
Mia sedikit terkejut saat mendengar suara berat itu. Walaupun dia sudah seringkali bertemu dengan si pemilik suara, tapi tetap saja dia terkejut saat mendengar suara berat itu.
"Kamu sudah datang rupanya," ulangnya sekali lagi.
"Su-sudah, Tuan," jawab Mia tergagap.
Pria itu tersenyum miring. Dia lantas bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekat ke arah Mia.
"Aku butuh kamu sekarang. Kamu harus bisa memuaskan diriku malam ini." Dia berucap sembari mencengkeram rahang Mia dengan erat.
Mia menelan salivanya dengan kasar. Dia tahu arti kata memuaskan. Dia harus bersiap main tanpa jeda malam ini.
Gadis berparas cantik itu hanya menganggukkan kepalanya.
Pria itu tersenyum. "Bagus! Selama kamu mau menuruti apa kataku, kamu akan berlimpah materi. Tapi sekali kamu bikin aku kecewa, bersiaplah untuk pergi ke neraka," ancamnya.
Mia semakin gemetaran. Dia merasa takut saat mendengar ancaman pria itu.
"Sekarang ganti pakaianmu. Aku muak melihatmu memakai pakaian ini!" Dia melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Hampir saja Mia terjengkang ke belakang.
Mia menganggukkan kepalanya. Dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan segera berganti pakaian yang telah disediakan di sana.
Sementara itu, Garland tampak sedang mengunjungi Alma. Pemuda itu duduk di gazebo yang ada di depan rumah sang kekasih.
"Aku minta maaf sama kamu. Aku nggak bisa nganterin kamu kerja tadi pagi," ucap Garland.
"Iya nggak apa-apa," jawab Alma pendek.
Garland menghela napas panjang. Dia tahu Alma masih menyimpan rasa kesal padanya. Makanya dia harus berhati-hati dalam berbicara. Jika tidak, dirinya akan menemui kesulitan.
"Maaf juga karena semalam aku ikut---"
"Ikut party dan minum sampai mabok," potong Alma cepat. Matanya menatap tajam ke arah Garland.
Garland membelalakkan matanya. Dia heran darimana Alma tahu tentang kejadian semalam.
"Enggak usah tanya aku tahu darimana. Mata-mataku banyak dan ada di mana-mana." Alma menunjukkan foto dan video yang dia dapat sore tadi.
Garland semakin terdiam. Dia tak percaya ada yang mengirimkan foto dan video itu pada Alma.
"Maafin aku, Al. Aku nggak sengaja minum. Aku---"
__ADS_1
Alma mengangkat sebelah tangannya. Dia tak ingin Garland menjelaskan sesuatu padanya. Dia juga sudah tak ingin mendengar apapun juga dari kekasihnya itu.
"Kamu nggak perlu jelasin semuanya. Aku nggak marah sama kamu. Tapi aku kecewa sama kamu. Kamu udah pernah janji nggak bakalan mabuk-mabukan lagi. Tapi nyatanya kamu ngulangin lagi."
Air mata Alma berjatuhan saat dirinya mengatakan itu. Melihat itu, Garland semakin merasa bersalah. Dia merasa telah membuat hati wanitanya hancur.
"Maafin aku, Al. Maafin aku!" ucapnya.
"Aku janji nggak bakalan kayak gitu lagi. Aku janji," lanjutnya.
Alma memejamkan matanya. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan.
"Berhenti minum-minuman. Berhenti mabuk-mabukan. Kalau kamu bisa melakukan itu, aku akan memaafkan kamu. Aku nggak akan mengungkit masalah ini. Aku akan menganggap ini semua nggak pernah terjadi," ucap Alma akhirnya.
...****************...
Pagi datang menjelang. Mia masih tergolek tak berdaya di atas pembaringan seorang diri. Dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Semalam, pria itu terus memintanya untuk melayaninya. Tak sedikitpun pria itu memberikan waktu istirahat untuknya.
"Iiisssshhh... Aaawww...," pekiknya saat merasakan perih di bagian kewanitaannya.
Mia berusaha untuk bangkit dari tidurnya. Dia duduk di atas ranjang. Masih dengan selimut yang membalut tubuhnya. Dia menyibak selimutnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat kakinya penuh luka lebam.
"Aaawww! Aaahhh! Sakit banget." Mia berucap sembari mencoba menyentuh lebam itu.
Di tempat lain, Andi dan Destyan sedang menunggu kedatangan Mia di tempat biasa mereka berkumpul.
"Mia ke mana sih? Kok jam segini belum datang juga?" keluh Destyan.
"Sabar. Dia masih di jalan mungkin," ucap Andi.
Destyan menatap sang kekasih dengan lirikan tajam. "Dari tadi masak nggak sampai-sampai. Udah sejam lho kita nungguin di sini," sahut Destyan.
"Iya sabar dulu. Mungkin masih kejebak macet dia. Makanya telat," kata Andi lagi.
Destyan berdecak kesal. Dia merasa heran, rakyat biasanya Mia seperti ini. Tak biasanya Mia terlambat sampai seperti ini.
"Sarapan dulu ya!" Andi menyodorkan piring berisi nasi lengkap dengan lauknya pada Destyan.
Mata Destyan berbinar kala melihat piring itu. Tanpa banyak bicara lagi, dia langsung melahap isi piring itu tanpa ampun.
Di kantor Bara, Alma tampak sedang menyiapkan berkas untuk meeting. Yah! Tiada hari tanpa meeting. Kadang membuat Alma jenuh dan lelah. Tapi dia harus bekerja secara profesional. Dia tak boleh mengeluh walaupun sedang lelah.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, Alma segera keluar dari ruangannya. Dia berjalan menuju ruangan Bara yang terletak berseberangan dengan ruangannya.
Alma mengetuk pintu dan mengucapkan salam saat akan memasuki ruangan bosnya itu.
"Permisi, Pak! Saya---"
Ucapan Alma terhenti kala melihat sesuatu yang membuatnya mual. Dia buru-buru membalikkan badan dan tanpa banyak bicara dia segera keluar dari dalam ruangan itu.
"S****n! Dia ngajak gue balikan lagi. Ngakak gue pacaran lagi. Tapi dia masih juga jajan di luar," umpat Alma.
Wajahnya terlihat menahan kesal sejak keluar dari ruangan sang bos.
"Hayo lho kenapa manyun aja?" tegur seseorang dari belakang.
Alma terlonjak kaget mendengar teguran itu. "Eh Mas Ferdy! Bikin kaget aja deh," ucap Alma.
Pemuda yang dipanggil Ferdy itu tersenyum melihat ekspresi kaget yang ditunjukkan oleh Alma.
"Lagi manyun aja udah cantik. Apalagi kalau nggak manyun. Pasti cantiknya nambah deh," goda Ferdy.
Wajah Alma memerah mendengar itu. "Pagi-pagi udah gombal aja deh Mas Ferdy ini," ucap Alma.
"Waduh-waduh! Pagi-pagi sudah pacaran ya kalian," tegur seseorang yang baru saja masuk.
Alma dan Ferdy menoleh ke belakang. "Eh, Bu Amanda. Selamat pagi, Bu." Ferdy sedikit membungkukkan badannya saat menyapa istri dari bosnya itu.
Alma juga melakukan hal yang sama. Dia menyapa sembari sedikit membungkukkan badannya.
"Pak Bara ada di ruangannya, Al?" tanya Amanda.
Nadanya terdengar ketus dan dingin. Tapi tersirat kelembutan dalam nada suara perempuan cantik itu.
"Saya nggak tahu, Bu. Saya baru aja mau ke ruangannya," jawab Alma.
Suara Alam terdengar bergetar karena gugup. Dia tak mungkin mengatakan jika Bara sedang di dalam. Karena dia yakin, pasti akan terjadi pertengkaran hebat.
"Kamu kan sekretarisnya. Masak bosnya pergi kamu nggak tahu?" ujar Amanda.
"Maaf, Bu. Saya memang nggak tahu. Soalnya saya dari tadi sibuk mempersiapkan bahan untuk meeting pagi ini, Bu," jelas Alma.
Amanda manggut-manggut mendengar penjelasan Alma. Tanpa banyak bicara lagi, Amanda berlalu dari hadapan Alma dan Ferdy. Perempuan itu berjalan menuju ruangan sang suami.
__ADS_1
Alma menahan napasnya saat tangan Amanda mulai memutar knop pintu ruangan itu. Dia berharap ada yang menghentikan aksi Amanda. Tapi sepertinya doanya tak terkabul. Amanda membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan sang suami.
Amanda membelalakkan matanya ketika dia melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Tubuhnya membeku di tempat. Matanya terkunci pada sang suami yang sedang duduk di kursi kebesarannya.