
Erick terus saja mengingat wajah Anisa yang terlihat ketakutan. sebenarnya apa yang telah terjadi padanya. dia seperti tak mengingat apa pun yang telah di katakan Erick katakan.
Erick menghubungi orang nya yang di tugaskan untuk mengawasi Rahma (mertua nya). dengan sikap Anisa barusan dia merasa ada sesuatu yang tak beres. alisya? Erick mendengar jelas Anisa menyebut nama itu. siapa alisya kenapa Erick merasa jantungnya berdebar mendengar nama itu di sebut.
"apa dia sudah membaik?"
"iya,pak. hanya saja kankernya sudah terlalu parah. tidak ada cara untuk menyembuhkannya."
Erick terlihat berpikir lalu kembali mendekatkan ponselnya ke telinga.
"berikan ponsel nya, aku mau bicara?"
"Erick itu kau?" suara rahma terdengar bergetar di selingi batuk-batuk.
"mm.. aku hanya mau bertanya satu hal?"
"apa itu?"
"apa yang telah terjadi pada Anisa?"
"apa maksud mu? bukankah dia selalu denganmu.. Kenapa...."
__ADS_1
"dia seperti lupa akan masa lalunya." potong Erick. Rahma terdiam dia mengerti maksud pembicaraan Erick.
Rahma sudah mengetahui kalau Erick adalah putra yang keluarganya meninggal karena kecelakaan waktu itu. saat suaminya membawa mobil dengan keadaan mabuk ia tak sengaja menabrak beberapa pejalan kaki di pinggir jalan.
Erick yang mengatakan nya. dan kenapa dia melakukan ini semua. Rahma hanya pasrah, karena memang ini semua kesalahan suami nya.
"apa Anisa sekarang baik-baik saja?" Rahma merasa khawatir dan takut kalau Anisa terluka. dia tahu Erick pun membenci anaknya karena perbuatannya di masa lalu. Rahma benar-benar tak bisa mengelak dari kebencian Erick saat ini.
"aku bertanya padamu, kenapa kau malah balik bertanya." bentak Erick tak peduli siapa Rahma.
"Anisa memang tak mengingat masa lalunya. itu karena kecalakaan waktu itu."
"katakan dengan jelas."
"stop" Erick menghentikan ucapan Rahma. "siapa alisya?"
"dia saudara kembarnya."
Erick semakin bingung. apa Anisa mempunyai saudara kembar waktu itu. dia mencoba mengingat semua wajah teman sekelas nya saat SMP.
"alisya?" gumamnya. "ah.. " Erick berdecak dan segera berlari menuju kamar Anisa. dia mengambil album foto SMP nya. membukanya dan melihat secara jeli wajah yang mirip Anisa.
__ADS_1
"apa kau tidak tahu Erick? dia juga sekelas dengan Anisa."
"maksud mu.. gadis yang selalu di kuncir dua dengan jepitan bintang di rambutnya." ujar Erick saat menemukan wajah yang mirip dengan anisa.
"itu Anisa.." ujar Rahma membuat Erick terbelalak tak percaya. bagaimana mungkin dia salah mengenali orang. jelas-jelas Anisa yang dulu suka membully nya.
Erick sangat yakin kalau gadis itu bernama Anisa. semua teman sekelas memanggilnya Anisa. kenapa bisa seperti ini.
"lalu.. apa yang terjadi pada alisya?"
"dia tak tertolong karena luka dalam akibat benturan." suara rahma semakin bergetar saat mengatakannya.
Erick semakin bingung. kenapa begini, sebenernya alisya apa Anisa yang dia benci.
Erick mematikan panggilan nya. lalu berjalan menuju tempat tidur.
"jangan alisya.. ku mohon hentikan.. kasihan mereka.."
Erick mengingat tadi Anisa berteriak seperti itu. apa benar dia telah menyakiti orang yang salah. tapi tetap saja semua keluarga Anisa tidak layak hidup menurut nya.
"sial.." Erick terlihat frustasi karena bayangan wajah Anisa yang ketakutan terus saja berputar di kepala nya.
__ADS_1
Erick memejamkan matanya. rasanya kepalanya ingin pecah karena wajah itu terus saja muncul di kepalanya bahkan suaranya yang seperti sedang menahan rasa takut terus terngiang di telinga nya.