Semesta Cinta

Semesta Cinta
part 11


__ADS_3

Alpin berlari dengan cepat saat mendengar Anisa menangis di telpon. Anisa menelponnya, memintanya untuk datang kerumahnya. setelah menerima alamat


yang dikirim Anisa tak pikir panjang lagi Alpin langsung berlari menuju parkiran rumah sakit.


"hanya Alpin yang bisa membantu ku saat ini." desah Anisa saat memutuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi dengannya dulu sehingga melupakan semua kenangan itu.


dia hanya ingin tahu apa yang telah terjadi dulu hingga Erick begitu membencinya. Alpin pernah mengatakan kalau dia dari sekolah yang sama saat SMP makanya dia mengenal Anisa. siapa tahu meski tidak sekelas Alpin tahu ada peristiwa buruk di sekolah. buktinya dia juga mengenal dirinya.


"kak, malam ini kita makan di luar ya? aku ingin sekali makan seafood."


"baiklah."


Anisa selalu di suguhkan pemandangan yang menyakiti nya semenjak kedatangan Sasa. Erick seperti sengaja melakukan nya.


ting tong...


bel berbunyi kedua kalinya. Anisa bergegas membuka pintu.


"Alpin, masuklah."


Erick langsung bangkit saat Anisa menyebut nama yang di kenalnya.


"berani sekali kau membawa lelaki lain kerumah?" bentaknya. Alpin menarik Anisa kebelakang punggung nya.

__ADS_1


"jangan salahkan anisa. dia belajar dari mu." Anisa memang menceritakan perihal kedatangan sasa padanya.


Erick bungkam. lalu menarik kerah baju Alpin.


"dengar..dia istri ku. jika kau berani mendekati nya..habis kau."


"kakak, sudahlah." Sasa menarik lengan Erick.


"biarkan saja mereka." Sasa tak senang saat mendengar Erick mengatakan kalau Anisa istrinya.


"huh.. memang serasi. ular berbisa bersanding dengan buaya." Alpin menatap Sasa dengan pandangan meledek.


"Alpin sudahlah. kita pergi dari sini." anisa segara menarik Alpin membawanya ke belakang rumah.


Sasa menggigit bibirnya. kedatangan Alpin membuatnya gusar. dia tahu Alpin pasti akan membalas dendam padanya. kesalahannya dulu begitu fatal.


"kak, apa dia sengaja mendekati Anisa."


"cih.. tak akan ku biarkan."


"dia.. pasti ingin membalas semua yang telah aku lakukan."


"jangan takut. kau tak bersalah."

__ADS_1


Erick mengelus rambut sasa mencoba menenangkan. Sasa merasa ini tidak akan baik-baik saja. Erick tak tahu kronologi sebenarnya. Erick hanya mendengar persi ceritanya saja, dia tak tahu kalau Sasa terlalu banyak menutupi kebohongan darinya.


"maaf.. tak seharusnya aku menyuruh mu datang."


"sudahlah. kenapa kau menangis saat di telpon?"


Anisa memberikan selembar foto. Alpin menerima nya.


"itu foto kelas ku dulu. Erick dan aku sekelas, tapi aku tak pernah ingat itu."


Alpin mengeryit. tak ingat. jadi dia benar-benar tak mengingat kejadian dulu. pantas saja saat Alpin menanyakan kalung liontin yang di pakai nya dari mana Anisa menjawab tak tahu. kalung itu dia berikan dulu saat mencoba menghibur Anisa karena Erick telah mempermalukan nya di depan umum. baju dan roknya sobek karena ulah Erick.


Alpin tahu Erick melakukan itu untuk membalaskan dendam Sasa. tanpa menanyakan terlebih dulu apa yang terjadi sebenarnya. Alpin mengetahui semuanya karena Sasa yang mengatakannya sendiri padanya. mengatur rencana busuk untuk membuat Anisa terluka.


"kenapa kau diam saja." alpin tersadar dari lamunannya.


"ah.. iya. aku rasa mengenal orang-orang ini meskipun tak begitu jelas."


"benarkah? jadi kau bisa membantuku untuk mengingat semuanya." Anisa terlihat senang.


"ya.. akan ku coba membantu mu."


Erick sengaja menguping di balik pintu. dia hanya ingin tahu apa yang mereka bicarakan. mendengar percakapan mereka membuat Erick semakin merasa kalau Anisa akan segera mengetahui semua nya.

__ADS_1


takdir begitu berbelit meliputi hidup mereka.


__ADS_2