
Ada sebuah ruangan di rumah yang besar itu, yang Alan jadikan sebagai kantor. Lebih tepatnya, Zia yang lebih sering memakai ruangan tersebut dalam membantu Alan mengurus perusahaannya. Atau terkadang Alan bekerja di sana ketika dia harus lembur.
Alan berjalan menuju ruang tersebut. Di dapatinnya Teresa sedang memeriksa sesuatu di dalam brangkas.
" Ada apa?"
" Alan, lihat...K-Kencana Wungu...Kencana Wungu hilang! "
deg
Darah Alan berdesir, ia bergegas ikut memeriksa isi brankas. Permata Kencana Wungu, sebuah kalung bernilai 13 milyar yang Alan dapatkan dari pelelangan, ternyata sudah raib.
Alan hampir tidak percaya, ia memeriksa ulang beberapa kali, tapi tetap tidak menemukannya.
" Pasti Zia! Ya, pasti dia! Pasti wanita miskin itu yang mengambilnya! "
" Jangan terlalu cepat berspekulasi. Mungkin ibu lupa menyimpannya, "
" Tidak mungkin! Ibu sangat yakin, kalau Ibu menyimpannya di brankas ini. Kau sendiri yang memasukkannya waktu itu! "
Alan merenung. Benar bahwa Alan yang menyimpannya di dalam brankas. Tapi selain keluarganya, tidak ada yang tahu password brankas tersebut, termasuk Zia. Setidaknya, Alan belum memberi tahu Zia tentang password-nya.
" Kita harus lapor polisi! " Teresa bergegas mengambil ponselnya.
" Jangan! " cegah Alan
Teresa berkernyit.
" Bukan dia pelakunya! "
" Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Hanya dia, satu-satunya orang asing di rumah kita,"
" Sudah cukup! "
" Kalau pun lah Zia yang mengambilnya, maka biarkan. Aku memang membelikan Kencana Wungu untuknya. Hanya saja..., aku belum menemukan moment yang tepat untuk memberikannya, "
Bahkan Farhan tidak pernah memberikan perhiasan semahal itu, batin Teresa. Terpaksa, Teresa membatalkan panggilannya ke kantor polisi. Tapi, dalam benak wanita licik ini, dia masih memiliki banyak cara untuk menjatuhkan Zia, entah Zia bersalah ataupun tidak.
Alan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, tidak ada yang berubah. Semua tertata rapi seperti saat terakhir ia memasuki ruangan tersebut. Bahkan kartu yang Alan berikan untuk keperluan bulanan Zia pun, masih tergeletak di laci tanpa tersentuh. Selain beberapa dokumen, tidak ada satupun yang hilang.
Memikirkan itu semua, Alan jadi semakin murung. Ada perasaan sesak sekaligus kesal yang menyelimuti dadanya. Selama ini, dirinya merasa kalau ia sudah memberikan yang terbaik untuk Zia. Tapi ternyata, Zia tidak mengambil apapun darinya kecuali hanya sekedar yang dibutuhkan.
" Ibu turut menyesal atas kepergiannya...! Huft, tapi ya sudahlah, ibu rasa itu bukan hal yang buruk."
Alan terdiam. Dia tidak mengira kalau ternyata ibunya merasa sangat tidak puas dengan Zia. Selama ini, Alan pikir, keluarganya sudah berdamai dan mau menerima Zia.
" Sekarang, apa rencanamu dengan pernikahan? Undangan sudah di sebar, kita tidak mungkin membatalkannya kan? "
" Aku tidak tahu! " sahut Alan, datar.
" Ehmm, baiklah! Kamu tenang saja, Ibu punya banyak kenalan yang bisa menggantikan Zia untuk menjadi pengantinmu. Dan, mereka semua adalah wanita terhormat. Kamu hanya perlu memilihnya saja. Ibu akan mengatur semuanya untukmu. Bagaimana? "
" Aku mencintai Zia, Bu! " datar, tapi sangat menekan.
Teresa menelan ludah, hampir tidak percaya dengan yang di dengarnya. Kenapa anak ini begitu keras kepala? Setelah semua usaha yang dilakukannya untuk menendang gadis miskin itu keluar dari kehidupan mereka, ternyata Alan masih tidak bergeming.
...----------------...
...----------------...
Gedung Bramasta Grup
__ADS_1
" Bulan ini, saham kita naik dua persen, tapi...! "
Di sebuah ruangan yang besar, Raditya Bramasta, pewaris Bramasta Grup, sedang memimpin rapat perusahaan. Dia merasa malas dan jengah dengan laporan yang bertele-tele.
Baru saja ia hendak berkomentar, tiba-tiba bibirnya tertahan karena ada panggilan yang masuk ke ponselnya. Raditya melihat sekilas, matanya terbelalak hampir tidak percaya. Semua orang yang melihatnya, terheran dan bertanya-tanya dalam hati. Apa gerangan yang membuat sang pemuda tampan nan kharismatik itu, terlihat gelisah dan kehilangan ketenangannya?
" Aku...Aku ingin pulang! "
Di seberang telepon, terdengar suara wanita. Satu kalimat yang meluncur dari bibirnya, terdengar begitu menyedihkan di telinga Raditya.
Tatapan mata Raditya semakin gelap, ada rasa yang bergejolak dalam dadanya yang sulit untuk dilukiskan. Antara sedih, gembira, dan juga marah, bercampur seakan-akan merobek seluruh perasaannya.
Suasana menjadi tegang melihat perubahan sikap CEO mereka, tapi tidak ada satupun yang berani bertanya.
' Trek! '
Agak kasar, Raditya menutup laptopnya. Ia langsung berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.
Suasana mendadak riuh tertahan, semua mata mengikuti kemana Raditya berjalan. Shinta, sekretaris pribadinya, bergegas mengikuti penuh kebingungan.
Hampir saja, Shinta menabrak Raditya, ketika tiba-tiba Raditya yang sudah keluar dari ruangan, justru berbalik dan kembali masuk.
Raditya menatap tajam semua orang yang mulai gaduh.
" Rapat ditunda sampai minggu depan. Siapkan presentasi yang bagus! " suaranya lantang, tegas dan penuh tekanan. Hening seketika!
" Shinta! "
" I, iya, Pak! "
" Urus sisanya! "
" Miko! "
" Iya, pak! " Miko, tangan kanan Raditya, menghadap penuh tegang. Ini benar-benar serius!
" Siapkan mobil dan pengawalan khusus. Cepat! "
Pengawalan khusus? Benar-benar tidak biasa! Status Pengawalan Khusus, setidaknya akan melibatkan seratus mobil mewah dengan dua ratus orang security.
" Baik, Pak! "
Miko pun bergegas, tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun, pikirnya. Ada apa ini sebenarnya?
" Kamu dimana sekarang? " tanya Raditya sambil berjalan menuju lift.
" Tepi danau Green Gardens Village ! "
Tek! Langkah Raditya terhenti.
" Aku akan segera kesana! "
Tidak tahu ada perubahan apa, tapi Raditya terlihat semakin muram. Miko yang mengikutinya dari belakang, semakin tertekan.
" Siapkan helikopter ! "
" Baik, Tuan!"
Miko semakin bingung, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menurut.
" Dan ingat, perintahkan orang untuk membongkar lift ini. Ganti! "
__ADS_1
Raditya menendang pintu lift. Kesal, tidak sabar menunggu pintu lift yang tak kunjung terbuka. Sikapnya benar-benar sangat tidak biasa!
" Baik, Tuan! "
" Siapa yang berani menggunakan lift CEO? Aku akan mencarinya nanti dan membuat perhitungan dengannya! " batin Miko.
Lima belas menit kemudian, sebuah helikopter terbang dari atap gedung Bramasta Grup.
Di tempat lain, orang-orang sedang riuh membicarakan seorang gadis yang berdiri termangu di tepi danau. Sudah satu jam lamanya. Gadis itu terlihat galau, tatapannya kosong. Orang-orang khawatir, gadis itu akan melakukan percobaan bunuh diri. Terdengar rumor bahwa pernah ada orang yang bunuh diri dengan melompat ke danau.
" Apa sebaiknya kita memanggil polisi?" tanya seorang perempuan paruh baya.
" Ehmm, bagaimana ya? "
" Coba kalian kesana dan bujuk dia! " sahut yang lain.
" Kalian saja, aku tidak berani! "
" Sepertinya aku pernah melihat gadis itu,"
" Iya, aku juga. Bukankah itu calon menantu keluarga Pratama. Sepertinya aku pernah melihatnya di tv saat dia bertunangan, "
" Apa? Apakah maksudmu, dia si Cinderela dari keluarga Pratama itu? "
" Tidak salah lagi. Itu memang dia! "
" Jadi itu si gadis miskin yang mencoba menipu keluarga Pratama? Sungguh sial keluarga Pratama ! "
" Benar, lebih baik kita tidak usah mempedulikannya, nanti malah ikut sial, "
" Dih, amit-amit dah! Untung saja bukan putraku yang kena sihir gadis jahat itu! "
" Jadi bagaimana kita sekarang ?"
" Ah sudahlah, biarkan saja kalau memang dia ingin bunuh diri. Bukan urusan kita! "
Namun, dugaan orang-orang ternyata keliru. Tidak lama berselang setelah itu, ada sebuah helikopter yang mendarat di tepi danau. Orang-orang memandang takjub! Meski bukan hal yang asing, tapi melihat sebuah helikopter dari jarak sedekat itu adalah hal yang cukup fantastis.
Terlebih, ketika mereka melihat seorang pemuda tampan dengan setelan jas yang mahal turun dari helikopter. Dari penampilannya sudah dapat mengindikasikan bahwa status orang itu tidaklah biasa.
" Bukankah itu Raditya Bramasta dari Bramasta grup? "
" Sepertinya mirip! Tapi untuk apa dia kesini? "
Gadis itu langsung berlari ke arah Raditya dan memeluknya. Matanya yang sudah berkaca-kaca tidak lagi mampu menahan tangis, air mata pun terurai keluar.
" Aku pulang! " isaknya.
Perasaan Raditya membuncah, ia tak bisa berkata-kata. Kedua tangannya yang terhenti di udara, perlahan menyentuh tubuh gadis itu, memeluk dengan erat.
" Tidak apa-apa... Semua... akan baik-baik saja sekarang,"
Orang-orang yang melihat pemandangan itu, justru malah mengambil video dengan smartphone-nya. Mereka mengunngahnya lewat media sosial.
Seorang gadis ingin bunuh diri, gadis yang mirip calon menantu keluarga Pratama dipeluk pria tampan, Raditya Bramasta sudah menemukan pawang, benarkah mereka berpacaran? Apakah itu sebuah perselingkuhan?
Begitulah beberapa judul yang di terbitkan oleh orang-orang melalui akun sosial media mereka. Dan, berita itu pun langsung viral seketika.
" Lihat, mereka sudah mau pergi! " teriak seorang pemuda yang melihat Zia dan Raditya naik ke helikopter.
Tidak lama kemudian, helikopter pun pergi, terbang menjauh dari sana disaksikan oleh orang-orang dengan meninggalkan segenap pertanyaan.
__ADS_1