Selepas Kau Pergi

Selepas Kau Pergi
24. Rahasia Mia


__ADS_3

Alma menghentikan langkahnya. Perlahan dia menoleh ke belakang. Ke arah orang yang menghardiknya barusan.


"Dasar perempuan ******! Dasar s****l!"


Seorang perempuan dengan tubuh tambun tampak sedang memaki seorang gadis belia di meja di belakang Alma. Perempuan itu tampak marah sekali pada si gadis yang ketahuan berduaan dengan suami si perempuan itu.


"Hei! Apa yang kamu lakukan?" Sang pria membela si gadis belia itu.


"Aku ingin memberi pelajaran pada perempuan murahan ini!" Perempuan itu berkata sembari melayangkan tamparan pada pipi gadis muda itu.


Alma terkejut melihatnya. Dia sempat ngeri juga saat melihat sang perempuan menampar gadis muda itu. Tapi gadis itu pantas mendapatkannya. Siapa suruh pacaran sama laki orang.


Si pria bangkit dari duduknya dan mendorong tubuh perempuan gemuk itu hingga jatuh.


"Dasar istri nggak tahu diri! Lihat badanmu yang seperti gajah beranak! Harusnya kamu ngaca sebelum menghina orang lain," kata lelaki itu.


Perempuan gemuk itu membelalakkan matanya. Dia tak percaya jika sang suami akan berkata seperti itu. Dia tak menyangka jika lelaki yang sudah 20 tahun ini menjadi suaminya akan berubah dan berpaling.


Alma berbalik arah dan segera menjauh dari sumber keributan. Dia tak ingin tahu lebih lanjut tentang keributan itu. Diam-diam dia mulai membayangkan jika Amanda melabraknya seperti ibu tadi. Betapa malunya dia jika semua orang tahu dirinya seorang pelakor?


"Kok lama banget sih?" Bara bertanya saat melihat Alma berdiri di depannya.


"Iya maaf. Tadi aku buang air besar dulu. Soalnya udah kebelet," jawab Alma.


Bara tersenyum mendengar jawaban Alma. "Kita pulang sekarang ya!" ajak Bara.


"Pulang sekarang? Enggak mampir ke mana-mana dulu?" tanya Alma.


Bara mengerutkan keningnya. "Mampir ke mana?"


Raut wajah Alma seketika berubah saat mendengar pertanyaan Bara. Dia merasa kesal karena Bara lupa janjinya semalam.


"Emangnya kamu mau mampir ke mana?" tanyanya lagi.


"Enggak jadi. Kita pulang aja. Lagian kamu nggak ingat kita mau ke mana hari ini!" ujarnya.


Alma beranjak dari hadapan Bara. Dia meneruskan langkahnya keluar dari kafe. Dia tak mempedulikan Bara yang terus memanggil namanya. Saat berada di luar kafe, Alma mengambil ponselnya. Sebuah notifikasi pesan muncul kala ia mengusap layar benda pipih itu.


"Apa-apaan ini?" Alma bertanya sembari mengerutkan keningnya.


...****************...

__ADS_1


Malam ini Alma kedatangan tamu. Mia, Destyan, dan Andi datang mengunjunginya ke rumah. Setelah hampir enam bulan mereka tak saling bertatap muka.


"Aaahhh! Gue kangen banget sama elo, Alma!" seru Destyan. Gadis itu memeluk Alma dengan eratnya.


Mia juga melakukan hal yang sama. Namun ada yang berbeda dengan Mia malam ini. Dia sepertinya sedikit ogah-ogahan bertemu dengan Alma. Tak seperti Destyan yang begitu bersemangat saat bertemu dengan Alma.


"Gue juga kangen sama kalian," ucap Alma.


Andi yang menjadi tamu laki-laki satu-satunya hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya saat bertemu dengan sahabat baiknya.


"Mas Andi apa kabar?" tanya Alma.


"Oh jadi elo lebih peduli kabarnya Mas Andi daripada kabar gue?" Destyan pura-pura merajuk saat Alma bertanya pada Andi.


Alma tersenyum. "Apa kabar baby kecilku?" Dia mencubit gemas pipi Destyan yang terlihat lebih chubby daripada terakhir mereka bertemu.


"Gue baik. Elo apa kabar? Sombong ya sekarang. Mentang-mentang udah punya kerjaan enak, lupa sama temen-temen lama!" ujar Destyan.


Alma tersenyum mendengar ucapan Destyan. "Eh masuk yuk! Sampai lupa nggak disuruh masuk," ucap Alma.


Ketiga tamunya itu masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Pada mau minum apa?" tanya Alma pada para tamunya.


Alma tersenyum. Kemudian gadis itu masuk ke bagian dalam rumahnya. Tak berapa lama, dia kembali lagi dengan empat kaleng minuman dingin di atas nampan lengkap dengan kue kecil dalam stoples.


"Silakan! Para tamuku yang terhormat. Silakan dinikmati!" Alma meletakkan stoples kue kering dan minuman di atas meja.


"Kantor apa kabar sekarang?" Alma bertanya sambil menempatkan tubuhnya di samping Destyan.


"Ngapain lo nanyain kabar kantor? Kantor mah tetep gitu-gitu aja. Catnya mau di ganti deh kayaknya. Oh iya, bunga di depan kantor udah pada mekar. Bagus banget deh!" sahut Destyan.


"Bukan itu yang dimaksud sama Alma, Sayang!" Andi mengusap wajah kekasihnya itu dengan gemas.


"Lah terus apa dong?" tanya Destyan dengan polosnya.


"Yang Alma tanyain tuh kondisi kantor kayak gimana, gitu lho!" jelas Andi.


"Oh yang kayak gitu. Kondisinya baik-baik aja kok. Sekarang bahkan udah bisa buka pintu sendiri," ucap Destyan.


Alma dan yang lainnya saling lempar pandang. Sedetik kemudian mereka semua tertawa keras.

__ADS_1


"Kenapa sih? Kan bener apa yang gue omongin," ucap Destyan.


"Iya deh iya. Bener banget kok," sahut Alma.


Layaknya teman yang lama tak bertemu, mereka berempat saling bertukar cerita. Mereka saling berbagi cerita tentang pekerjaan masing-masing.


"Gue balik duluan ya. Gue ada janji nih sama seseorang!" ucap Mia.


Alma mengerutkan keningnya. Dia berpikir ada apa dengan Mia? Sepertinya ada yang dia sembunyikan dari teman-temannya.


"Cie... cie... janji sama siapa tuh?" tanya Destyan.


Mia hanya mengulas senyum. Tanpa menjawab pertanyaan Destyan, Mia segera keluar dari rumah Alma.


"Eh, Des! Elo ngerasa aneh nggak sih sama Mia?" Alma bertanya setelah Mia tak terlihat lagi.


"Aneh gimana sih, Al?" tanya Destyan.


"Ya aneh. Dari pertama datang tadi dia kayaknya nggak semangat gitu ketemu sama gue. Kayak ada yang dia sembunyiin gitu dari kita," jawab Alma.


Destyan mengangkat bahunya, tanda dia sendiri tak tahu akan hal itu.


"Gue nggak perhatiin sih. Tapi emang akhir-akhir ini, Mia sering banget menyendiri. Pas ditanyain kenapa, dia nggak pernah mau jawab. Kayaknya dia nggak mau kita tahu masalahnya deh," jelas Destyan.


"Ya udah sih nggak usah di perpanjang lagi. Kalau dia nggak mau cerita, bukan berarti dia nggak mau kita tahu. Tapi dia pengin kita nggak ikut campur urusannya dia," sahut Andi.


Kedua gadis di depannya itu mengangguk secara bersamaan. Mereka paham dan mengerti sekali. Mereka juga tak ingin ikut campur urusan orang lain.


Sementara itu, Mia tampak celingukan saat akan masuk ke sebuah hotel di pinggiran kota. Hotel itu terletak cukup jauh dari kompleks tempat tinggalnya. Tapi walaupun begitu, dia tetap waspada. Dia tak ingin ada yang mengetahui apa yang sedang dilakukannya di hotel itu.


"Mbak Mia ya?" tegur seorang resepsionis hotel.


Mia mengangguk sembari menyunggingkan senyuman manis.


"Silakan, Mbak. Sudah di tunggu di kamar 201," ucap resepsionis itu.


Setelah mengucapkan terimakasih, Mia bergegas menuju kamar yang dimaksud oleh sang resepsionis.


Sesampainya di kamar itu, Mia mengetuk pintu. Tak berapa lama seseorang membuka pintu kamar dan mempersilakan Mia masuk ke dalam.


Mia segera masuk ke dalam kamar. Sebelum menutup pintu kamar, orang tersebut menengok ke kanan dan ke kiri. Memastikan jika Mia ke hotel itu seorang diri.

__ADS_1


"Akhirnya kau datang juga!" tegur seorang pria dengan suara berat.


__ADS_2