
Anisa membongkar semua koper yang di simpan ayahnya di gudang. koper itu terlihat penuh debu dan usang.
"aku harus tahu apa yang menyebabkan aku melupakan masa kecilku."
koper itu berisi foto jadul dan beberapa berkas yang sudah usang. Anisa terus mencarinya, mungkin saja ada sesuatu yang bisa diingatnya.
"apa ini?" anisa melihat map cokelat di tumpukan terakhir. dengan cepat dia membukanya.
"foto ini?"
kepalanya kembali berdenyut. album foto SMP Nugraha angkatan ke 4. Anisa merasa sangat penasaran dengan apa yang di rasakan nya. kenapa jantungnya berdetak kencang dan kepalanya sakit saat melihat buku album itu.
"apa terjadi sesuatu padaku dulu, hingga melupakan masa SMP ku. aku sama sekali tak mengingat wajah-wajah ini." Anisa memperhatikan satu persatu wajah yang tercetak di sana.
"ini...." matanya membulat saat melihat foto anak lelaki berkacamata duduk paling pinggir.
Anisa mengingat semua kata-kata Sasa waktu itu. Anisa semakin gemetar saat ingin mengingatnya.
"aaahhhh...." kepalanya berdenyut sakit.
"Erick.. apa kau..Erick...?" rintihnya. tapi apa yang telah di perbuatnya di masa lalu hingga Erick membencinya dan merenggut semua darinya. apa ini ada hubungannya dengan ingatannya.
Anisa mencoba bangkit. tubuhnya berjalan sempoyongan menuju kamarnya.
"Erick?"
__ADS_1
terlihat Erick sudah ada di sana. menatapnya dengan tajam. Anisa berpikir apalagi salahnya kali ini.
"dari mana saja?"
"aku...aku.."
"apa?" Erick berjalan terus hingga membuat Anisa terus mundur dan terhimpit antara tembok dan tubuh Erick.
"aku mencari ini?" Anisa memperlihatkan album foto yang sudah usang. Erick menyeringai.
"kau ingat siapa aku sekarang?" bisik Erick. Anisa menelan ludahnya. pertanyaan Erick membuatnya semakin berpikir.
"maksudmu?"
"aku salah satu siswa di sana?"
"aku tidak pernah tahu itu. aku melupakan semua temanku saat d SMP." ucap anisa.
Erick mencengkram kedua bahunya membuat Anisa meringis menahan sakit.
"kau lupa?" bentak Erick. " aku adalah bocah yang kau permalukan 15 tahun yang lalu. bocah yang meminta keadilan saat kedua orangtuanya di tabrak lari oleh ayah mu. bocah yang kau siram saus, jus bahkan air comberan." Erick terlihat murka mengingat itu semua.
Anisa bergetar. sedikit demi sedikit bayangan hitam di kepalanya terlihat samar.
"aahhhhh.... " lagi kepalanya berdenyut. kali ini semakin hebat karena bayangan itu begitu terlihat nyata.
__ADS_1
dia duduk di bangku paling belakang. di depannya terlihat gaduh karena ulah beberapa siswa. terlihat jelas bocah lelaki dan gadis kecil berambut keriting tengah di siram air hitam pekat yang menusuk Indra penciuman.
Anisa menutup hidung nya. tawa temannya terdengar puas. mata Anisa tertuju pada gadis yang berwajah mirip dengan nya hanya cara berpakaian mereka yang berbeda.
"alisya..." Anisa berteriak memanggil namanya. Erick terkejut melihat Anisa yang tiba-tiba menjerit memanggil nama alisya.
"hentikan.. ku mohon. jangan siksa mereka...." racaunya tak jelas. Erick semakin bingung dibuatnya.
"hei.. kau ini kenapa?" Erick mengguncang tubuh Anisa agar tersadar.
"tidak.. jangan.. kasihan mereka.. kumohon.." Anisa semakin meronta. Erick mendekapnya dengan kuat.
'kenapa dengan gadis bodoh ini.' gumam erick bingung. kenapa dia menjadi seperti ini saat mendengar semua ucapannya. sebenarnya apa yang terjadi.
"aaaahhhhh......" Anisa menjerit sambil menjambak rambut nya sendiri. lalu ambruk.
Erick mengangkat wajah Anisa yang tertunduk. wajah itu terlihat tersiksa seperti menahan sakit.
"Erick.. kamu.. Erick.." bisik Anisa lalu hilang kesadaran. Erick mengangkat nya ke atas kasur.
"apa kau gadis yang dulu tak punya hati?"
Erick menelusuri wajah Anisa. entah kenapa dia merasa kalau Anisa begitu lemah sekarang. Erick membuang pandangannya.
"cih.. kau hanya pura-pura kan?" decihnya.
__ADS_1
" terus saja seperti itu sampai kau mengingat semua yang kau lakukan pada ku."
Erick meninggal kan Anisa yang masih belum tersadar.