
Erick segera di bawa keruang operasi karena lukanya yang lumayan parah. sebagai teman dilan hanya bisa membantu sebatas ini saja, dia kembali kantor polisi untuk melihat Reza. selebihnya dia menyerahkan Erick kepada Alpin dan Anisa.
"ku mohon, kali ini saja kalian menjadi teman." bisik dilan seraya berjalan melewati Alpin. dia sangat tahu bagaimana hubungan kedua lelaki itu.
Anisa duduk di kursi dengan khawatir, sudah hampir satu jam dokter belum juga keluar dari ruang operasi.
"kau mengkhawatirkan nya?" tanya Alpin. dia duduk di samping Anisa.
anisa hanya melihat Alpin sekilas tanpa menjawab, meski begitu Alpin dapat menebak kalau Anisa memang masih peduli pada Erick.
"keluarga pasien?" seorang perawat keluar dengan peluh yang membanjiri dahinya.
Anisa segera bangkit.
"saya.. istrinya.." ujar Anisa tanpa sadar mengakui statusnya. perawat itu mempersilahkan Anisa masuk karena Erick yang terus mengigaukan namanya meskipun belum sadar sepenuhnya.
Alpin tak berkata apapun. dia kalah lagi kali ini. Erick dengan mudahnya membuat anisa begitu peduli padanya sehingga melupakan keberadaan Alpin.
salah seorang perawat wanita yang terlihat setengah tua berjalan menghampiri Alpin.
"dokter Alpin, bukannya gadis yang masuk ke ruang operasi itu adalah pacarmu?" ujarnya
__ADS_1
Alpin hanya tersenyum menanggapi. ya, semua pekerja di rumah sakit ini memang mengetahui kedekatan anisa dengan nya. tapi mereka tak tahu seperti apa hubungan mereka sebenarnya.
"Erick.. kenapa kau begitu bodoh." Isak Anisa, Erick masih belum sadar sepenuhnya karena pengaruh obat bius. tapi sesekali menggumam pelan menyebutkan nama Anisa.
beberapa perawat juga dokter yang menangani erick sedikit terkejut karena keluarga pasien yang mereka tangani adalah suami Anisa. berbagai pertanyaan berputar di kepala mereka. setahu mereka anisa adalah pacar Alpin, seorang dokter anak, cucu pemilik rumah sakit ini.
"dokter.. ini.. pacarmu.." dokter Narti terlihat gugup begitu melihat Alpin juga masuk ke ruangan.
Alpin cuek saja, dia berjalan ke arah Anisa. merangkul Anisa lalu memapahnya keluar.
"dia baik-baik saja. kau keruangan ku dulu. sementara perawat memindah Erick ke ruangannya."
anisa menurut begitu saja.
"hei.. lihat, wajahnya tak kalah tampan dari dokter Alpin." tukas perawat satunya. ketiga perawat itu begitu senang bergosip membuat dokter Narti menggelengkan kepalanya.
"kalian itu seorang perawat atau ibu-ibu biang gosip."
"ah...hhe. dokter Narti. kami segera memindahkan pasien sekarang."
sementara itu di ruangan Alpin. Anisa masih saja menangisi Erick. dia masih tak menyangka kenapa ada seseorang yang tega ingin melukai nya. selama ini anisa tak punya musuh.
__ADS_1
"Alpin, sebenarnya siapa orang yang ingin melukai ku?"
Alpin menghela napas panjang, dia tahu siapa orang itu karena dilan sudah memberi tahukan nya tadi. tapi apa Anisa juga harus tahu. Alpin memasukan tangan nya sebelah ke saku celana duduk menyender di meja yang ada di depan kursi tempat Anisa duduk.
"polisi sedang menyelidiki nya. dilan sudah mengurus semuanya." ujar Alpin kemudian memilih untuk tidak memberi tahukan Anisa.
"aku ingin melihat Erick sekarang. aku khawatir...kalau.."
"cukup Anisa. kau akan luluh karena apa yang dia lakukan padamu tadi?" Alpin mencegah anisa dengan cepat.
"Alpin, aku masih istrinya. dia masih suamiku. tak seharusnya aku mengabaikan dia yang terluka sekarang. lagi pula dia terluka karena aku."
Alpin melepaskan genggaman nya. lalu berjalan menuju jendela. Anisa tahu Alpin kecewa padanya tapi anisa tak mungkin membiarkan Erick begitu saja.
brak..
Alpin memutar tubuhnya begitu anisa menutup pintu. tangan Alpin mengepal, rahangnya mengeras karena kesal.
drt.. drt...
"bagaimana?" Alpin mengangkat telpon nya segera.
__ADS_1
Alpin menutup telponnya dan segera menuju kantor polisi karena dilan terdengar begitu panik dari cara bicaranya. pasti telah terjadi sesuatu di sana.