
"keluarkan dulu si perempuan nya.. baru yang pria.."
"yah.. apa ambulance nya sudah datang..."
"uuuh.. aku tak sanggup melihat darahnya.."
antara sadar dan tidak sadar, anisa menarik napasnya dalam saat merasakan sebuah benda yang begitu berat menghimpit tubuhnya.
pandangan nya meremang, tapi dia masih mampu mendengar suara-suara orang yang panik di dekatnya. bahkan dia juga mendengar suara Erick yang mengerang seperti menahan sakit.
bibir Anisa bergetar, ingin sekali berteriak tapi sangat sulit seperti ada sesuatu yang menyumpal.
"Anisa... Elson..." hanya itu panggilan yang Anisa dengar dari Erick.. lalu setelahnya.. hening...
semakin lama napasnya terasa tersengal hingga ada sebuah tangan yang menarik tubuhnya keluar dengan paksa.
tubuhnya terasa melayang dan dia dapat melihat dengan pandangan yang samar, tubuh Erick yang di gotong beberapa pria berbaju putih..lalu Sam..dan...
Anisa tak bisa melihat apapun lagi, Pandangannya menggelap.
"El.....son..." bisiknya seperti sebuah angin yang berhembus begitu saja.
uwwiw... uwiw... uwiw....
suara sirine ambulan dan mobil polisi bersautan membelah jalanan yang begitu ramai. semua kendaraan menyingkir dengan seketika memberikan jalan.
tak terlalu banyak korban dalam kecelakaan ini. hanya melibatkan dua mobil yang bertabrakan secara berlawanan. meskipun begitu tetap saja membuat arus jalan tol terganggu.
alpin baru saja sampai di rumah Erick saat ponselnya berdering. dengan cepat Alpin mengangkatnya.
"halo,.."
".............."
"ah..baiklah."
__ADS_1
telpon pun terputus. Alpin mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil meskipun kini dia sudah berada di depan rumah yang dia tuju.
"kenapa?" Sasa mengurungkan niatnya untuk membuka pintu saat melihat alpin kembali menyalakan mesin mobilnya.
"kita batalkan dulu rencana untuk bertemu dengan Anisa dan Erick." jelas Alpin. "dokter Han meminta ku untuk segera ke rumah sakit."
"aah..baiklah."
Sasa mengerti. dia tak lagi keras kepala seperti dulu. apapun yang Alpin katakan dia selalu mengiyakan saja. sikapnya sudah sangat berubah dari Sasa yang dulu.
"maaf, dokter.. bagaimana dengan jenazah yang tak di kenali wajah nya?" semua dokter dan beberapa perawat terlihat sibuk. karena ada 6 orang korban kecelakaan dan dua dia antara nya telah meregang nyawa sesaat setelah sampai ke rumah sakit.
"em.. dokter hans. apa dokter Alpin sudah di hubungi. anak kecil itu harus segera ditangani. lukanya mungkin tak parah, tapi dia terlihat begitu shock."
"dia sedang di jalan."
Alpin berlari keruang IGD dengan pakaian lengkapnya.
"apa yang terjadi?"
tanpa banyak bertanya lagi Alpin segera menuju ruangan yang di maksud. dia melihat seorang bocah lelaki tengah duduk membelakangi pintu. bajunya di penuhi banyak darah, tapi alpin yakin..darah itu bukan dari tubuh anak itu.
"ehemm..kau terluka.."
"ibu.... ayah..." pekiknya tiba-tiba.
"hei.. tenang.. ibu dan papah mu ada di sana. mereka sedang membeli mainan untuk mu."
bocah itu mendongakkan wajahnya saat mendengar suara yang begitu lembut. matanya memicing saat melihat seorang pria dewasa berdiri di depannya.
"pa..pah.." pekiknya saat melihat wajah yang begitu dia kenal.
Alpin melotot tak percaya. "Elson..." Alpin tak kalah terkejutnya. "lalu..."
Alpin mendekap tubuh elson dengan kuat. jadi orang-orang dewasa yang tak sadarkan diri di luar sana adalah Erick dan Anisa..
__ADS_1
"ya..tuhan. apa yang terjadi?"
Elson menggeleng pelan. dia tak ingat apapun. dia hanya ingat saat tubuh kecilnya di tarik Erick kebelakang lalu di dekap olehnya dan juga Anisa. Elson tak ingat lagi dengan jelas, karena begitu bangun dia sudah ada di ruangan serba putih ini. bahkan dia tak tahu dimana ayah dan ibunya sekarang. makanya dia terus menjerit histeris dan siapapun yang mendekati nya akan mendapatkan pukulan darinya.
"papah.. mana ibu dan papah?" Isak elson.
"mereka sedang membeli mainan. bukankah papah tadi bilang begitu?"
"umm.. lalu ini dimana?" Elson memperhatikan seluruh ruangan dengan takut. karena terasa asing baginya.
"ini..? mm..ini tempat papah istirahat. " Alpin berusaha tak terlihat sedang berbohong.
"eoh.. kenapa? apa Elson tak percaya papah." ujar Alpin saat elson mengeryitkan keningnya.
"Elson bobo ya.. papah temenin."
Elson perlahan mengangguk dan merebahkan tubuhnya. Alpin mengelus surai rambut nya dengan lembut.
semoga mereka tak apa-apa. doanya dalam hati.
setelah Elson tertidur alpin segera keluar.
"dimana orang tua nya?" tanya alpin. Hans yang mengerti langsung membawa Alpin ke ruangan tempat Erick dan Anisa di rawat.
"suaminya mengalami luka yang cukup serius. dan istrinya ku rasa mengalami benturan yang keras di kepalanya, sehingga tengkorak bagian kanannya retak."
Alpin hanya diam mendengarkan. dia pandangi wajah Erick dan Anisa bergantian.
rasa lega menyelimuti hatinya saat mendengar kalau mereka baik-baik saja.
"umm..lalu korban yang lain?"
"eoh.. hanya istrinya yang selamat."
Alpin menghela napasnya. "boleh ku lihat dimana dia?"
__ADS_1
"tentu saja. dia ada di kamar sebelah."