Selepas Kau Pergi

Selepas Kau Pergi
27. Kejutan Untuk Bara (2)


__ADS_3

Mia kembali dari tempatnya bekerja saat azan magrib berkumandang. Dia membuka pintu rumahnya dan segera masuk ke dalam rumahnya.


"Hah! Capek banget," keluh Mia.


Dia merebahkan tubuhnya di atas pembaringan. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Tiba-tiba perasaan bersalah muncul dalam hatinya. Dia merasa bersalah pada kedua orang tuanya dan kepada sahabat-sahabatnya.


"Kenapa jadi seperti ini? Kenapa gue jadi seperti ini?" tanyanya pada diri sendiri.


Tanpa ia sadari, air matanya meleleh membasahi kedua pipinya. Air mata yang selama ini coba ia sembunyikan dari orang-orang terdekatnya.


Sementara itu, Alma dan Garland menikmati waktu mereka berdua dengan berkencan. Walaupun bukan kencan romantis, tapi keduanya sangat menikmati momen itu.


"Udah lama ya kita nggak berduaan kayak gini?" ujar Garland.


Alma mengangguk setuju. Memang sudah lama sekali mereka tak menikmati waktu berdua seperti ini. Kesibukan masing-masing membuat keduanya jarang bahkan tak pernah berkencan seperti ini.


"Aku senang banget deh bisa memiliki waktu berdua lagi bareng kamu, Al!" Garland menatap sang kekasih dan tersenyum padanya.


Alma membalas tatapan mata kekasihnya itu dan tersenyum padanya.


"Aku juga senang banget bisa pergi berdua dengan kamu," sahutnya.


Senyum di wajah Garland semakin lebar kala mendengar ucapan kekasihnya itu. Dia bersyukur memiliki waktu berdua lagi dengan sang kekasih seperti dulu lagi.


"Alma!" tegur seseorang.


Alma menoleh dan mendapati Amanda juga Bara berjalan menghampirinya. Dia tersenyum ramah saat melihat atasannya itu menghampirinya.


"Eh Bu Amanda. Selamat malam, Bu," sapa Alma.


Amanda tersenyum mendengar Alma menyapanya. Tapi tidak dengan Bara. Pria itu sama sekali tak menampilkan senyum. Dia menatap Garland dengan perasaan cemburu yang tiada tara.


"S****n! Kenapa harus ketemu sama Alma sih di sini?" umpatnya.


Alma tersenyum tipis melihat ekspresi yang diperlihatkan oleh Bara. Dalam hati dia merasa menang karena berhasil membuat Bara overthinking padanya.


"Kita pindah kafe aja ya!" bisik Bara.


Amanda mengerutkan keningnya. "Kenapa pindah? Udah di sini aja. Lagian kan seru kita bisa double date sama Alma dan... siapa nama pacar kamu, Al?" tanyanya.


"Garland, Bu!" sahut Alma.


Mendengar namanya disebut, Garland menganggukkan kepalanya sembari tersenyum ke arah Amanda.


"Nah, Garland. Kita bisa seru-seruan berempat. Iya kan, Al?" ujar Amanda.


Alma hanya menampilkan senyum seraya menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan.

__ADS_1


Bara berdecak kesal melihat anggukan kepala Alma. Ingin sekali dia menghajar Garland yang berani-beraninya membawa Alma ke tempat ini. Tapi dia tak bisa melakukannya karena ada sang istri di sampingnya.


"Rasain lo! Emang enak gue kerjain lagi hari ini!" ucap Alma dalam hati.


Bara tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Dia tak menyangka jika akan bertemu dengan Alma dan kekasihnya di kafe ini.


...****************...


Sinar mentari pagi tampan begitu menyilaukan mata. Bagas memicingkan matanya karena terkena sorotan sinar mentari yang menerobos masuk ke dalam kamarnya.


"Udah pagi aja!" gumamnya.


Bagas menguap sekali lagi sebelum benar-benar bangun dari tempat tidur.


"Gas... Bagas! Bangun, Nak! Udah siang. Katanya ada meeting pagi ini?" ujar seseorang dari balik pintu kamarnya.


"Iya,Bu. Bagas udah bangun kok." Bagas menjawab dengan suara sedikit keras.


Setelah itu tak terdengar lagi suara dari luar. Hanya suara langkah kaki yang menjauh dari pintu yang terdengar.


Bagas bergegas menyambar handuknya dan bergegas keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuju kamar mandi yang letaknya ada di sebelah dapur.


Di tempat lain, Alma juga tengah melakukan hal yang sama. Dia baru saja bangun dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


Tak berapa lama, Alma keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di kepalanya. Sepertinya dia baru saja selesai mencuci rambutnya.


Tak butuh waktu lama untuk Alma bersiap-siap. Tak sampai satu jam dia telah berpakaian rapi dan siap untuk berangkat ke kantor.


Alma menyambar tas kerjanya dan segera keluar dari dalam kamarnya. Dia berjalan santai menuju ruang makan. Di sana kedua orang tuanya dan juga kakak laki-lakinya telah menunggu untuk sarapan bersama.


"Pagi semuanya," sapa Alma.


"Selamat pagi, Al!" balas bu Tiwi.


Alma segera duduk dan mengambil piring makannya. Dia menyendokkan nasi ke atas piringnya lengkap dengan lauknya.


"Tumben pagi-pagi udah semangat?" ujar pak Handi.


Alma tersenyum. "Iya dong. Pagi-pagi harus semangat. Enggak boleh loyo!" sahut Alma.


Pak Handi dan Bryan manggut-manggut mendengar ucapan Alma. Mereka berdua tak berani mematahkan semangat Alma yang terlihat membara itu.


"Gimana kerjaan kamu?" tanya bu Tiwi.


"Biasa aja," jawab Alma pendek.


Bu Tiwi tersenyum. Wanita itu merasa senang karena Alma mau menjawab pertanyaan darinya walaupun dengan jawaban yang pendek.

__ADS_1


"Kamu betah, Al kerja di tempatnya Bara?" Kali ini Bryan yang bertanya.


Alma mengangguk. "Kenapa harus nggak betah? Di sana orang-orangnya pada baik-baik semua. Enggak ada yang rese. Makanya aku betah," jawab Alma.


"Ya siapa tahu aja elo nggak betah atau risih gitu kerja di sana. Soalnya kan Bara itu mantan pacar lo," ucap Bryan.


"Tapi kalau seandainya Bara gangguin elo atau berbuat kurang ajar sama elo. Elo bilang ke gue. Biar gue yang hadapi dia," ucap Bryan lagi.


"Gaya lo udah kayak preman aja, Bang," sahut Alma.


"Elo tenang aja. Bara nggak akan pernah macam-macam sama gue. Dia nggak berani akan macam-macam ke gue, Bang!" pungkasnya.


"Ya siapa tahu. Namanya orang kan nggak ada yang tahu, Al." Bryan berkata sambil menyeruput kopi susu yang terhidang di meja makan.


"Bryan udah selesai. Sekarang Bryan mau berangkat dulu," ucapnya.


Pemuda itu lantas berdiri dari kursinya dan menyambar tas kerjanya. Sebelum beranjak dari ruang makan, dia menoleh ke arah Alma sebentar.


"Mau bareng gue?" tanyanya pada sang adik.


Alma mengangguk. Kebetulan sekali hari ini Garland tak bisa menjemput dirinya karena harus ke tempat event. Sedangkan Bara tak mungkin berani menjemputnya ke rumah ini. Entah apa alasannya dan Alma tak pernah mempermasalahkan itu.


"Entar pulangnya jemput gue lagi ya!" pinta Alma.


Setalah berpamitan pada kedua orang tuanya, Alma dan Bryan berjalan keluar dari dalam rumah. Bu Tiwi menatap kepergian mereka berdua dengan perasaan haru. Mereka berdua tampak akur walaupun tak lahir dari rahim yang sama.


Di tempat lain, Bara tengah duduk sambil menyangga kepalanya. Ada seseorang yang mengirimkan foto-foto dirinya tengah berduaan dengan seorang gadis di klub malam.


"S****n! Siapa yang mengirimkan foto-foto ini?" ucapnya.


Bara memandang satu per satu foto yang berserakan di meja kerjanya itu. Sedetik kemudian matanya membulat sempurna saat melihat sebuah kode di pojok bawah foto itu. Dia mengambilnya dan mengamatinya.


"Ini kan---"


Ucapannya terpotong karena ponselnya berdering. Bara segera meraih ponselnya dan melihat ke layar benda pipih itu. Sederet angka terpampang di layar ponselnya.


"Halo, siapa---"


"Bagaimana? Sudah terima kan paket dari saya?" tanya si penelepon.


Bara mengernyitkan keningnya. Dia merasa tak asing dengan suara itu. Tapi dia tak berani menuduh orang sembarangan.


"Selamat menikmati waktu kamu, Bara! Semoga saja istri kamu juga melihat apa yang aku kirimkan itu," ucapnya lagi.


"Hei! Si---"


Si penelepon misterius itu memutuskan sambungan teleponnya sebelum Bara menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2