
Waktu sudah menjelang sore,
Setelah puas berkeliling dan tangan mereka pun penuh dengan belanjaan, Kezia pun akhirnya mengajak Cecil mengunjungi rumahnya.
Cecilia tidak henti-hentinya mengungkapkan kekaguman. Sebuah bangunan megah, yang bagi Cecil ini lebih mirip istana meski dia pun seorang putri kaya, dengan kolam renang yang luas, ruang gym, ruang musik, ruang balet, bahkan memiliki lapangan golf pribadi, Cecilia benar-benar terpukau. Di sebuah garasi luas yang lebih mirip dengan showroom, berderet mobil mewah, menambah kekaguman Cecil.
Bahkan ada helikopter pribadi, mendadak Cecilia merasa pusing. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Hampir saja pingsan.
Belum lagi sikap para pelayan yang begitu hormat padanya, membuat pikiran Cecil dipenuhi dengan banyak pertanyaan.
" Ke, Kezi... Ini semua...? "
" Milikku! " potong Kezia
Skak Mat!
Cecil benar-benar syok! Kezia hanya tersenyum.
" Hahaha, aku bercanda! " ujar Kezia kemudian.
Cecil membelalak! Tapi kemudian, ia menghembuskan nafas lega.
" Becandamu sangat tidak lucu. Kau tahu, aku hampir pingsan melihat semua ini. Huft...! " gerutu Cecil, Kezia hanya terkekeh.
" Aku selalu khawatir padamu. Semua orang bilang kalau kau punya seorang sugar daddy. Kezi, kita boleh miskin, tapi kita tidak akan menjual harga diri. Setidaknya, itu yang diajarkan oleh ayahku! "
" Jadi... ? " Kezia menatap Cecil dengan raut wajah meledek.
Cecil balik menatap penuh heran, ia merasa prihatin dengan sahabatnya itu.
" Aku harap, apa yang dituduhkan oleh orang-orang itu tidak benar. " Cecil merembes, matanya mulai berkaca-kaca.
Kezia memeluknya.
" Huaaa, Kezi... aku tidak tahu darimana kau mendapatkan uang pada malam itu, juga kartu sakti yang kau gunakan. Ada desas-desus bahwa kau memiliki sebuah ' hubungan ' dengan keluarga Bramasta, pria yang menjemputmu dengan helikopter. Dia mirip dengan seseorang... " Cecil terisak dalam pelukan Kezia.
Biar bagaimanapun, Cecil tidak bisa menduga bahwa Kezia adalah seorang putri kaya. Dia sangat mengenal Kezia semenjak kuliah. Bahkan untuk keperluan kuliah saja, terkadang Kezia harus kerja sambilan di kafe, entah jadi tukang pel atau tukang cuci piring.
Cecil hanya bisa menguatkan hatinya, untuk bisa menerima kenyataan, apabila ternyata Kezia menjadi peliharaan seorang sugar daddy.
" Benar! Semua yang kamu lihat tadi, itu milik keluarga Bramasta! "
' Deg! ' Cecil benar-benar tertohok!
" Kezi... kau? "
" Ah, sialll! Hampir saja aku boyah! " tiba-tiba Rayhan Bramasta berjalan di hadapan mereka. Dia tampak asyik dengan handphone di tangannya. Tidak memperhatikan Kezia dan Cecil sama sekali.
" Hahahahaha, Ray tua, kau benar-benar payah. Mungkin kau perlu bertapa dulu, baru bisa boyah! Wkwkwk" terdengar suara anak kecil dari loudspeaker handphone-nya, mengejek.
" Heh, bocil. Tutup mulutmu! Kali ini aku pasti akan mengalahkanmu! "
Cecil melongo.
" Kezia, bukankah dia...? "
" Rayhan Bramasta! " tandas Kezia.
Dalam benak Cecil, sudah tergambar bahwa Kezia menjadi simpanan seorang pria tua kaya. Hatinya merasa teriris membayangkan kehidupan sahabatnya itu.
" Ja...jadi, benar kalau kau...? "
Kezia tersenyum, lalu memanggil Rayhan.
" Ayah! "
" A...ayah?! " Cecil terkejut.
__ADS_1
Cecil semakin bingung. Ayah! Kezia memanggil orang terkaya di negara ini dengan sebutan ayah? Sejenak, Cecil merasa kalau kepalanya berputar-putar. Dan yang tidak Cecil habis pikir, kenapa seorang Rayhan Bramasta yang sangat berpengaruh itu memiliki hobi aneh, bermain game Free Fire dengan seorang bocil.
" Ah, Kezi! Ternyata kau ada di rumah! " Rayhan hanya menoleh sekilas, kemudian kembali asyik dengan handphone-nya.
" Aku membawa seorang teman! "
" Oh? " Rayhan berhenti dan berbalik. Barulah saat ini dia benar-benar melihat Cecil dengan serius.
" Hmm, gadis yang cantik ! Halo! " Rayhan mengulurkan tangannya pada Cecil.
Cecil menyambut uluran tangan Rayhan dengan gemetar untuk menyalaminya.
" Ha... halo! "
" Senang berkenalan dengan gadis cantik sepertimu, ehm nona...? "
" Cecilia Ananta! " Cecil tersipu.
" Oh ya, nona Ananta. Aku akan mengingatnya! "
" Sa...saya juga senang berkenalan dengan anda, Tuan! "
" Paman. Panggil saja seperti itu, kau tidak perlu sungkan. Anggap saja di rumah sendiri. " Rayhan tersenyum hangat, raut wajahnya menunjukkan sebuah ketulusan.
Dada Cecil bergemuruh hebat. Baginya, ini benar-benar seperti mimpi. Cecil kehabisan kata-kata.
" Ehm, baiklah. Aku akan memanggil Luna. Kezi, kau harus melayani nona Ananta dengan baik! "
Rayhan pun berlalu untuk mencari Luna. Akhirnya, Kezia mengajak Cecil ke kamarnya yang luasnya... Ah, bagi Kezia itu hanya sebuah kamar, tapi bagi Cecil itu adalah sebuah apartemen.
" Kezi, aku benar-benar masih belum mengerti..."
Ada gejolak yang sangat dahsyat dalam diri Cecilia. Sangat sulit baginya untuk menerima kenyataan. Rayhan Bramasta, orang terkaya di negara ini. Dan Kezia, temannya yang selama ini dianggap miskin, meski Cecil tidak pernah memperlakukan Kezia dengan tidak baik seperti orang-orang, dengan jelas dan gamblang, memanggil Rayhan dengan sebutan ayah.
Pikiran Cecil berkecamuk, ia mulai mempertanyakan dirinya. Siapa dia? Bahkan dalam mimpi pun, dia tidak pernah membayangkan bisa berkenalan dengan tokoh besar seperti Rayhan Bramasta.
" Kau menyembunyikan rahasia sebesar ini, kau pembohong! " sentak Cecil, air mata hampir menetes di sudut matanya, penuh kemarahan.
Kezia cukup terkejut dengan perubahan sikap Cecil.
" Huft...! " Kezia membalikkan badan, menatap keluar jendela.
" Mungkin bagimu itu tidak penting, tapi bagiku...hiks! Kau tahu, aku benar-benar merasa sangat rendah sekarang? "
" Siapalah aku? Siapakah keluarga Ananta? Keluarga kecil kami, mana bisa dibandingkan dengan keluargamu. Tidak seharusnya aku berada di sini. Tidak, bahkan seharusnya aku tidak pantas berteman denganmu! "
" Tidak? Kenapa tidak? " Kezia berbalik, bersedekap, menatap geram pada Cecil.
" Tentu saja tidak! Kenapa kau masih belum mengerti ? Kita ini tidak..."
" Tidak sederajat ! " tukas Kezia, sarkas.
Cecilia tercekat !
" Bu...bukan begitu. Aku tidak bermaksud...! "
Cecilia merasa serba salah sekarang. Bukankah seharusnya dia senang, dengan status Kezia sekarang? Bukankah seharusnya dia senang, karena tidak akan ada lagi orang yang menghina sahabatnya?
' Ah, emosi sesaat ini... apa yang sebenarnya aku pikirkan ? '
Cecilia tidak berhenti merutuki kebodohan dirinya.
" Aku benar-benar telah salah menilaimu. Sudah terlalu memandang tinggi dirimu. Aku pikir, kau berbeda dengan yang lain, ternyata sama saja. Menjadikan status sosial sebagai tolak ukur di dalam pertemanan...! Nona Ananta, aku sangat kecewa padamu ! "
Wajah Cecilia semakin tidak karuan. Ia meremas gaunnya, hatinya benar-benar diliputi rasa bersalah.
" Tolong jangan berkata seperti itu! Aku hanya merasa..."
__ADS_1
" Apa yang pantas dan tidak pantas? Siapa yang memberikan batasan itu? Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran orang-orang. Apakah di dunia ini, benar-benar sudah tidak ada ketulusan ? " sarkas Kezia lagi.
" Tentu saja aku tulus padamu. Aku hanya..."
" Kalau begitu, jangan bahas ini lagi. Ok?! "
" M..mm..maaf! " Cecilia menunduk haru. Kezia berjalan mendekat dan memeluknya.
Cecil tidak bisa lagi membendung air matanya yang mulai merembes. Ada rasa bersalah, menghakimi Kezia tanpa tahu alasannya.
" Aku harap, selamanya bisa berteman denganmu... Tanpa melihat status sosial di antara kita. " pinta Kezia.
" Kezi, maafkan aku. Aku sudah berpikir buruk tentangmu. "
Kezia melepaskan pelukannya dan tersenyum. Pada saat itu, Luna datang dan membuyarkan suasana haru di ruangan tersebut.
" Nona, hidangan sudah siap ! "
Kedatangan Luna yang ceria, akhirnya bisa mencairkan suasana yang kaku di antara dua sahabat itu.
Dan, suasana makan malam di Bramasta mansion pun terasa sangat nikmat dan penuh kehangatan. Cecil benar-benar merasa sangat tersanjung dengan keramah-tamahan penghuni rumah itu. Terlebih, saat Cecil dikenalkan dengan Raditya. Ia benar-benar terpesona ! Sayangnya, Raditya hanya menyapa dan berbicara seperlunya saja, sikapnya sangat dingin. Berbeda dengan Rayhan yang penuh canda dan hangat.
Berkali-kali Cecil berusaha mencuri pandang pada Raditya, Kezia tersenyum. Rasa takjub Cecil akhirnya terbuyarkan saat Kezia menyikut siku tangannya.
" Biasa aja lihatnya! " sindir Kezia sambil berbisik.
" Ish, kamu apa-apaan sih? " Cecil tersipu.
" Aku sih, ga keberatan. Hanya saja, dia sulit untuk ditaklukan ! "
" Au ahh, siapa juga yang naksir? " tanpa sadar, Cecil mengakui perasaannya.
" Kamulah ! Tuh, barusan ngaku! " goda Kezia.
Cecil yang baru saja menyesap minumannya, langsung tersedak.
Pada saat itu, Raditya menoleh. Cecil jadi semakin salah tingkah. Rayhan hanya tersenyum.
" Ma... maaf! Saya sungguh minta maaf, saya mau ke toilet sebentar! Permisi. "
Cecil merasa sangat malu. Bergegas ia pergi ke toilet untuk menyembunyikan diri. Debar jantung yang begitu bergemuruh tidak mampu lagi di tahannya. Berkali-kali ia menarik nafas untuk menstabilkan perasaannya. Meski begitu, bayangan wajah Raditya masih terus saja muncul. Ah...!
Kezia tersenyum geli. Raditya kembali menyantap makanan dengan acuh. Wajahnya benar-benar tanpa ekspresi. Sungguh, ketenangan yang langka.
" Ah, rumah ini kenapa sepi sekali. Kezi, apa kau mendengar suara anak-anak di sini? " celoteh Rayhan.
" Tidak ada, Yah! Mungkin itu suara bocil FF teman mabar Ayah! " cengir Kezia sambil melirik Raditya.
" Oh, Ayah pikir akan ada malaikat kecil yang bersedia kutimang jadi cucu, "
" Maaf, Ayah. Kezi gagal nikah, jadi belum bisa membahagiakan Ayah! "
Wajah Kezia terkesan sedih dengan gaya yang dibuat-buat. Ujung matanya melirik Raditya.
" Jangan dibahas lagi Kezi, Ayah maklum dengan kondisimu. Setidaknya, kau sudah berusaha. " Rayhan juga terlihat pura-pura muram.
" Ayah hanya khawatir, jagoan Ayah jadi bujang lapuk! Ayah juga ingin menyantap masakan menantu perempuan di rumah ini. Kau tahu, masakan Luna itu tidak enak! "
' Hachi! ' Di ruangan lain, Luna mendadak bersin.
' Ting! ' Raditya meletakkan sendok di piring. Ia menyudahi makan malamnya dengan menyeka mulutnya menggunakan tisu.
" Masakan Luna enak kok! Gak kalah sama Chef internasional. Mungkin mulut ayah saja yang sedang bermasalah, " sindir Raditya sambil berdiri dan berlalu pergi.
" Heh, Tuan Radit, Ayah belum selesai bicara ! " Rayhan tampak kesal.
" Sabar, Ayah! " Kezia tersenyum manja.
__ADS_1
" Huh, kapan Ayahmu ini bisa menimang cucu? " sungut Rayhan.