Selepas Kau Pergi

Selepas Kau Pergi
26. Kejutan Untuk Bara


__ADS_3

Bara menoleh ke arah pintu. Tubuhnya kaku seketika saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.


"Amanda!" pekiknya tertahan.


Amanda menatap ke arah sang suami dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa kecewa, kesal, dan marah bercampur jadi satu dalam hatinya.


Alma yang melihat itu, segera mendekat. Namun Amanda mengangkat sebelah tangannya. Dia memberikan kode agar Alma tak mendekat.


"Tolong tutup pintunya dari luar!" Amanda berkata tanpa menoleh ke arah belakang.


"Tapi, Bu---"


Amanda menoleh dan menatap tajam ke arah Alma. "Patuhi perintah saya. Tutup pintunya dari luar dan jangan ada yang boleh masuk sebelum saya keluar dari ruangan ini," tegasnya.


Alma tak punya pilihan lain. Dia menuruti perkataan Amanda. Gadis itu menganggukkan kepalanya dan segera menutup pintu ruangan Bara.


"Semoga saja nggak terjadi apa-apa," harap Alma.


"Tenang aja. Bu Amanda bukan tipe perempuan bar-bar kok," sahut Ferdy.


Alma menatap heran ke arah Ferdy. "Kamu tahu banyak ya tentang Bu Amanda?" ujar Alma.


Ferdy sedikit kaget mendengar pertanyaan itu dari Alma. "Ya... ya gitu deh! Aku kan udah lama kerja sama Bu Amanda dan Pak Bara. Jadi sedikit banyak aku tahu tentang mereka," jelas Ferdy.


Alma manggut-manggut mendengar penjelasan Ferdy.


"Yuk balik kerja lagi!" ajak Ferdy.


Lagi-lagi Alma menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berjalan menjauh dari ruangan Bara.


Sementara itu, Mia yang baru saja tiba menjelang makan siang tak luput dari interogasi Destyan. Gadis itu menyerahkan tugasnya menjaga booth kepada Andi. Sedangkan dia memilih berbicara dengan Mia.


Destyan menatap rekan sekaligus sahabatnya itu dengan tatapan menyelidik. Matanya menatap Mia dari atas hingga bawah.


Mia tampak tak nyaman saat ditatap seperti itu oleh Destyan.


"Biasa aja dong kalau lihat!" protes Mia.


Destyan tak menghiraukan perkataan sang sahabat. Dia masih saja menatap Mia dengan tatapan tajam.


"Semalam elo ngapain aja? Sampai telat hampir setengah hari?" tanya Destyan.


Mia terlihat gugup saat mendengar pertanyaan Destyan. Tapi dia berusaha menutupi rasa gugupnya itu.

__ADS_1


"Enggak ke mana-mana. Gue dari rumah Alma langsung pulang kok. Terus nggak ke mana-mana lagi," jawabnya.


Destyan tersenyum miring. "Jangan bohong! Elo ketemuan sama siapa semalam?" tanya Destyan.


Mia semakin gugup. Dia tak menyangka jika Destyan akan bertanya seperti itu padanya.


"Elo habis ketemuan sama---"


Mia meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya. Memberikan kode agar Destyan mengecilkan suaranya. Dia tak ingin ada yang mendengar percakapan mereka saat ini.


"Kenapa? Apa yang elo sembunyiin dari gue dan Alma?" Destyan semakin mendesak Mia untuk berkata jujur.


Mia tak punya pilihan lain. Dia harus bicara yang sebenarnya atau Destyan tak akan melepaskan dirinya saat ini.


"Tapi elo jangan cerita ke Alma ya. Biar gue aja yang cerita sendiri ke dia," pinta Mia.


Destyan mengerutkan keningnya. Tapi sedetik kemudian dia mengangguk setuju. Dia berjanji untuk tak memberitahu Alma soal ini.


Mia menarik napas lega saat melihat anggukan kepala Destyan. Kemudian meluncurlah sebuah cerita dari mulut Mia. Cerita yang mungkin tak bisa dipercayai oleh Destyan atau bahkan orang lain.


"Gue udah lama dekat sama dia, Des. Tapi baru sekarang ada keberanian buat lebih dari sekedar temenan," ucap Mia.


"Terus kenapa Alma nggak boleh tahu soal ini? Dia kan temen kita juga. Dia pasti bakalan senang banget kalau dengar berita gembira ini!" tanya Destyan.


"Kenapa harus malu sih? Kan elo pacaran sama pria single. Bukan sama suami orang, kan?" potong Destyan cepat.


Mia terdiam. Dia tak bisa menjawab pertanyaan sederhana yang terlontar dari mulut sang sahabat.


"Ya udah kalau elo emang nggak mau cerita alasannya. Tapi yang harus elo tahu, kita berdua selalu dukung apapun keputusan elo," ucap Destyan akhirnya.


Mia tersenyum. Dia tahu Destyan tak akan mendesaknya. Dia akan sangat mengerti apapun keadaannya.


...****************...


Matahari telah berada di ufuk barat. Semburat jingga terlihat sangat cantik sore ini.


Alma tampak terburu-buru keluar dari gedung tempatnya bekerja.


"Buru-buru banget, Al?" tegur Ferdy.


"Eh, Mas Ferdy. Iya nih. Udah dijemput soalnya," jawab Alma. Senyum manis tergambar jelas di wajahnya.


"Oh! Enggak bareng sama Pak Bara?" ujar Ferdy lagi.

__ADS_1


Alma menoleh sembari mengernyitkan keningnya. Darimana pemuda itu tahu jika dirinya sering pulang bersama dengan Bara.


"Enggak usah heran. Semua orang di kantor ini juga udah tahu kok. Kamu sering pulang bareng sama Pak Bara," ucapnya. Seolah dia tahu apa yang ada di pikiran Alma.


"Jangan salah paham. Aku menerima ajakan pulang bareng sebagai bentuk terimakasih Pak Bara. Karena aku menyelesaikan tugas dengan baik," sahut Alma.


Ferdy tersenyum miring. "Oh ya? Bukan karena alasan yang lain? Seperti---"


"Tolong jangan sebarkan gosip murahan di kantor. Karena aku dan Pak Bara nggak ada hubungan apa-apa. Hubungan kami hanya sebatas atasan dan sekretarisnya. Enggak lebih dari itu!" Alma memotong ucapan Ferdy yang dinilainya sudah keterlaluan itu.


"Sekali lagi aku tegaskan. Hubungan aku dengan Pak Bara hanya sebatas atasan dan sekretaris. Enggak lebih!" tegasnya.


Setelah berkata demikian, Alma segera berlalu pergi dari hadapan Ferdy. Meninggalkan pemuda itu dengan perasaan bersalahnya.


Sementara itu di luar kantor, Garland telah menunggunya dengan sabar. Dia tetap duduk di atas motornya sembari memainkan ponselnya.


"Hai! Udah lama ya!" Alma menepuk pundak sang kekasih dengan lembut. Seulas senyum tergambar di wajahnya.


Garland terlonjak kaget. Dia lantas menoleh ke belakang. Senyumnya tergambar jelas saat melihat sang kekasih berdiri di belakangnya.


"Kita pulang sekarang?" tanya Garland.


Alma menganggukkan kepalanya. "Eh tapi mampir beli boba dulu boleh?"


Garland mengacak rambut sang kekasih dengan gemas. "Boleh dong, Sayang. Apa sih yang enggak buat kamu," ucapnya.


"Beli martabak juga boleh?" tanya Alma.


Garland tersenyum dan mengangguk. "Iya boleh," jawab Garland.


Alma tersenyum mendengar ucapan sang kekasih. Dia lantas memakai helmnya dan segera naik ke boncengan Garland.


"Udah siap?" tanya Garland saat Alma sudah ada di boncengannya.


Alma menganggukkan kepalanya. "Udah!" jawab Alma.


Garland tersenyum. Dia kemudian melajukan motornya perlahan. Meninggalkan pelataran parkir gedung bertingkat itu.


Sepeninggal Alma dan Garland, seorang pemuda dan seorang wanita keluar dari dalam. gedung itu.


"Terus dekati dia dan cari tahu hubungannya dengan Bara. Jangan lepaskan dia sebelum kamu tahu semuanya!" ucap sang wanita.


"Tenang aja. Aku pasti bakalan cari tahu semuanya. Jangankan tentang hubungannya dengan Bara. Tentang silsilah keluarganya pun akan aku cari tahu," jawabnya.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum sinis. Kemudian tanpa berkata apapun dia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan gedung itu.


__ADS_2