
Garland membanting tas kerjanya dengan keras. Perasaannya kacau setelah menerima foto-foto itu dari seseorang. Dia mengumpat dengan kasar. Dia merasa tak terima ada yang mendekati Alma.
"Halo, lagi di mana?" Tanya Garland saat dirinya menelepon Alma.
"Lagi di rumah. Kenapa?"
"Jangan bohong. Kamu lagi jalan kan sama cowok lain?" tuduh Garland.
"Kamu apaan sih? Aku beneran lagi ada di rumah. Kalau nggak percaya kamu ke sini aja," kesal Alma.
Garland tersenyum miring. "Buat apa? Biar aku bisa lihat kamu yang lagi mesra-mesraan sama cowok lain gitu?"
"Kamu apa-apaan sih Land? Aku nggak lagi jalan sama cowok. Aku lagi di rumah. Aku nggak ke mana-mana," ucap Alma.
Tanpa menjawab ucapan Alma, Garland menutup teleponnya. Dia merasa kesal karena Alma sama sekali tak peduli pada perasaannya. Alma tak peduli pada hatinya yang sedang terbakar cemburu.
Alma tampak kebingungan dengan sikap Garland. Dia tak biasanya seperti ini. Biasanya dia akan mengkonfirmasi dulu siapa yang sedang bersamanya. Bukan menuduhnya seperti ini.
Alma meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Dia membuka laptopnya dan mengetik sesuatu di sana. Setelah selesai, dia print tulisannya itu dan memasukkannya ke dalam amplop coklat.
"Besok gue akan serahin surat ini ke Pak Andhika," tekad Alma.
Sementara itu, di rumah Bara terjadi kehebohan. Sang anak yang baru berusia beberapa bulan mengalami panas tinggi. Amanda tampak cemas dan panik. Dia segera meminta Bara untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
"Bapak dan Ibu silakan tunggu di luar. Biar kami periksa dulu pasien," ucap salah seorang tenaga medis.
Bara dan Amanda mengangguk. Mereka berdua tampak berdiri dengan cemas di luar ruang UGD.
"Kamu gimana sih Man? Jaga anak gitu aja nggak becus!" sentak Bara.
Amanda menoleh ke arah sang suami. Dia tak percaya jika sang suami akan menyalahkan dirinya karena anak mereka demam tinggi.
"Kok kamu nyalahin aku? Memangnya kamu udah becus jadi ayah dan suami?" ucap Amanda tak mau kalah.
"Iyalah. Kalau kamu becus ngurus anak, dia nggak akan sakit begini. Pasti kamu nggak jaga dia dengan baik." Bara masih tak mau kalah dan terus menyalahkan sang istri.
"Kok jadi nyalahin aku sih? Harusnya kamu juga bisa bantu aku jagain Fani. Aku juga butuh istirahat Bara."
"Kenapa harus aku? Aku udah capek kerja dari pagi sampai malam. Memangnya kamu yang setiap saat di rumah. Itupun kamu nggak becus jagain anak," ucap Bara.
Amanda sudah akan membuka mulutnya saat seorang dokter keluar dari ruang UGD.
"Gimana keadaan anak saya Dok?" tanya Bara pada sang dokter.
"Pasien baik-baik saja. Untung tadi segera dibawa ke mari jadi bisa cepat diatasi," jawab sang dokter.
__ADS_1
Amanda menarik napas lega. Dia tadi sangat khawatir akan keadaan sang anak. Apalagi sang anak tak pernah mengalami demam hingga setinggi ini sebelumnya.
"Boleh saya masuk Dok?" tanya Amanda.
"Silahkan. Tapi tolong jangan berisik karena akan mengganggu ketenangan pasien lain," ujar sang dokter.
Amanda dan Bara saling lempar pandang. Mereka berdua akhirnya menganggukkan kepala secara bersamaan.
"Oke. Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat malam," ucap dokter itu lagi.
Setelah mendengar ucapan sang dokter, Amanda segera masuk ke dalam ruangan itu. Disusul kemudian oleh Bara di belakangnya.
...****************...
Mentari pagi hangatkan suasana yang cerah ini. Bunga-bunga tampak bersinar kala diterpa sinar sang dewa matahari.
Alma tampak sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya. Dia membubuhkan bedak pada wajahnya yang cantik alami. Tak lupa ia oleskan lipstick pada bibirnya.
"Udah mau berangkat Al?" tanya Pak Handi pada sang anak gadis.
"Iya," jawab Alma pendek.
"Mau bareng sama Ayah?" tawar Pak Handi.
"Tumben? Biasanya juga nggak pernah nawarin buat berangkat bareng!" ujarnya.
Alma menatap heran. Tak biasanya sang ayah bersikap demikian. Pasti ada sesuatu yang ingin ayahnya sampaikan jika sudah seperti ini.
"Gimana? Mau berangkat bareng Ayah?"
Alma tampak menimbang sejenak tawaran sang ayah. Kemudian dengan yakin dia menganggukkan kepalanya.
Pak Handi tersenyum melihat anggukan kepala Alma. "Ya udah ayo berangkat sekarang!" ajaknya.
Alma mengangguk sekali lagi. Kemudian dia berjalan mengikuti sang ayah.
"Bu, Ayah berangkat dulu ya. Udah siang soalnya," pamit Pak Handi pada sang istri.
"Iya Pak. Hati-hati di jalan ya." Sahutnya sembari meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangannya.
"Alma juga berangkat sekarang?" Tanyanya saat melihat Alma juga sudah siap untuk berangkat.
Alma hanya mengangguk saja. Dia tak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan dari sang ibu. Baginya anggukan kepala saja sudah cukup untuk menjawab pertanyaan itu.
"Ya sudah kalian hati-hati ya," ucap Bu Tiwi.
__ADS_1
Pak Handi tersenyum. Setelah mengucapkan salam, Pak Handi segera keluar dari dalam rumah disusul kemudian oleh Alma di belakangnya.
Selama perjalanan, Alma hanya duduk diam di samping sang ayah. Dia memandang keluar jendela. Seolah sedang menikmati pemandangan pagi ini.
Tanpa terasa, mereka telah sampai di depan kantor Alma. Alma segera melepaskan seatbelt yang mengikatnya selama di dalam mobil.
"Alma kerja dulu ya Yah!" ucap Alma.
"Iya. Hati-hati kalau kerja. Enggak usah dengarkan orang-orang yang membenci kamu. Anggap saja mereka itu tim hore yang sedang memberikanmu semangat untuk maju," ucap pak Handi.
Alma tersenyum mendengar ucapan sang ayah. Setelah mengucapkan salam, Alma segera turun dari mobil. Dia melambaikan tangannya ke arah sang ayah yang bersiap-siap menjauh dari tempat itu.
"Pantesan enggak mau aku jemput. Ternyata dianterin sama sugar daddy!" sindir Garland.
Alma menoleh dan menatap Garland dengan tatapan tak mengerti.
"Maksud kamu apa sih Land? Jangan nyari gara-gara deh!" ucap Alma.
Garland tersenyum miring mendengar ucapan Alma. "Pantesan kamu nggak balas chat dari aku. Kamu nggak angkat telepon aku. Ternyata kamu lagi bareng sama sugar daddy."
"Sugar daddy! Sugar daddy apa sih maksud kamu Land? Aku nggak ngerti deh!"
Garland lagi-lagi menyunggingkan senyum miring. Dia menatap Alma dengan tatapan tajam. Seolah siap menerkam gadis itu bulat-bulat.
"Enggak usah sok polos deh Al. Kamu tadi dianterin sama om-om kan? Ngaku aja deh!" ucap Garland.
Alma terkejut mendengar ucapan Garland. Saling kagetnya, dia sampai membuka mulutnya.
"Maksud kamu? Aku nggak...."
Ucapannya menggantung. Sedetik kemudian dia menepuk keningnya sendiri.
"Maksud kamu Ayah? Aku tadi dianterin sama Ayah. Dia bukan sugar daddy seperti yang kamu kira. Dia ayah aku," jelas Alma.
Garland menatap tajam kekasihnya itu. "Kalau beneran dia ayah kamu, kenapa kamu nggak angkat telepon aku? Kenapa kamu juga nggak balas chat dari aku?"
"Maaf Land. Aku nggak dengar kalau ada telepon. Soalnya HP-nya aku silent. Terus tadi buru-buru berangkatnya jadi aku nggak sempat ngecek, aku masukin gitu aja HP-nya ke dalam tas," jelas Alma.
"Alasan! Kan pas di mobil kamu bisa cek HP-nya. Kenapa nggak di cek?"
"Kan aku udah bilang. HP-nya aku silent dan langsung aku taruh di tas gitu aja. Jadi aku nggak tahu kalau ada chat sama telepon dari kamu," ucap Alma.
Garland tampak tak mempercayai penjelasan sang kekasih.
"Kamu emang udah berubah Al sekarang. Kamu udah cuek sekarang sama aku. Kamu udah nggak peduli lagi sama aku. Kamu terlalu asik sama dunia kamu sendiri," sahut Garland.
__ADS_1
"Maksud kamu apa sih Land? Aku semakin nggak ngerti deh sama kamu?"
"Sekarang semua terserah kamu. Aku nggak akan mengekang kamu lagi. Terserah kamu mau ngapain aja. Karena mulai detik ini kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kita putus!"