
Alma memulai hari ini dengan semangat. Dia tampak memoles wajahnya dengan make up tipis namun mampu memancarkan aura kecantikannya. Dia tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin.
Sempurna! Satu kata yang mampu menggambarkan Alma pagi ini. Dia kemudian menyambar tas dan ponselnya.
"Mau ke mana lo Al?" tanya Bryan. Matanya meneliti tubuh Alma dari atas hingga ke bawah.
"Kerja lah." Alma mengambil piring dan menuangkan nasi ke atasnya.
"Tumben pakai pakaian resmi kayak gitu? Ada meeting sama orang kantor ya?"
Alma menuangkan sayur ke atas piringnya. Tak lupa ia mengambil sepotong ayam goreng dan menambahkannya ke piringnya.
"Enggak! Gue kan sekarang jadi sekretaris, Bang!" jawab Alma.
"Sekretaris? Bukannya elo masih kerja di provider itu kan? Elo naik jabatan?" tanya Bryan beruntun.
Alma menggeleng. Dia menelan nasi yang ada di mulutnya dan menjawab pertanyaan Bryan.
"Enggak. Gue udah resign dari sana. Ada yang fitnah gue dan memanipulasi data penjualan gue," jawab Alma.
Bryan mengerutkan keningnya. "Maksud lo?" tanyanya.
"Ya! Ada yang nggak suka sama gue di sana. Ada yang pengin jatuhin gue di depan Garland dan para bos besar," jawab Alma.
"Elo resign dari sana? Kenapa elo nggak ngomong sama gue?" ucap Bryan.
"Kamu keluar dari tempat kerja kamu Al?"
Pak Handi ikut menimpali ucapan sang anak laki-laki saat mendengar Alma keluar dari tempat kerjanya yang lama.
"Iya," jawab Alma pendek.
"Kenapa keluar?" Kali ini bu Tiwi yang bertanya setelah sejak tadi diam saja menyimak percakapan mereka.
"Bosan aja. Pengin cari suasana baru. Lagian di sana juga ada yang rese," jawab Alma.
Bu Tiwi mengulas senyum tipis. Ini kali pertama Alma menjawab pertanyaan darinya. Ada rasa bahagia tak terkira kala Alma mau menjawab pertanyaannya tanpa nada ketus.
"Rese gimana? Kenapa nggak lo hajar aja orangnya," ucap Bryan.
"Sembarangan aja kalau ngomong. Gue malas ribut. Jadi mending gue keluar aja. Daripada dia terus bikin gue sama Garland berantem gara-gara data penjualan," jawab Alma.
"Dania?" Tiba-tiba Pak Handi menyebut satu nama yang membuat Alma mengurungkan niatnya menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Yang manipulasi data penjualan kamu, Dania kan?"
"Ayah tahu dari mana? Alma kan nggak pernah cerita soal itu."
"Nebak aja," jawab Pak Handi.
__ADS_1
Alma mengangkat tangannya. Dia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Alma berangkat duluan ya. Udah siang," pamitnya.
Gadis itu kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri sang ayah. Dia mencium punggung tangan lelaki bergelar ayah itu. Hal yang sama ia lakukan juga pada bu Tiwi.
Wajah wanita itu berseri-seri kala melihat Alma mau mencium punggung tangannya sebelum pergi. Rasa haru dan bahagia bercampur jadi satu dalam hatinya.
"Udah siap?" tanya Garland saat Alma sudah berada dalam boncengannya.
Alma mengangguk. Dia melingkarkan tangannya ke pinggang sang kekasih.
Garland tersenyum. Dia kemudian menyalakan mesin motornya dan mulai menjalankan motornya.
Selama perjalanan, mereka tampak saling berbincang. Mereka membicarakan banyak hal termasuk membicarakan soal Dania.
"Udah ah! Enggak usah dibahas lagi. Aku nggak mau lagi dengar tentang dia," ucap Alma.
"Aku cuman ngasih tahu kamu aja. Yah! Siapa tahu aja kamu masih---"
"Udah dong! Jangan bikin mood aku hancur dengan cerita tentang dia. Lagian kalau aku tahu tentang dia, apa untungnya buat aku!" potong Alma cepat.
Garland mengangguk mengerti. Dia tak lagi berbicara tentang Dania. Motor terus melaju. Hingga tak terasa mereka telah sampai di depan kantor Bara.
"Makasih ya! Udah mau nganterin kerja." Alma turun dari boncengan Garland dan tersenyum pada kekasihnya itu.
"Aku kerja dulu ya. Kamu hati-hati berangkatnya. Jangan ngebut bawa motornya," ucap Alma.
"Iya. Yang semangat ya kerjanya. Aku berangkat dulu," sahut Garland.
Alma melambaikan tangannya saat motor Garland mulai menjauh dari pelataran kantor Bara. Dia lantas berjalan menuju lobi.
"Alma!" Bara menyapa kala dirinya dan Alma akan memasuki gedung yang sama.
"Eh! Bara!" balas Alma.
Bara tersenyum. "Enggak nyangka ya kita ketemu lagi!" ucapnya senang.
Alma membalas senyuman Bara. "Iya. Enggak nyangka kita ketemu lagi," sahut Alma.
"Aku senang bisa ketemu kamu lagi. Mudah-mudahan kita bisa bekerja sama dengan baik," ucap Bara.
Alma hanya tersenyum mendengar ucapan Bara. Dalam hati dia lebih senang lagi. Karena jalan untuk balas dendam terbuka lebar.
...****************...
Hari pertama dilalui Alma dengan perasaan bahagia. Semua rekan kerjanya di kantor tampak begitu menyukai dirinya. Bahkan mereka tak membeda-bedakan dirinya.
"Pulang bareng siapa, Al?" tanya salah seorang rekan kerjanya.
__ADS_1
"Eh! Dijemput sama Garland," jawab Alma.
"Cowok kamu?" tanyanya lagi.
Alma mengangguk. Senyum terkembang di wajah cantiknya.
"Kalau gitu kita duluan ya, Al! Sampai ketemu besok," ucap mereka.
Alma menganggukkan kepalanya. Dia melambaikan tangannya pada mereka.
Alma masih menunggu Garland di depan gedung itu. Dia sesekali melirik jam tangan dan melihat ponselnya.
"Ke mana sih dia? Ditelepon nggak diangkat. Apa masih di jalan ya?" gumamnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Sebaris nomor asing terpampang di layar ponselnya.
"Nomor siapa nih?" tanyanya.
Awalnya Alma enggan untuk mengangkatnya. Tapi kemudian dia mengangkatnya juga setelah nomor asing itu terus meneleponnya.
"Maaf ya aku nggak bisa jemput kamu," ucap sebuah suara.
Alma mengerutkan keningnya. Sekilas suara itu mirip suara Garland. Tapi bedanya suara si penelepon ini lebih berat dan serak.
"Kamu kenapa? Kok suaranya beda gitu?" tanya Alma.
"Em... aku tiba-tiba aja flu. Jadi suara aku jadi berubah. Kamu bisa ke rumah sekarang nggak?"
"Kok bisa? Tadi kayaknya kamu nggak kelihatan sakit," sahut Alma.
"Iya. Tadi setelah nganterin kamu, aku tiba-tiba aja bersin-bersin terus. Sama anak-anak kantor aku disuruh pulang dan istirahat," jawab suara itu.
Alma tak bertanya lagi. Dia segera menutup teleponnya dan segera memesan taksi online. Dia ingin segera ke rumah Garland dan melihat kondisi pemuda itu.
Tak perlu menunggu lama, taksi online yang ia pesan datang juga. Alma segera masuk ke dalam mobil. Mobil kembali melaju membelah jalanan.
"Kita mampir ke minimarket dulu ya, Pak!" ucap Alma pada sang supir taksi.
Sang supir mengangguk mengiyakan permintaan Alma. Mobil memasuki pelataran parkir sebuah minimarket. Alma turun dan setengah berlari menuju minimarket. Tak berapa lama, dia telah kembali dengan menenteng dua kantong belanjaan.
Dia kembali masuk ke dalam mobil dan mobil kembali melaju. Tak berapa lama, Alma telah sampai di rumah Garland. Setelah membayar ongkos taksi, dia segera turun dan berjalan cepat menuju rumah itu.
"Kok gelap banget sih? Pasti deh Garland ketiduran dan lupa nyalain lampu," ucapnya.
Alma membuka pintu rumah itu dan masuk ke dalamnya tanpa curiga. Dia mencari saklar lampu dan mulai menyalakan lampunya. Namun saat akan masuk ke ruang tengah rumah itu, Alma dikejutkan oleh seseorang.
Tiba-tiba saja orang itu menarik lengan Alma dan menyeretnya masuk ke salah satu kamar.
"AAAARRRGGGGGHHHHH! TOOLOOOONG! TOOLOOONG!"
__ADS_1