
pagi ini Erick masih sangat marah karena masih belum juga menemukan keberadaan Anisa dan elson.sudah seminggu mereka hilang seperti di telan bumi. erick berangkat pagi sekali ke kantor tanpa menunggu sasa. ia tidak ingin di ganggu siapapun hari ini. ke adaan kantor masih sangat sepi. Erick melangkah kakinya menuju ruangannya. dia mengambil sebuah map yang berisi surah cerainya dengan Anisa. merobeknya hingga menjadi sobekan kecil. dia bersumpah jika bertemu lagi dengan Anisa tidak akan pernah membiarkan nya pergi begitu saja.
sementara itu anisa kini tinggal di sebuah rumah sederhana yang di berikan Alpin untuk anisa dan ibunya tinggali. jauh dari tempat Erick berada.
"ibu, aku akan pergi belanja sayur sebentar." Anisa merapikan rambut nya, mengikat nya kebelakang.
Rahma segera mengambil Elson yang sedang bermain di balkon. membawanya ke kamar.
"iya, ingat ibu mengajak dokter Alpin makam malam. jadi kau harus beli sayuran yang segar."
"iya."
Anisa merasa lebih nyaman sekarang. hidup bertiga jauh dari kekangan Erick dan Sasa. dia hanya akan fokus pada Elson dan ibunya sekarang. pekerjaan paruh waktu yang di berikan Alpin pun sangat membantu. sebenarnya alpin bersedia membiayai hidup nya secara percuma tapi Anisa tak mau terlalu membebani Alpin. dia sudah terlalu banyak membantu.
setelah selesai membeli apa yang di butuhkan, Anisa sengaja mampir ke toko kue. hari ini ulang Rahma. sebuah kejutan kecil mungkin akan membuat nya senang.
saat akan masuk ke toko kue Anisa melihat Erick juga ada di sana. Anisa segera menyembunyikan dirinya. dia tak siap jika bertemu Erick sekarang.
sial untuk Anisa, karena Erick terlebih dulu melihat dirinya.
"aku tahu itu kau..Anisa." Erick segera berjalan mendekati Anisa yang akan sembunyi di toko sebelah.
anisa berdiri di tempat. dia tak tahu harus apa sekarang, melarikan diri tau diam saja.
Anisa mengatur napasnya lalu segera melangkah kan kakinya cepat. Erick mengejarnya dan mencekal tangannya untuk menahan Anisa.
"jangan menghindari ku. dimana Elson? kau sembunyikan anakku dimana?" cecar Erick.
__ADS_1
Anisa diam saja. dia berusaha melepaskan pegangan erick. tapi Erick malah semakin mempererat pegangannya.
"lepaskan tangan mu."
"jawab dulu pertanyaan ku? dimana Elson?"
Erick menatap anisa dengan tatapannya yang sulit di artikan. suaranya melembut.
"dia anakku. jika kau menanyakan nya untuk merebutnya dariku jangan harap aku akan memberi tahukan nya pada mu."
Erick menahan amarahnya. ini ditempat umum, dia bukan lelaki bodoh yang akan membuat keributan didepan banyak orang.
"ingat.. kau masih istri ku." ujarnya penuh penekanan.
"aku bisa aju banding di pengadilan jika kau mau? suami macam apa yang membawa wanita lain kedalam rumah tangganya. jika aku melaporkan tentang perselingkuhan mu dengan Sasa, maka tamatlah riwayat kalian." anisa mulai berani bicara setelah bertahun-tahun diam tak berani mengungkapkan isi hatinya. sekarang dengan lancar dia mengatakan itu. beban di hatinya terasa ringan sekarang.
"lepaskan tanganku. apa kau gila?" bentak anisa dengan panik.
"lihat saja, Elson akan menjadi milikku bagaimana pun caranya. meskipun harus membunuh mu?"
Anisa membeku mendengar kata-kata Erick.
"jangan sampai aku menyakiti mu lebih dari ini. ku mohon Anisa?"
anisa mengangkat kepalanya menatap Erick. kenapa lelaki ini menjadi sangat emosional. anisa melihat mata Erick yang memancarkan kesedihan dan kesepiannya, ada apa dengan nya. bukannya dia selalu menunjukan tatapan dingin pada Anisa tapi kali ini tatapan itu begitu terlihat menyedihkan.
Alpin menghentikan mobilnya saat melihat Anisa ada di pinggir jalan bersama Erick. dia bergegas turun. dia takut Erick akan menyakitinya.
__ADS_1
"lepaskan.." teriak Alpin seraya berlari kearah mereka.
"Alpin.."
"lepaskan tangan kotor mu?" Alpin memegang tangan kanan anisa sementara yang sebelah kiri masih di genggaman Erick.
"kau yang lepaskan."
Anisa menjadi sangat bingung. dia melihat Alpin dan Erick bergantian. keduanya terlihat begitu marah.
"ikut aku.." Erick menarik anisa supaya mendekat ke arahnya.
"beraninya kau, Anisa akan ikut dengan ku."
anisa menghela napas panjang sebelum angkat bicara. dia melihat Erick.
"lepaskan. jangan pernah temui aku lagi. kau hanya masalalu ku. bukannya kau begitu membenciku. kau ingin membunuhku bukan? aku sudah memberikan mu segalanya. rumahku.. perusahaan.. juga cinta.. apa itu tak cukup..eoh.. apa kau ingin mencongkel kedua mata ku sekarang?" anisa meledak dia tahan lagi dengan semua perlakuan Erick yang seenaknya.
Erick melepaskan genggaman nya. semua ucapan anisa seperti sebilah pedang yang menusuk nya hingga ke jantung. dengan perlahan dia menarik tangannya.
"kita pergi." Alpin menuntun Anisa menuju mobilnya.
Erick memandang anisa yang menghilang dari pandangan nya. tetesan bening meleleh di pipinya.
"aah.. hhaa..ha...." Erick tertawa getir. dia menangis karena Anisa. Erick merasa sangat bodoh sekarang, hati yang selalu di penuhi ego itu kini telah lebur oleh rasa penyesalan.
Erick mengambil ponselnya dari dalam saku celana, menghubungi seseorang.
__ADS_1
"cari informasi tentang Alpin Anricho untuk ku. bunuh dia dan bawa kepalanya ke hadapanku." Erick mengepal kan tangannya. dia tak akan membiarkan Alpin begitu saja.