Selepas Kau Pergi

Selepas Kau Pergi
28. Siasat Licik


__ADS_3

Seharian ini Bara merasa tak tenang. Hatinya selalu diliputi perasaan cemas dan was-was. Setiap kali ada telepon masuk atau chat masuk, jantungnya berdebar kencang. Seolah ada yang menabuhnya dari dalam.


Suara ketukan di pintu membuat Bara terlonjak kaget. Dia mengelus dadanya dan mencoba mengatur irama jantungnya yang tak beraturan.


"Permisi, Pak!" Alma membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Bara.


Bara hanya melihatnya sekilas. Kemudian dia kembali menatap ke arah lain.


"Sudah ditunggu di ruang meeting oleh Pak Kanzen. 15 menit lagi meeting akan di mulai," ucapnya.


Bara mendengus kesal. Dia hari ini tak berniat untuk ikut meeting atau apapun itu. Dia hanya ingin tahu siapa yang telah mengirimkan foto-foto itu ke rumahnya.


"Kamu duluan aja. Sebentar lagi saya nyusul," sahut Bara.


Alma mengangguk. Dia berbalik arah dan berjalan menuju pintu. Namun baru beberapa langkah, dia menjatuhkan map yang dibawanya.


"Duh pakai jatuh segala lagi," kesalnya.


Dia membungkukkan badannya sehingga memperlihatkan p****tnya yang seksi.


Bara menelan salivanya dengan susah payah. Mata melotot sempurna saat melihat pemandangan indah di depan matanya.


Merasa ada yang mendekat ke arahnya, Alma segera menegakkan badannya lagi. Dia tersenyum licik sebelum menoleh ke belakang.


"Ada apa, Pak?" tanya Alma.


Bara mendengus kesal saat Alma menegakkan badannya. Saat Alma menunduk tadi dia berpikir bisa menikmati bongkahan bulat itu sedikit lebih lama. Tapi ternyata, dia salah. Alma menegakkan badannya sebelum ia bisa menyentuhnya.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Bara berjalan mendahului Alma. Dia menyentak pintu dengan kasar dan keluar dari ruangannya dengan perasaan yang teramat dongkol.


"Dasar mesum! Gue nggak akan biarin elo nyentuh tubuh gue dengan mudah, Bara!" Alma bergumam dengan seringai menghiasi wajahnya.


Di luar ruangan, Ferdy tampak sedang membereskan file-file yang diberikan oleh Alma kemarin. Dia tampak fokus pada pekerjaannya. Namun wajahnya terlihat khawatir dan cemas. Dia sesekali melihat ke arah pintu ruangan Bara yang masih tertutup.


"Ke mana sih nih anak? Lama banget di dalam sana? Padahal Bara udah keluar. Harusnya kerjaan dia lebih gampang dong!" ucapnya.


Ferdy berdecak kesal. Dia kembali fokus pada pekerjaannya. Saat tengah fokus pada pekerjaannya, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya bersamaan dengan Alma yang keluar dari dalam ruangan Bara.


Ferdy tersenyum saat membaca pesan itu. "Bisa diandalkan juga ternyata," ucapnya.


Alma berjalan melewati Ferdy sembari tersenyum. Dia kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang meeting.


Ferdy menatap kepergian Alma dengan tatapan yang tak seperti biasanya. Kali ini jantungnya berdebar kala melihat senyuman Alma. Hatinya juga berbunga-bunga kala melihat wajah dengan senyum termanis itu.


"Cie... cie...! Ada yang lagi naksir sama cewek nih?" goda seorang perempuan yang duduk di samping Ferdy.


"Enggak. Siapa yang lagi jatuh cinta sama Alma!" ucap Ferdy spontan.

__ADS_1


Perempuan bernama Cheryl itu tersenyum mendengar ucapan spontan dari Ferdy.


"Cie... cie...! Dia salting lho. Padalah enggak ada yang nyebut merek. Eh dia keceplosan!" Cheryl semakin bersemangat menggoda Ferdy.


Wajah Ferdy memerah karena malu. Dia bangkit dari kursi yang didudukinya.


"Mau ke mana, Fer? Nyusulin Alma meeting?" tanya Cheryl.


Ferdy memutar bola matanya dengan malas. "Mau ke pantry. Mau bikin anak eh bikin kopi," jawab Ferdy.


Mendengar jawaban Ferdy, kontan saja Cheryl dan beberapa orang yang ada di ruangan itu tertawa. Mereka menertawakan Ferdy yang terlihat salah tingkah hari ini.


...****************...


Senja terukir di atas mega. Semburat warnanya begitu cantik dan mempesona. Alma tampak sedang menikmati senja sembari menunggu Garland menjemput dirinya. Untuk mengusir rasa bosan, dia memainkan ponsel yang ada di tangannya.


"Lho, Al. Belum pulang?" tanya Ferdy.


"Eh, Mas Ferdy. Belum, Mas. Belum dijemput aku," jawabnya.


Ferdy manggut-manggut mendengar jawaban Alma. Dia kemudian ikut duduk di kursi panjang itu.


"Aku temenin ya!" ucap Ferdy.


Alma mengerutkan keningnya. Dia heran dengan sikap Ferdy hari ini. Tapi dia tak bisa menolak. Dia akhirnya mengangguk saja saat mendengar tawaran Ferdy.


Hening menyelimuti kedua insan itu. Tak ada yang bersuara. Hanya helaan napas yang sesekali terdengar keluar dari mulut keduanya.


Ferdy semakin salah tingkah dibuatnya. Wajahnya memerah karena malu. Alma pun demikian. Dia juga merasa salah tingkah dan wajahnya juga memerah.


"Mas Ferdy duluan deh," ucap Alma.


"Enggak. Kamu duluan aja," sahut Ferdy.


Alma menggeleng. "Mas Ferdy aja," ucapnya lagi.


"Enggak. Kamu duluan aja," sahut Ferdy.


Diam dan hening. Tak ada yang bersuara lagi. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing lagi.


"Kamu...."


Lagi dan lagi, keduanya bersuara secara bersamaan. Wajah Alma dan Ferdy memerah sempurna. Jantung keduanya juga berdetak puluhan kali lebih cepat.


"Alma duluan deh!" ucap Ferdy.


"Enggak. Mas Ferdy duluan," sahutnya.

__ADS_1


"Alma aja yang duluan. Baru setelahnya Mas Ferdy yang ngomong," ucap Ferdy.


Alma mengernyitkan keningnya. Dia semakin merasa heran. Sejak kapan Ferdy menjadi jaim seperti ini? Biasanya juga dia nggak seperti ini?


Hening kembali menyelimuti keduanya. Tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya. Alma kembali fokus pada ponselnya. Sedangkan Ferdy menatap ke arah lain di sudut tempat itu.


"Kamu... udah lama pacaran sama cowok kamu ini, Al?"


Suara Ferdy memecah keheningan yang menyiksa itu.


"Belum sih, Mas. Baru beberapa bulan aja," jawab Alma.


Ferdy manggut-manggut mendengar jawaban Alma.


"Kamu dulu kerja di mana, Al? Sebelum kerja di kantor ini?" tanya Ferdy.


"Aku dulu sales force di perusahaan provider," jawab Alma.


"Wah! Kamu jago dong kalau jualan?" ujar Ferdy.


Alma tersenyum. "Enggak juga, Mas. Biasa aja kok," jawab Alma.


Ferdy semakin tertarik dengan kepribadian Alma yang terkesan merendah itu.


"Em... cowok kamu kerja di sana juga?" tanya Ferdy.


Alma menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Cinlok nih ceritanya?" ujar Ferdy.


"Apa, Mas? Cilok? Aku nggak suka cilok. Sukanya cireng," jawab Alma asal.


"Cinlok, Al. Cinlok! Bukan cilok!" ucap Ferdy gemas.


Alma tertawa mendengar ucapan Ferdy. "Becanda kali, Mas! Enggak bisa diajak bercanda ih, Mas Ferdy ini," kata Alma.


Ferdy tersenyum. Hatinya semakin tak karuan saat melihat senyuman dan mendengar suara tawa Alma. Dia semakin tertarik dengan gadis di sebelahnya ini.


Saat tengah asik bercanda, tiba-tiba Alma mendengar suara sepeda motor Garland. Dia segera bangkit dari tempat duduknya.


"Udah dijemput?" tanya Ferdy.


Alma mengangguk. Dia kemudian keluar dari lobi dan berjalan menghampiri sang kekasih. Ferdy mengikuti langkah Alma dari belakang.


"Duluan ya, Mas!" ucap Alma.


Ferdy menganggukkan kepalanya. Dia mendesah pelan kala melihat motor melaju meninggalkan pelataran parkir gedung bertingkat itu.

__ADS_1


"Ternyata selera kamu rendah juga ya, Fer!" ucap seseorang.


"Setelah putus dari aku, ternyata kamu nggak bisa ngedapetin cewek yang lebih dari aku," lanjutnya.


__ADS_2