
Alpin duduk di sofa ruang tamu dengan sedikit ragu, saat melihat Erick berjalan dengan sedikit tertatih karena kakinya belum sepenuhnya pulih. kini wajah yang selalu menunjukkan kebencian setiap saat bertemu tak nampak sama sekali. mau Alpin atau Erick , keduanya lebih terlihat tenang dan ramah.
"bagaimana kabarmu?" tanya Alpin. Erick duduk tepat di hadapan Alpin.
"seperti yang kau lihat sekarang."
"papa... ada papah Alpin." Elson berlari menghampiri Alpin dengan riang. bocah ini masih saja memanggil nya dengan sebutan papah. Alpin melihat Erick, takut kalau Erick akan tersinggung. tapi jauh dari dugaannya, Erick malah tersenyum.
"Elson, jangan ganggu papah Alpin."
"Erick..."
"dia memanggil mu papah, itu masalah lagi bagiku. karena sekarang aku pun adalah papah nya" jelas Erick. alpin mengerti, jadi Elson sudah memanggil Erick dengan sebutan papah dan mengetahui kalau Erick lah papah aslinya. sehingga menambah namanya di belakang sebutan papah saat memanggil nya.
"papah alpin, kemana saja.?" Elson sudah pintar bicara rupanya. dia tak lagi cadel.
"papah sibuk. maaf.. baru bisa melihat mu."
mereka bertiga terlihat sangat akrab. Anisa yang melihat nya pun sangat bahagia. akhirnya, semuanya dapat berjalan seperti yang di harapkan nya.
Erick kembali menjadi suaminya, keluarga nya kembali utuh. meskipun banyak rintangan yang begitu berat dalam pernikahan nya tak membuat Anisa menyerah dan akhirnya mendapatkan kebahagiaan. Anisa bersyukur, semua baik-baik saja. Alpin pun sudah merelakannya bersama Erick.
__ADS_1
"ini.. minumlah. Alpin, kau pasti haus." Anisa menyerahkan segelas jus jeruk pada Alpin. lalu duduk di samping Erick.
"lihat, Elson sangat merindukan mu." ucap anisa. Alpin tersenyum melihat Elson yang tak mau lepas dari pangkuannya.
Erick meraih tangan Anisa. menggenggam nya erat. "biarkan Alpin mengajaknya keluar, untuk melepaskan rasa rindu mereka "
"aku boleh mengajaknya keluar?"
"ya, tapi jangan membawa nya kabur."
"hahahaha....."
suara tawa mereka terdengar sampai kedapur. Riska bersyukur, Alpin dan Erick yang dulu hampir saja saling membunuh sekarang menjadi sangat akrab bahkan tak terlihat sama sekali kalau mereka pernah berselisih.
Erick merebahkan tubuhnya, memeluk Anisa yang kini tengah terlelap. perlahan Erick mengecup bibir nya lalu keningnya.
"mimpi indah,."
Anisa dapat merasakan semuanya, dia dengan saja memeluk tubuh Erick. membuat Erick kembali menciumi pipinya.
"sudah, tidurlah. besok pagi aku harus bekerja." ucap anisa. Erick mengelus pipi Anisa.
__ADS_1
"besok aku sudah bisa ke kantor. kau tak usah menggantikan ku lagi. mulai besok diamlah di rumah jadi istri yang baik."
anisa membuka matanya, menatap Erick.
"tapi.."
"aku bisa. kakiku sudah bisa berjalan meski harus memakai tongkat. kau meragukan ku?"
"aku percaya."
mereka pun tertidur dengan saling memeluk. saling memberikan kehangatan pada tubuh mereka.
akhirnya kehidupan yang lebih baikpun tengah menunggu. anisa kembali mendapatkan haknya sebagai istri juga ibu.
suami dan anaknya, tak ada yang lain lagi yang dia harapkan. perjuangannya selama ini tak sia-sia, mempertahankan rumah tangga adalah suatu hal yang harus kita lakukan. meskipun banyak rintangan yang datang, sebagai istri kita harus tetap sabar dan kuat. berdiri dengan wajah yang terangkat, jangan memperlihatkan kelemahan pada siapapun. karena peran seorang istri sangatlah penting.
begitu pun sebaliknya, suami adalah kehidupan bagi istri dan anaknya. jangan biarkan mereka menangis keras hanya karena ada tiang lain yang kau bawa untuk menopang rumah mu.
***terimakasih yang sudah bersedia membacanya cerita ku. maaf jika kurang puas dengan cerita nya. maklum saja, aku hanya seorang pemula yang masih banyak belajar.
dan jangan lupa baca cerita ku yang baru***..
__ADS_1
"hasrat (i love her)."
sekali lagi terima kasih.......😍😍😍😍😍😘😘😘😘