
Dua tahun lalu, karena sebuah pertemuan yang tidak di sengaja, Kezia nekad meninggalkan rumahnya demi seorang Alan Pratama.
" Kau yakin ingin pergi? " tanya ayahnya.
" Maaf, Ayah. Aku sangat mencintainya! " jawab Kezia penuh dengan keyakinan.
" Ada banyak pemuda tampan yang menantikanmu. Apakah mereka tidak cukup baik untukmu? "
" Perasaan tidak bisa dipaksakan, ayah! "
" Hmm, baiklah! Tapi apa dia juga mencintaimu? "
" Dia harus mencintaiku. Tepatnya, aku akan membuatnya mencintaiku! "
Rayhan Bramasta tersenyum.
" Ya, tentu saja! Seharusnya dengan kepribadian dan statusmu, tidak akan ada pemuda manapun yang berani menolakmu. "
" Tidak, ayah! Aku tidak akan menggunakan status keluarga Bramasta untuk membuat dia mencintaiku. "
Dahi Rayhan berkernyit.
" Baik! Ayah tidak bisa memaksa, ayah hormati keputusanmu. Tapi, jika dalam dua tahun kamu tidak bisa membuatnya luluh, kamu harus bisa menerima keputusan yang ayah buat! "
Semua kenangan itu, masih melekat jelas dalam ingatan Rayhan Bramasta. Seketika, tubuhnya gemetar ketika ia mendapatkan kabar bahwa anak gadis satu-satunya ingin pulang ke rumah. Dengan segera, Rayhan memerintahkan seluruh pekerja yang ada di rumahnya untuk menyambut kedatangan Kezia dengan meriah.
Satu hal yang membuat Rayhan bertanya-tanya, Kezia pulang dengan membawa seorang suami, atau pulang dengan membawa kekalahan. Ada sedikit rasa kesal pada diri Rayhan, karena Raditya tidak memberikan informasi yang lebih mendetail.
" Tuan, nona sudah datang! " senyum Luna terus merekah, dia adalah pelayan kesayangan Kezia.
Merupakan sebuah berkah yang sangat besar bagi Luna, bisa bekerja di keluarga Bramasta. Kalau bukan karena Kezia adalah orang yang sangat lembut hatinya, mungkin dia masih menjadi seorang tunawisma sampai sekarang.
Saat Kezia pergi dari rumah, Luna adalah orang yang tidak berhenti menangis. Karenanya, Luna sangat antusias ketika tahu bahwa nona mudanya akan segera pulang.
Rayhan mengikuti langkah Luna, menyambut kedatangan Kezia bersama para pelayan dan security di teras rumah.
Mereka berbaris rapi di sisi kiri dan kanan hingga sampai ke depan pintu gerbang, memberikan salam hormat pada Kezia dan Raditya yang berjalan berdampingan.
__ADS_1
" Ayah, aku pulang! " Kezia berlari memeluk Rayhan.
Perasaan Rayhan semakin bergejolak saat Kezia datang ke pelukannya.
" Ya, selamat datang kembali di rumah, nak! "
" Eh, nona, ayo ikut denganku! Aku sudah membersihkan kamar nona, semuanya..."
" Luna, cepat sekali kau merebutnya dariku! " Rayhan agak sedikit kesal, tapi Luna hanya nyengir saat ditegur.
" Maaf Tuan, Nona pasti lelah, jadi biarkan nona istirahat dulu ya! " Tanpa malu-malu, Luna memisahkan pelukan mereka dan menarik Kezia ke kamar.
" K-kau, hemhhh! "
Raditya dan Kezia tersenyum, semua orang sudah paham dengan karakter Luna yang agak centil dan selalu ingin menempel pada Kezia. Terkadang, Rayhan suka cemburu dengan kedekatan mereka.
Ada banyak hal yang ingin Rayhan perbincangkan dengan Kezia, tapi Raditya memberikan kode padanya untuk menahan diri terlebih dahulu.
" Luna, sepertinya kau sudah bertambah tinggi sekarang! "
" Tentu saja! Aku banyak minum susu, tidak seperti seseorang yang kecanduan kopi," celoteh Luna. Wajah Rayhan seketika menjadi muram.
" Ehm, hanya kadang-kadang. Sungguh, hanya sesekali saja kok! " kilah Rayhan.
" Terakhir kali asam lambungnya naik, nona. Tuan bahkan menolak untuk dirawat di rumah sakit. Dokter Handi dan Tuan Radit sampai kesal dengan ulahnya. "
Kezia bersedekap dengan tatapan mata yang tajam. Rayhan jadi salah tingkah dan merasa bersalah.
" Ehm, itu... itu hanya kecelakaan, jangan dengarkan omongannya, yah! "
" Hemh, benarkah? "
" Ah, sudahlah. Kau jangan menatapku seperti itu. Luna, awas kamu ya! Aku akan menghukummu nanti! " Rayhan mengalihkan pandangan pada Luna, berusaha mengubah topik pembicaraan.
" Ah, nona... Nona Zia ingin makan apa? Aku akan siapkan makanan kesukaan nona! " Luna berusaha kabur dari tanggung jawab terhadap Rayhan.
" Apa saja boleh, asal kau yang masak, pasti enak, "
__ADS_1
" Keahlian memasakku sudah berkembang banyak. Aku banyak belajar dari para chef di sini. " Luna membusungkan dada, merasa bangga.
" Oh, selamat untukmu. Mungkin nanti aku bisa merekomendasikan kamu untuk jadi chef di restoran keluarga Bramasta! "
" Sebenernya sudah ,nona. Aku sudah dapat rekomendasi dari Chef Jona, katanya aku bisa melamar di restoran manapun yang aku mau, tidak akan ada yang menolakku! "
" Lalu? "
" Hanya saja ada seseorang yang tidak ingin aku bekerja di restoran. Dia bilang masakanku tidak enak, hambar dan tidak ada rasa. Tidak pantas di sajikan di restoran. Kau tahu, nona, padahal Tuan Radit sangat menyukai masakanku? "
Raditya dan Kezia tertawa kecil, mendengar celotehan Luna. berbeda dengan Rayhan yang justru terus berwajah muram.
" Sepertinya Tuan tidak ingin kehilanganmu. Akan sangat sulit menemukan orang yang bisa dia marahi setiap hari, bukan? "
" Aku mana ada berpikir seperti itu. Memang masakannya tidak enak," elak Rayhan.
" Hah, tentu saja. Bagi Tuan, selain masakan nona Kezia, mana ada yang enak. Chef Jona aja dimarahi, katanya suruh belajar masak lagi. Kalau tidak ada Tuan Raditya, semua chef di rumah ini pasti sudah di pecat, nona! "
Chef Jona adalah seseorang yang sangat terkenal, seorang chef bertaraf internasional. Kemampuan memasaknya sangat di akui bahkan oleh keluarga kerajaan Inggris.
Raditya dan Kezia terbahak, tidak tahan dengan celotehan Luna. Hanya Rayhan yang terus berwajah muram, dia dan Luna memang seperti itu, selalu saja bertengkar.
Mereka pun tiba di pintu kamar, Kezia membukanya dan segera masuk.
" Kau istirahat saja dulu, bebaskan pikiranmu biar lebih rileks. " kata Raditya, Kezia hanya mengangguk.
" Ayo ayah, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu! "
Agak sedikit memaksa, Raditya menarik tangan Rayhan. Meski masih kangen dengan Kezia, terpaksa Rayhan mengalah untuk kali ini.
Kehidupan Kezia selama dua tahun terakhir ini, Raditya tentu saja tahu, tapi tidak dengan Rayhan. Hal itu memang karena Kezia yang meminta Raditya untuk merahasiakannya. Toh, itu juga merupakan keputusan yang sudah Kezia ambil sendiri. Sekalipun Rayhan tahu, dia juga tidak berani ikut campur dalam hal ini.
Itu juga karena didikan Rayhan yang mengharuskan anak-anaknya untuk selalu bertanggung jawab atas apa yang di perbuatnya.
Kezia membuka tirai kamarnya, memandang keluar untuk menikmati senja.
Ada perasaan sesak yang tiba-tiba menjalar ke dalam hatinya. Dia masih belum bisa melupakan hari-harinya saat bersama Alan. Meski dia berusaha untuk terlihat tegar, tapi tetap saja, hatinya adalah sesuatu yang tidak bisa ia paksakan.
__ADS_1
Lelah iya, sedih pun iya. Tapi jika ia harus tetap bertahan dengan kondisi seperti itu, maka itu adalah sebuah kebodohan. Dia tidak bisa terus menerus berharap pada seseorang yang bahkan tidak lagi peduli padanya.