
Erick tidak bisa tidur. dia terus mondar-mandir di kamarnya. sudah mau tengah malam Anisa belum juga kembali, kabar pun tak ada. Erick khawatir terlebih pada Elson. dia tak ingin jauh dari putranya sendiri. kenapa Anisa membawa elson tanpa sepengetahuan nya.
"kak, ini sudah larut. tidurlah. besok aku akan mencari Elson." Sasa duduk di tepi kasur dengan sedikit rasa kesal. dia tak suka melihat Erick begitu peduli pada Anisa dan Elson.
"kau tidurlah. aku akan keluar sebentar."
Sasa semakin merenggut. jika sudah seperti ini Erick susah sekali di bujuk.
"ya, kau cari saja sampai ujung dunia. kuharap kedua orang itu mati." rutuknya.
anisa menatap wajah Rahma dengan lekat. wajah yang dulu selalu tersenyum cantik kini begitu tirus dan pucat.
"Anisa, sayang.." suara rahma sangat pelan sampai terdengar seperti bisikan.
Anisa menggenggam tangan Rahma dengan erat. ia tak melepaskan tangan ini lagi sekarang.
"Bu..maafin Nisa. seharusnya dulu nisa ikut ibu saja." Isak Anisa.
"putriku. kau satu-satunya harapan ibu sekarang. jangan menyerah. kau harus kuat." Rahma mengangkat tangan nya dengan susah payah untuk menyentuh pipi anisa.
"lawan ketidak Adilan ini. perjuangankan hakmu."
"Bu.. ku mohon, jangan banyak bicara. istirahat lah."
"pulanglah. ibu baik-baik saja."
"tidak. aku akan menemani ibu disini."
__ADS_1
"tidak nisa. pulanglah. ibu baik-baik saja."
Anisa terdiam. dia tak yakin meninggal kan ibunya sendiri lagi. dia tak mau pulang.
Rahma meraih tangan Anisa lalu mencium telapak tangan nya.
"tangan ini.. gunakan untuk membalas semua penderitaanmu. pulang lah."
"mm.. baiklah. besok aku akan kembali." Anisa mencium kening Rahma lalu beranjak pergi.
hanya Alpin yang terus menemani nya sampai saat ini. dia rela tak pulang demi Anisa. malam ini pun Alpin mengantar Anisa pulang setelah menitipkan Elson pada temannya zean atas permintaan Anisa.
Anisa sengaja tak membawa elson pulang. dia sudah memutuskan untuk keluar dari rumah itu. dia tak ingin lagi menderita seperti ini, sudah cukup kesabarannya selama ini.
Alpin mengikuti Anisa masuk kedalam rumahnya. dia tak peduli dengan Erick yang berdiri di depan pintu dengan pandangan sangat marah.
"mana Elson.." Erick baru sadar ternyata Anisa tak membawa elson bersama nya.
"dia anakku." ujar Anisa. lalu pergi ke kamarnya.
Erick dan Alpin saling melempar pandangan.
"tak punya malu. kau menggoda istri orang."
Alpin ingin tertawa mendengarnya, seperti sebuah lelucon yang konyol.
"apa urat malu mu sudah tak berfungsi. sehingga tak sadar apa yang telah kau lakukan selama ini. membawa selingkuhan kerumah." Alpin menyenderkan tubuhnya di tembok. wajahnya begitu tenang di banding erick, yang terlihat marah dan begitu emosi.
__ADS_1
"kau.." Erick melayangkan pukulannya tapi dengan cepat di tangkis Alpin. dia tak mau berkelahi dengan orang yang menurut nya sangat dungu.
tak begitu lama Anisa kembali dengan sebuah koper besar.
"kau.. mau kemana?" tanya Erick seraya menahan tangan Anisa.
Anisa menepis tangan Erick dengan kuat.
"aku pergi." ucapnya dingin.
"tidak bisa. kau istri ku."
"istri?" Alpin terkekeh. dia merangkul bahu Anisa. "dia milikku sekarang."
"sial.. kau.."
"berhenti sampai disini. aku muak...aku muak dengan mu. aku benci kau Erick. aku benci semua tentang mu.." jerit Anisa. membuat Erick mematung. baru kali ini dia lihat Anisa semarah ini. sorot matanya begitu menyiratkan kebencian.
Anisa pergi dengan Alpin di belakang nya. Erick hanya bisa membisu. dia terlalu bingung dengan apa yang terjadi. kenapa begitu sakit rasanya mendengar Anisa mengatakan kata benci.
hembusan angin begitu dingin, membuat anisa menggigil. Alpin yang melihat Anisa menggosok kedua tangannya langsung membuka jaketnya dan memakaikannya pada anisa. Anisa merasa kan jantungnya berdetak kencang, dia merasakan tangan dingin Alpin menyentuh leher nya.
"lebih baik bukan?" bisik Alpin. Anisa mengangguk malu.
Alpin membukakan pintu mobil untuk Anisa. perhatian yang begitu besar dia lakukan untuk anisa.
Erick menyipitkan matanya dan mengerutkan alisnya, rasa sakit perih di bagian dada melihat adegan itu. kemarahannya semakin memuncak sampai ke ubun-ubun. dia menendang apapun yang ada di dekat nya.
__ADS_1
"aAaaahhhhhh...." teriaknya kesal. "tak akan ku biarkan kau merebutnya dariku."