Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 51


__ADS_3

"good job, kau tak hanya tampan tapi juga pintar." pujinya pada dirinya sendiri, senyum lebar merekah begitu dia berhasil mendapatkan keberadaan Sasa sekarang.


dengan cepat dilan menghubungi Alpin, memberi tahukannya. dia tak yakin jika harus menemui Sasa sendirian.


"sekarang uangku akan semakin bertambah banyak jika misi ini berhasil" dilan memacu motor nya menuju lokasi yang muncul di layar handphone nya. Erick memang menjanjikan imbalan yang cukup besar jika berhasil membawa Sasa ke hadapan nya.


Alpin mencoba menetralkan pikiran nya yang sedang kesal, dia tak akan diam saja setelah dilan memberikan alamat Sasa. Alpin akan mencoba melupakan kekesalan nya pada Erick, sekarang yang terpenting adalah segera menemui Sasa.


sebuah gudang tua yang terletak cukup jauh dari jalanan adalah tujuan utama yang harus di datangi nya sekarang. mungkin dilan sudah menunggunya. sebelum menuju ke sana Alpin menghubungi polisi dan menyusun rencana untuk menggerebek nya.


brak...


dilan menendang pintu yang mulai usang dan rapuh itu dengan keras. matanya mengedar ke ruangannya yang begitu berdebu dan gelap. dilan merogoh sakunya mengambil pemantiknya, untuk dia selalu membawa nya. pemantik dengan senter kecil di ujungnya sangat lah berguna.


"euh.. tolong aku.." dilan menajamkan pendengarannya saat mendengar suara seseorang yang meminta tolong.


kakinya berhenti melangkah saat melihat istri reza yang tergeletak di lantai dengan kondisi mengkhawatirkan.

__ADS_1


"yah.. Aina. kau tak apa-apa?" dilan mengangkat tubuh Aina menopang kepala nya di paha. "kenapa kau ada disini?" tanyanya.


"tolong anakku..."rintih Aina membuat dilan melihat perut besar Aina. "aaah... perut ku sakit."


"ah.. bagaimana mana ini?" dilan sama sekali tak tahu cara menangani orang hamil.


"dilan... apa yang terjadi?"


dilan bersyukur saat mendengar suara Alpin.


"aku di dalam. cepat lah kemari" teriak dilan.


"apa ini perbuatan Sasa jugakah." gumamnya.


"Hei.. cepat tangani ini, kau kan dokter."


"aku hanya dokter anak." ucap Alpin menegaskan. "tunggu, aku akan menghubungi rumah sakit."

__ADS_1


dilan mengangkat tubuh Aina lalu membaringkan nya di atas kursi panjang yang ada di sana.


"kau tunggulah di sini. aku akan mencari ke berandaan Sasa. aku yakin dia tak seorang diri."


"aku sudah menghubungi polisi. tempat ini sudah di kepung. kau tenang saja."


dilan menghentikan langkahnya lalu mengangkat jempolnya, memuji Alpin.


"tetap saja. aku tak yakin Reza baik-baik saja. aku akan mencarinya sekarang."


dilan pergi, menaiki motornya. Alpin segera menenangkan aina yang terus mengerang karena rasa sakit pada perut nya. sebuah bercak darah pada bajunya membuat Alpin yakin pasti bayi di dalam perut nya kini dalam bahaya.


"tarik napas dalam-dalam.." perintahnya. Aina mengikuti instruksi Alpin. "menghembuskan perlahan."


"aaahhhh...." Aina terus melakukan nya berulang kali hingga merasakan sedikit lebih baik. Alpin terus menerus melakukan hal yang membuat Aina melupakan rasa sakitnya. sebagai seorang dokter ini lah bukan hal yang sulit baginya.


"bos, tubuhnya sudah tak bergerak."

__ADS_1


"huh.. cek napas nya."


dilan turun dari motornya saat melihat sekumpulan orang tak jauh dari tempatnya. matanya memicing mencoba melihat siapa orang-orang itu. malam yang gelap membuat dilan sangat sulit melihat mereka dengan jaraknya sekarang.


__ADS_2