
anisa membawa elson pergi keluar siang ini. dia mulai tak sanggup tinggal serumah dengan Sasa. gadis itu terus saja menyuruh nya seharian ini.
"hah.." anisa menghela napas nya dalam. ia tak tahu harus apa sekarang. pulangpun tak bisa. di luar hujan lebat dan angin begitu kencang. ia terjebak di cafe ini hampir 2 jam lebih. jika menelpon Erick untuk menjemput pun pasti akan di tolak mentah-mentah.
hanya satu orang yang bisa dia hubungi sekarang. tapi Anisa sedikit ragu, ia tak yakin Alpin juga akan bersedia mengantarkan dia pulang.
"baiklah, ibu telpon ayah dulu ya?" Anisa mencium pipi Elson gemas. ia memencet tombol panggil dengan cepat.
Tut..Tut...
'no yang ada tuju sedang sibuk'
"ah.. bagaimana ini.. hubungi lagi saja."
Tut..Tut...
"halo.." Anisa tersenyum senang saat Erick mengangkat telponnya.
"Erick, bisa jemput kami."
"kami? kau dimana?"
"aku dan Elson di cafe bintang."
"kau.. berani sekali membawa anak ku keluar?" bentak Erick. "pulang sendiri dan jangan sampai anakku terluka."
Tut..Tut..Tut...Tut..
panggilan nya terputus. anisa mendesah kecewa. bagaimana bisa Erick bersikap begitu kejam.
__ADS_1
"elson, sabar ya sayang. kita tunggu hujannya reda."
Elson terus meraih rambut Anisa yang tergerai. bocah itu terlihat bahagia saat tangannya berhasil menariknya dan membuat Anisa pura-pura kesakitan.
"Anisa..'
"ah..Alpin? kau dengan siapa?" Anisa melihat kebelakang Alpin. tak ada siapapun.
"kau cari siapa? aku selalu sendiri."
"ah.. tidak."
Alpin duduk di depan Anisa. tangannya mencubit pipi Elson dengan gemas. dia begitu suka anak-anak.
"kenapa kau murung?" Alpin memperhatikan wajah Anisa yang muram.
"aku lelah. kami terjebak disini karena hujan."
"hahaha.. kau ini. jangan membuat ku tertawa. Erick mana mungkin menjemputku."
"aku antar kalian pulang. ayok.."
"tapi..nanti..."
Alpin tersenyum tipis. dia tahu apa yang dipikirkan Anisa. pasti dia tak mau membuat Erick marah lagi. gadis ini sungguh membuat nya selalu khawatir.
"salah sendiri kenapa dia tak menjemputmu."
anisa bangun dengan ragu. dia mengikuti Alpin dari belakang.
__ADS_1
Alpin membuka jasnya untuk melindungi anisa dan Elson dari hujan. sementara dirinya sendiri terguyur hujan. mereka dengan cepat masuk kedalam mobil alpin yang terparkir tak jauh dari cafe.
"kalian...." Erick rupanya baru tiba saat Anisa keluar bersama Erick. dia menyuruh Anisa pulang sendiri hanya kata yang keluar dari mulutnya saja. hatinya kecilnya mendorong nya sampai dia kesini.
"kau menawarkan dirimu sendiri pada lelaki lain.." geramnya. Anisa semakin buruk saja di mata Erick.
"terimakasih, jika tak ada kau.. "
"kau akan bermalam di cafe." potong Alpin cepat. hujan mulai reda meninggalkan hawa yang dingin. membuat Elsa mengeratkan pelukannya pada Elson.
"masuklah. kasian Elson.."
brak...
Erick baru saja tiba. dia membanting pintu mobil dengan kesal.
"Erick.." Anisa merasa hatinya gusar. dia takut terjadi hal yang tak dinginkan.
"masuk..." Erick menarik Anisa dengan kasar. dia tak peduli dengan kaki Anisa yang tersandung kerikil.
"hentikan.. kenapa kau begitu kasar.." Alpin melepaskan cengkraman Erick di tangan anisa.
"jangan campuri kehidupan keluarga ku." Erick menarik kerah Alpin dengan kasar.
"hentikan.. ini salahku." Anisa merangkul lengan Erick dengan susah karena tangannya tengah menggendong elson.
"Alpin pergilah."
"ku biarkan kau kali ini karena Anisa. tapi jika ku lihat lagi kau menyakiti nya. tak akan ku biarkan begitu saja" Alpin pergi.
__ADS_1
Anisa buru-buru masuk kedalam sebelum Erick kembali menarik nya lagi dengan paksa. dia sedikit meringis karena kakinya yang tersandung tadi akibat Erick menarik dengannya dengan kasar.
"hah.. sial." umpat Erick. ia tak mengerti kenapa begitu kesal setiap melihat Anisa bersama alpin.