Selepas Kau Pergi

Selepas Kau Pergi
23. Baru Permulaan


__ADS_3

Alma duduk di depan cermin sembari menyisir rambut panjangnya. Dia menatap pantulan dirinya di cermin dengan seringai menyeramkan.


"Ini baru permulaan, Bara. Nantikan kejutan yang lebih heboh lagi dari aku!" ucapnya.


Seringai di wajahnya semakin lebar. Semakin terlihat menakutkan siapapun yang menatapnya. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu. Dia segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.


"Ada apaan?" tanya Alma. Nadanya terdengar ketus dan tak bersahabat.


Bu Tiwi tersenyum. Seolah dia sudah terbiasa mendengar nada ketus itu.


"Makan yuk! Ayah sama Bang Bryan sudah menunggu di meja makan," ucap bu Tiwi.


Alma berdecak kesal. Dia paling tidak suka dengan kebiasaan di keluarga ini yang mengharuskan makan di ruang makan. Tidak ada alasan kecuali sakit.


"Iya... iya! Entar lagi ke sana! Bawel banget sih!" ketusnya. Alma kemudian berbalik masuk kembali ke kamarnya. Dia membanting pintu dengan sedikit keras membuat bu Tiwi terkejut.


Bu Tiwi hanya bisa menghela napas panjang. Wanita itu tak pernah mengeluh ataupun protes dengan sikap Alma. Baginya, selagi Alma masih menganggap dirinya ada, itu sudah lebih dari cukup.


Di dalam kamar, Bagas tampak sedang memandang selembar foto yang tersimpan rapi di dalam sebuah pigura kecil. Foto yang menampilkan sepasang murid SMA yang sedang merayakan kelulusan.


"Kamu nggak pernah berubah, Al. Bagiku, kamu tetap saja Alma yang dulu kukenal. Perasaan aku ke kamu juga nggak berubah. Aku masih saja mencintaimu dalam diam." Bagas mengelus lembut foto berbingkai itu.


Matanya menatap foto itu dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Ada perasaan kecewa saat tahu cinta Alma bukan untuk dirinya. Ada rasa bahagia saat melihat Alma bisa tersenyum meskipun bukan karenanya.


"Hah!"


Bagas menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia ingin melegakan dadanya yang terasa sesak ketika teringat tentang Alma.


"Seandainya kamu tahu, Al. Seandainya kamu tahu betapa aku mencintai kamu. Apa mungkin kamu akan menerima cinta aku? Apa mungkin kita akan bisa bersama selamanya?" tanyanya dengan tatapan sendu.


"Al, hatiku nggak bisa menerima perempuan lain. Hati aku selamanya adalah milik kamu. Seandainya kamu adalah jodohku, aku minta sama Tuhan untuk selalu memberikan jalan. Tapi jika kamu bukan jodohku, aku harap kita bisa mendapatkan jodoh terbaik," ucapnya akhirnya.


Bagas memejamkan matanya setelah mengucapkan kalimat panjang itu. Dia kemudian menghembuskan napasnya lagi. Kali ini dengan lembut dan pelan.


Sementara itu, Garland tampak sedang berada di sebuah kafe. Di depannya duduk seorang gadis yang selama ini selalu ia hindari.

__ADS_1


"Aku minta maaf karena nggak bisa jujur sama kamu. Aku terlalu takut saat itu. Aku takut kamu nggak percaya sama aku," ucapnya.


Garland diam saja. Dia mendengarkan setiap kata yang keluar dari gadis yang pernah menjadi ratu di hatinya itu.


"Sekarang, kamu udah tahu sendiri kan? Gimana ayah kamu memperlakukan Alma?" ujarnya.


Garland masih terdiam. Dia sama sekali tak menanggapi ucapan gadis itu.


"Aku nggak pengin kamu membenci ayah kamu. Aku juga nggak mau kamu jadi anak durhaka. Tapi kamu harus tahu satu hal," ucapnya.


"Ayah kamu akan selamanya seperti itu. Dia nggak akan berubah walaupun dia sudah dihukum berat," lanjutnya.


Garland diam saja. Dia sekarang paham. Bagaimana perasaan Mayang saat dilecehkan oleh ayahnya. Dia sekarang tahu bagaimana sang ayah memperlakukan perempuan. Sekarang dia juga sadar, tindakan ayahnya tidak dibenarkan dalam agama apapun juga.


...****************...


Hari-hari berlalu dengan cepatnya. Alma telah melupakan kejadian beberapa hari yang lalu. Di mana dirinya hampir saja dip*****a oleh Bara. Untung saja waktu itu dia berhasil menolaknya.


"Tumben nggak dianterin pangeran bucin?" Bara menegur Alma saat dirinya melihat sang sekretaris tiba di kantor tanpa diantar oleh Garland.


Bara menyunggingkan senyum miring. "Ya iyalah! Kamu pikir aku nggak cemburu apa saat lihat kamu mesra-mesraan sama cowok itu," ucapnya.


Alma lagi-lagi tersenyum. Dia meraih tangan Bara dan menggenggamnya dengan erat.


"Siapapun yang ada di samping aku. Enggak ada yang bisa menggantikan posisi kamu di hati aku." Alma mencium punggung tangan Bara dengan lembut dan mesra.


Melihat perlakuan Alma, dada Bara berdesir. Bukan karena dia merasa cinta atau bagaimana, melainkan karena nafsu.


Alma tersenyum melihat Bara yang berusaha menahan sesuatu di dalam.


"Aku masuk duluan. Aku harus mempersiapkan berkas untuk meeting pagi ini," ucapnya.


Kemudian dia beranjak dari hadapan Bara. Berjalan dengan gaya yang dibuat-buat agar Bara semakin tak bisa melupakan dirinya.


Sementara itu, Garland tampak baru saja terbangun dari tidurnya. Dia memegangi kepalanya yang masih berdenyut nyeri. Dia mengingat-ingat kembali apa yang terjadi semalam.

__ADS_1


"Isshhh! Ah! S****n! Kenapa kepala gue pusing banget?" tanyanya pada diri sendiri.


"Itu karena semalam kamu minum terlalu banyak. Jadinya pusing deh sekarang," sahut seseorang tiba-tiba.


Garland menatap gadis yang menyahuti pertanyaannya itu. Matanya memicing dan otaknya berputar. Dia berusaha mengingat siapa gadis itu.


"Semalam kamu mabuk parah. Jadi aku bawa kamu ke tempat ku." Gadis itu berjalan mendekat ke arah Garland.


Garland diam saja. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Ini memang bukan kamarnya. Ini kamar... ini kamar perempuan!


"Kamu tenang aja. Aku nggak ngapa-ngapain kamu kok. Tapi---"


Ucapannya terhenti kala melihat Garland berusaha turun dari ranjangnya.


"Kamu mau ke mana?" tanya gadis itu.


Garland tak menjawab pertanyaan gadis itu. Dia mencari pakaiannya yang ternyata ada di keranjang pakaian kotor.


"Baju kamu kena muntahan. Jadi aku buka dan taruh baju itu di keranjang cucian," jelas gadis itu.


Garland menoleh dan menatap tajam ke arah sang gadis. Dia merasa gadis itu telah lancang kepadanya. Tanpa memperdulikan gadis itu, Garland memakai pakaian kotornya lagi. Dia tak peduli pada bau menyengat dari bekas muntahannya.


Di tempat lain, Alma sedang menemani Bara untuk meeting. Dia tampak cekatan sekali dalam mempersiapkan file-file yang dibutuhkan Bara untuk meeting kali ini. Tak heran jika Bara dan semua teman kantornya menyukai kinerja Alma.


"Terimakasih atas kerjasamanya Pak Bara. Saya senang sekali dengan kerjasama ini." Seorang pria bertubuh gemuk menyalami Bara dan Alma secara bergantian.


"Saya juga terimakasih Pak Alex. Terimakasih Pak Alex mau menerima kerjasama ini," balas Bara.


Mereka berdua tertawa bersamaan. Setelah itu pria yang disapa Pak Alex itu pamit undur diri. Kini tinggal Bara dan Alma berdua saja.


"Aku ke toilet dulu ya," pamitnya pada Bara.


Bara menoleh dan mengangguk. "Jangan lama-lama ya," ucapnya.


Alma tersenyum dan mengangguk. Setelah itu dia beranjak dari tempat itu menuju toilet. Tak sampai lima menit Alma telah keluar dari dalam toilet. Dia berjalan kembali menuju meja Bara.

__ADS_1


"Dasar perempuan murahan!" hardik seseorang.


__ADS_2