar.
" Nah, kau dengar itu? Sayang sekali bukan, jika kulitmu yang mulus ini harus terkena debu karena menjadi seorang gelandangan? "
Anton berusaha menyentuh wajah Zia, tapi Zia menepisnya.
" Heh, jangan begitu galak! Bagaimana kalau malam ini kita pergi ke hotel, biar kamu bisa fresh. Aku tahu, kamu pasti lelah menghadapi nyonya tua ini! " bisik Anton di telinga Zia.
Zia meronta, berusaha melepaskan cekikan tangan Anton.
" Hmm, kamu benar-benar galak ya? Aku suka, sangat suka. Kamu pasti sangat liar di ranjang, aku benar-benar tidak bisa membayangkan...!"
" Buk! "
Tidak perlu kompromi lagi, Zia langsung menendang selangkang*an Anton.
" Huaaaa, kurang ajaaaaarrr.. ! Dasar perempuan tidak tahu diri, kubunuh kau! " Anton berteriak kesakitan.
Anton mengepalkan tinju hendak memukul Zia, tapi Zia mengambil kursi dan dihantamkannya ke wajah Anton.
Anton terhuyung, Zia tidak menyia-nyiakan kesempatan, menendang perut Anton, dan beberapa kali menginjak-injaknya.
" Kurang ajar! Brengsek! Ibu...! " rengek Anton.
" Dasar pelacur tidak tahu diri! Pergi kau dari sini! " Teresa meraung.
Zia mendekati Teresa, menatapnya penuh dendam. Teresa sempat bergidik, gadis yang selama ini dia bully habis-habisan, gadis yang selama ini terlihat lemah dan selalu menurut, kini ia sudah kehilangan kendali atas dirinya.
" Kau tidak usah repot-repot mengusirku. Tanpa kau usir pun, aku akan pergi dari sini. Bahkan jika kau berlutut dan memohon untukku kembali, aku tidak akan pernah sudi menginjakkan kaki di rumah pelacur sepertimu! "
Zia berbalik, kemudian bergegas pergi. Terlalu buang-buang waktu, berdebat dengan sampah seperti mereka.
Zia pun melenggang ke luar rumah, saat itu Alan baru saja turun dari mobilnya. Teresa tergopoh-gopoh menyusul Kezia dan berteriak,
" Jika kau ingin pergi, maka pergilah. Tapi tinggalkan semua yang kau bawa, kau tidak berhak membawa apapun dari sini! " teriak Teresa dari ambang pintu.
'Deg'
Teresa terkejut, tidak menyangka kalau ternyata Alan pun menyusul pulang ke rumah. Segera, rubah licik itu memasang muka iba, menghampiri Alan dan memainkan drama.
" Nak, putraku sayang, tolong bujuk Zia nak, jangan biarkan dia pergi. Ibu mohon! "
__ADS_1
Alan mencoba mencerna situasi yang terjadi, menatap Teresa, kemudian mengalihkan pandangan pada Kezia.