
Garland tampak gelisah. Pikirannya terus tertuju pada Alma. Seolah ada yang terjadi dengan kekasihnya itu.
"Kenapa Land?" tanya Gerry.
Garland menoleh sekilas. "Enggak tahu nih. Gue kepikiran terus sama Alma," jawab Garland.
"Elo balik duluan aja kalau gitu. Lagian kan ini udah jam pulang kantor kan?" ujar Gerry.
"Tapi kerjaan gue masih banyak. Gue nggak bisa ninggalin gitu aja," sahut Garland.
"Elo tenang aja. Biar gue yang selesain kerjaan lo. Lagian ini kan juga kerjaan gue, Land."
Garland berpikir sejenak. "Elo nggak apa-apa gue tinggal, Ger?" tanya Garland.
"Enggak. Santai aja. Elo balik gih. Kasihan kan Alma nungguin elo di kantornya," jawab Gerry.
"Oke deh. Gue balik duluan ya." Garland berkata sembari membereskan meja kerjanya.
Saat Garland tengah membereskan mejanya, ponselnya berdering nyaring. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, dia mengangkatnya.
"Kamu lagi di mana? Cepetan balik! Ada orang teriak-teriak di rumah kamu," ucap Mayang di seberang telepon.
Garland mengerutkan keningnya. Dia tak percaya begitu saja perkataan Mayang.
"Jangan becanda deh lo! Ini cuman akal-akalan elo aja kan? Iya kan?" tanya Garland.
"Enggak, Land. Aku nggak bohong. Aku---"
Ucapan Mayang terpotong kala mendengar seseorang berteriak-teriak lagi dari dalam rumah Garland. Garland membelalakkan matanya saat mendengar teriakan itu.
"Alma!" gumamnya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Garland segera mematikan teleponnya dan berlari menuju tempat parkir. Gerry yang melihat itu segera berlari menyusul Garland.
"Ada apa?" tanya Gerry saat dia berhasil mengejar Garland.
"Alma... Dia... dia...."
"Gue anterin lo! Elo nggak bisa nyetir dalam keadaan begini," ucap Gerry tanpa menunggu Garland menyelesaikan kalimatnya.
Garland menganggukkan kepalanya. Dia lantas memberikan kunci motornya pada Gerry. Gerry segera melajukan motornya begitu Garland naik ke boncengan. Dia mengemudikannya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Tak berapa lama, mereka telah sampai di depan rumah Garland. Di sana ada Mayang yang berusaha membuka pintu depan rumah itu yang tampaknya terkunci dari dalam.
"Dobrak aja, Land. Kasihan Alma!" saran Gerry.
Garland mendobrak pintu itu. Usaha pertama tak membuahkan hasil. Pintunya masih tak terbuka. Namun pada percobaan ketiga, usahanya berhasil. Pintu berhasil terbuka.
Garland segera masuk ke dalam rumah dan memanggil-manggil nama Alma.
Di dalam kamar, Alma terus memberontak. Dia berusaha melepaskan diri dari orang itu. Karena terus memberontak, orang itu kemudian memukul kepala Alma dengan tangannya hingga pingsan.
"Nah, dengan begini aku bisa menikmati tubuh moleknya." Orang itu berucap sambil menyeringai penuh nafsu.
Dia melepaskan seluruh pakaian yang dikenakan Alma. Kemudian dia meraba tubuh mulus itu dengan tangan kasarnya. Saat dirinya akan menggerayangi tubuh Alma lebih jauh tiba-tiba....
"DASAR B******N! B****B LO!" Sebuah bogem mentah melayang ke wajah orang itu tanpa basa basi.
Garland menghajar ayahnya seperti orang kesetanan. Dia tak peduli lagi pada orang yang berstatus sebagai ayahnya itu.
Gerry yang melihat itu segera menarik tubuh Garland agar menjauh dari ayahnya.
"LEPASIN! LEPASIN GUE! BIAR GUE HABISI B******N INI!" teriaknya.
"Land, udah! Mending elo tolongin Alma. Bawa dia ke rumah sakit. Biar gue yang urus orang ini dan bawa dia ke kantor polisi," ucap Gerry.
__ADS_1
Akhirnya Gerry berhasil membuat Garland menjauh dari ayahnya. Dia kemudian membawa ayah Garland ke kantor polisi bersama dengan Mayang.
...****************...
Satu minggu berlalu sejak peristiwa mengerikan itu. Alma sudah kembali beraktivitas seperti biasanya. Dia sudah mulai kembali bekerja. Tak ada yang berubah dari Alma. Tapi dia sedikit takut saat ada yang tiba-tiba menarik tangannya.
"Kamu yakin nanti pulangnya nggak dijemput?" tanya Garland.
"Iya. Aku nggak mau ngerepotin kamu Aku kasihan sama kamu. Kamu pasti capek tiap hari antar-jemput aku," jawab Alma.
"Enggak apa-apa, Sayang. Aku nggak ngerasa direpotkan kok!" ucap Garland.
"Tapi aku nggak mau kamu kecapekan, Sayang. Aku nggak mau kamu sakit," sahut Alma.
Garland menghela napas berat. "Ya udah kalau gitu! Kamu hati-hati ya. Aku nggak mau kejadian kemarin terulang lagi," ucapnya.
Alma menganggukkan kepalanya. "Ya udah! Aku kerja dulu ya. Assalamu'alaikum," ucap Alma.
"Wa'alaikumusalam," jawab Garland.
Alma melambaikan tangannya saat akan memasuki kantornya.
Sementara itu, Bagas tampak kurang enak badan. Sejak semalam badannya panas.
"Kamu nggak usah kerja dulu ya, Nak! Istirahat aja dulu di rumah," kata bu Marni.
Bagas menggeleng pelan. "Enggak, Bu. Bagas nggak apa-apa kok. Cuman sakit sedikit aja. Nanti juga baikan," jawab Bagas.
"Tapi badan kamu panas banget lho, Gas. Enggak usah masuk kerja dulu. Istirahat aja dulu sampai sembuh," ucap bu Marni.
Bagas menggeleng lagi. "Kerjaan Bagas banyak hari ini. Jadi, Bagas harus masuk kerja," sahut Bagas.
Bu Marni menghela napas panjang. Wanita itu tak bisa lagi memaksa Bagas untuk istirahat di rumah.
"Ya sudah kalau begitu. Ibu ke dapur dulu ya. Ambil makanan buat kamu." Bu Marni berkata sambil beranjak dari dalam kamar Bagas.
"Assalamu'alaikum, Nak Alma!" ucap bu Marni.
"Wa'alaikumusalam, Bu Marni. Apa kabar, Bu?" sapa Alma.
"Alhamdulillah baik, Nak. Maaf Ibu mengganggu waktu kerja Alma."
"Iya, Bu nggak apa-apa. Ada apa, Bu?"
"Begini, Nak Alma. Bagas sakit. Dia...."
Bu Marni lalu menceritakan semuanya pada Alma. Dia juga mengatakan jika Bagas memaksa untuk masuk kantor dalam keadaan begini.
"Alma video call saja ya, Bu?" ujar Alma.
Bu Marni setuju. Dia kemudian mengalihkan panggilannya menjadi panggilan video. Setelah itu bu Marni memberikan teleponnya pada Bagas.
"Alma mau bicara sama kamu." Bu Marni menyodorkan ponselnya pada Bagas.
Bagas menerimanya sambil mengerutkan keningnya. "Ngapain telepon Alma sih, Bu?" protes Bagas.
Tanpa menjawab pertanyaan sang anak, bu Marni melangkah keluar dari kamar sang anak.
"Maaf ya Al. Ibu ganggu waktu kerja kamu," ucap Bagas.
"Kata Bu Marni, kamu sakit? Benar gitu?" ujar Alma.
Bagas tak menjawabnya. Dia hanya diam saja. Namun dalam hati dia merasa senang karena Alma perhatian padanya.
"Istirahat aja di rumah. Jangan kerja dulu. Makan terus minum obat. Jangan bandel kalau dikasih tahu," ucap Alma.
__ADS_1
Bagas hanya menganggukkan kepalanya saja. "Iya. Aku nggak kerja dulu hari ini," lirih Bagas.
Alma tersenyum. "Ya udah, kalau gitu aku lanjut kerja lagi ya. Ingat! Jangan maksain buat masuk kerja. Biar sehat dulu badannya. Baru kerja lagi," ucapnya lagi.
"Iya. Makasih ya atas perhatian kamu. Kamu juga jaga kesehatan. Jangan di forsir kalau kerja," sahut Bagas.
Setelah itu, Alma mematikan sambungan teleponnya. Kemudian dia kembali ke ruangannya untuk kembali bekerja.
Tak terasa hari sudah petang. Tapi Alma masih berada di luar kantor untuk menemani Bara yang masih ada meeting dengan klien.
Rasa capek dan lelah tampak terlihat jelas di wajah Bara maupun Alma. Alma dan Bara tampak membereskan berkas-berkas di atas meja. Setelah itu, mereka segera keluar dari tempat meeting.
"Pulang bareng siapa, Al?" tanya Bara.
"Eh! Sendirian aja, Pak," jawab Alma.
Bara manggut-manggut mendengar ucapan Alma. "Kalau gitu bareng aku aja. Aku anterin kamu sampai rumah. Lagian aku kangen nganterin kamu pulang," ucap Bara panjang lebar.
"Eh! Tapi, Pak---"
"Aku nggak menerima penolakan." Bara berkata sambil menggandeng tangan Alma.
Alma tak bisa menolaknya. Dia hanya bisa pasrah dan menurut saja apa kata Bara.
Bara segera melajukan mobilnya saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Alma tampak kikuk kala harus berdua dengan sang mantan kekasih dalam satu mobil.
Selama perjalanan, tak ada percakapan antara keduanya. Mereka hanya saling diam. Tanpa terasa mobil telah sampai di depan rumah Alma.
"Makasih ya. Udah mau nganterin pulang!" Alma tersenyum kala mengatakan itu.
"Iya. Sama-sama. Aku juga senang bisa mengantarkan kamu pulang seperti ini," sahut Bara.
"Kalau gitu, aku---"
"Aku masih sayang sama kamu, Al!" potong Bara.
Alma yang hendak membuka pintu mobil menghentikan aktivitasnya. Dia kembali menatap wajah orang di masa lalunya itu.
"Aku masih sayang sama kamu, Al. Aku mau kita kayak dulu lagi. Walaupun keadaannya sudah sangat berbeda," ucap Bara lagi.
Alma tampak terdiam. Dia bingung hendak menjawab bagaimana. Dalam hati kecilnya, dia masih menyimpan perasaan sayangnya untuk Bara. Tapi saat mengingat kembali kenyataan yang ada, dendam dalam hatinya berkobar tanpa bisa dipadamkan.
"Al!" Bara meraih jemari Alma dan menggenggamnya dengan erat.
"Kamu mau kan balikan lagi sama aku? Kita rajut lagi kisah kita yang belum usai. Kita perbaiki lagi hubungan kita yang retak." Bara mencium punggung tangan Alma dengan mesranya.
"Bagaimana dengan Bu Amanda? Istri kamu?" ucap Alma.
"Itu soal gampang. Asal kamu mau menerima aku kembali, aku akan secepatnya meninggalkan dia," sahut Bara.
Alma berpikir sejenak. Sejujurnya dia ingin sekali kembali pada Bara. Merajut kisah cintanya yang belum usai.
"Iya, aku mau. Aku mau balikan lagi sama kamu," ucap Alma.
"Apa, Al? Coba ulangi sekali lagi?" pinta Bara.
"Aku mau balikan lagi sama kamu, Bara!" ucap Alma sekali lagi.
Bara tersenyum. Dia lantas menarik Alma ke dalam pelukannya.
"Makasih! Makasih banget kamu mau menerima aku lagi," ucap Bara.
Alma mengangguk dalam pelukan Bara. Setelah itu, dia berpamitan pada Bara untuk keluar dari mobil.
"Hati-hati ya pulangnya." Alma menutup pintu sambil berkata pada Bara.
__ADS_1
Alma melambaikan tangannya saat mobil Bara mulai melaju. Senyum manis manis terkembang sempurna di wajah cantiknya.
"Oh, jadi ini alasan kamu nggak mau aku jemput?" tegur seseorang.