Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 43


__ADS_3

sedari tadi dilan terus mendengus kesal karena Erick tak kunjung juga datang, dia tak mau menyaksikan pembunuhan yang tak diharapkan ini terjadi. sudah 15 menit orang di balik pohon itu terlihat begitu ragu, langkah nya sangat pelan dan tangan yang memegang belati sedikit bergetar.


dilan masih membiarkan gerak-gerik orang itu selama masih belum jauh dari tindakan nya.


"sial.." dengus dilan begitu melihat pergerakan yang di luar dugaan nya. orang itu mempercepat langkahnya.


"Anisa.. awas...." teriak dilan seraya berlari dengan cepat ke arah anisa. sebisa mungkin menarik Anisa dari sana.


ckit.....


mobil Erick dan Alpin berhenti tepat di hadapan Anisa dan dilan berdiri. dilan berhasil menarik anisa dan menggagalkan aksi orang di belakang nya.


Erick tanpa sadar langsung memeluk tubuh anisa, begitu lega melihat anisa baik-baik saja. Alpin yang masih berada di dalam mobil segera turun dan dengan cepat menarik tubuh anisa.


"kau baik-baik saja?" tanya Alpin, Anisa mengangguk.


Erick melihat orang yang berada tak jauh dari mereka berdiri.


"siapa kau? apa kau Sasa.." tebak Erick membuat Alpin dan Anisa mengerutkan keningnya,. kenapa Erick mengira kalau itu Sasa.


orang itu dengan cepat berlari menuju anisa dan mendorong tubuh Alpin hingga mundur beberapa langkah dari anisa.

__ADS_1


Alpin terperanjat.


"tak mungkin dia Sasa.." pikir Erick dan Alpin bersamaan. gerakan dan tenaga nya begitu cepat dan besar. Alpin saja sampai hampir tersungkur.


dilan memicingkan matanya melihat sepatu yang di pakai orang itu.


"Reza..." ujarnya tak percaya. kenapa dia masih melakukan tugas yang di berikan Sasa, apa alasannya.


"dia Reza.." Erick dan Alpin menatap tak percaya.


Reza semakin memperkuat dekapannya pada tubuh anisa, menodong kan belati di leher Anisa.


"haaa... kau pintar dilan." Reza membuka kacamata juga maskernya dengan tanpa melepaskan anisa dari tangan nya.


Reza berjalan mundur membuat Erick semakin melangkah mendekati nya. Anisa meringis karena ujung belatinya kini menggores lehernya meski cuma sedikit.


dilan memberikan isyarat pada Alpin dengan matanya, Alpin yang mengerti segera berjalan pelan menuju ke belakang reaa tanpa sepengetahuan nya. sementara Erick di depan reza. kali ini dia terpaksa bekerja sama dengan Alpin demi menyelamatkan Anisa.


sementara itu dilan berada tepat di samping Reza.


Reza melihat Erick dan dilan dengan waspada, dia tak menyadari ke hadiran Alpin di belakang.

__ADS_1


bugh..


"aahh..." Reza tersungkur karena Alpin memukul tengkuknya, Anisa dengan cepat di tarik Alpin.


"bedebah.. kau tak boleh hidup. nyawa istriku dalam masalah.." jerit Reza putus asa, memutar tubuhnya dan dengan cepat menghujamkan belati ke arah anisa dan Alpin yang lengah.


"Anisa..." teriak Erick, berlari cepat mendekap Anisa yang masih jongkok bersama alpin.


srek...


"ugh..." Erick memejamkan matanya karena punggungnya terasa begitu ngilu dan perih.


bugh..


dilan memukul Reza dengan cepat.


"kau baik-baik saja.." dilan menangkap tubuh Erick yang akan ambruk.


"Erick.. kau..." Anisa tak percaya Erick mengorbankan dirinya demi menyelamatkan nya.


tubuh anisa bergetar ketakutan melihat Erick yang mulai tak berdaya. darah di punggungnya mengucur deras karena luka sobek yang begitu dalam.

__ADS_1


"aku telpon rumah sakit. dilan kau urus Reza." Alpin segera menelpon pihak rumah sakit.


Anisa memeluk Erick yang mulai melemah karena terlalu banyak kehilangan darah. Alpin yang melihat itu hanya diam, dia melihat anisa begitu khawatir dengan Erick.


__ADS_2