Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 65


__ADS_3

aina baru saja mengambil bayinya di rumah Erick di antar oleh Alpin. sekalian mereka juga membawa elson bersama mereka kerumah sakit. Riska tak ikut karena dia pikir lebih baik tinggal di rumah saja, dia mau jika harus melihat Erick dalam keadaan seperti itu. sepanjang hari Riska terus berdoa semoga Erick dapat cepat kembali kerumah.


Anisa duduk di samping ranjang Erick. tangannya bisa lepas dari tangan Erick, Anisa tak mau lagi kehilangan Erick.


"Erick, bangunlah. elson sedang kemari. kau mau melihat Elson bukan?" suara Anisa bergetar. sudah dua hari Erick masih saja terbaring dalam keadaan koma. sesekali air matanya merembes meskipun matanya terpejam. menandakan kalau Erick mendengar semua ucapan Anisa.


"ku mohon. aku janji. jika kau bangun, kita bertiga akan tetap bersama. kau akan menjadi ayah yang baik."


"Erick, maafkan aku karena selama ini tak percaya kalau sudah berubah."


Anisa terus saja bicara, dia ingin mendengar semua yang ada dalam hatinya.


Anisa mencium punggung tangan Erick dengan bibir bergetar. "sampai kapanpun kau adalah suami ku."


ceklek..


suara pintu di buka. Anisa langsung melihat ke arah pintu dan di sana nampak Alpin berdiri dengan Elson di pangkuan nya.


"om.. napa ipu?" Alpin memberikan elson pada Anisa. bocah itu menatap Erick sedih.


Anisa mendudukkan Elson tepat di tepi ranjang Erick. di harap Erick akan cepat bangun dari koma dengan ke hadiran Elson sekarang.

__ADS_1


"om.. Napa om Popo di cini. om cakit ya?" tangis Anisa pecah saat elson mengelus pipi Erick.


"panggil papah sayang.." perintah Anisa.


"oh..papah?" elson malah melihat Alpin saat Anisa menyuruh memanggil nya papah.


"bukan, panggil om Erick dengan sebutan papah. biar nanti bangun." Alpin berjalan ke dekat Elson. bocah kecil itu terlihat bingung, dia melihat wajah Alpin dan Erick bergantian.


"Napa, om ukan papah econ."


Anisa langsung terperanjat saat melihat pengukur detak jantung Erick melemah. dia dengan cepat menguncang tubuh Erick.


"Elson, papah mohon. panggil om dengan sebutan papah sekali saja." bisiknya supaya tak terdengar oleh Anisa. elson kembali melihat Erick, ikatan batinnya sangat kuat. bocah itu merasa ada yang berbeda dengan debaran jantung nya.


"papah.." panggilnya. membuat Anisa langsung melihat ke arah Elson.


"iya, panggil papah. lebih keras." pinta alpin.


Elson di dekat kan ke arah Erick oleh Alpin.


"papah..angun. papah.."

__ADS_1


"Li..lihat.. lagi elson. panggil papah." anisa melihat detak jantung Erick yang perlahan naik. airmata nya pun mengalir. Erick mendengarnya.


"papah... papah. ini econ."


Anisa merasa bahagia saat melihat detak jantung Erick yang semakin terus naik mendekati stabil.


"lagi.. Elson." Alpin melihat jempol tangan Erick bergerak. "terus panggil papah."


entah instruksi dari siapa elson tiba-tiba mencium pipi Erick. membuat jemari tangan bergerak. Anisa langsung berlari keluar memanggil dokter.


cup..


Elson mencium bibir Erick dan tanpa hitungan detik mata Erick terbuka berbarengan dengan dokter yang masuk ke ruangannya.


"Elson.." gumam Erick nyaris tak terdengar. anisa menangis bahagia. dia tak bisa menahan rasa senang nya, menangis sejadinya. Alpin tersenyum tipis. mungkin ini saatnya dia melupakan semuanya. tak seharusnya dia berada di sini lagi. Alpin pergi perlahan tanpa siapapun menyadari nya.


"ini luar biasa. sebuah ke ajaiban. tuan Erick bisa sadar secepat ini." dokter yang memeriksa Erick tersenyum ke arah Anisa.


"papah mana?" elson mencari Alpin saat sadar Alpin sudah tak ada.


"ini papah." Erick mengangkat tangannya yang lemah. Elson memeluk tubuh erick dengan posisi masih duduk di tepi ranjang. bocah itu tak lagi menyangkal saat Erick menyebutnya papah, justru malah membuatnya senang.

__ADS_1


__ADS_2