Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 72


__ADS_3

sudah seminggu Erick dan Anisa terbaring koma. Elson pun sudah tak berontak lagi seperti pertama saat mengetahui kondisi orang tuanya. dia lebih tenang, dan mulai mengerti dengan ke adaannya sekarang.


"ibu.. hari ini aku dapat nilai tertinggi lagi di kelas."celotehan selalu saja memenuhi ruangan bernuansa putih itu. kedua tangan mungilnya menggenggam tangan Erick dan Anisa bersama, duduk di antara dua ranjang membuat nya lebih mudah untuk berinteraksi dengan keduanya. meskipun tak ada jawaban, Elson tetap saja menceritakan semua kisah nya di sekolah.


Alpin tersenyum sambil melipat kedua tangannya. dia senang karena Elson tak terpuruk begitu lama, anak itu begitu kuat dan optimis akan kesembuhan kedua orangtuanya.


"ya, sudah. mari kita pulang dulu. kau pasti lelah kan?" Alpin menepuk pundak Elson.


"mm.. ibu.. Elson pulang dulu."


chup.


bibir mungilnya mencium bibir Anisa sekilas. lalu dia berbalik pada Erick.


"papah.. jaga ibu untuk ku." ujarnya lalu hal yang sama pun dia lakukan. mengecupnya sekilas


"ayo.. pah, aku lapar." manjanya pada Alpin. sekarang elson memang tinggal bersama alpin.


Alpin sudah seperti orangtua tunggal saja. mengurus Elson seorang diri, mengantarkan sekolah dan melakukan hal lainnya untuk membuat bocah itu bahagia. Alpin ingin meminta bantuan Sasa untuk menjaga Alpin, tapi rasanya tak mungkin, karena sasa memutuskan untuk ikut bibi dan pamannya ke Jepang. dia putuskan untuk melupakan semuanya, membuka lembaran barunya di negeri sakura. Alpin hargai keputusan nya itu.


seperti biasa, alpin selalu menggendong elson meskipun tubuhnya sekarang sudah tak mungil lagi. dia begitu memanjakannya.


ceklek..

__ADS_1


Alpin menarik tangannya yang akan membuka pintu begitu seseorang terlebih dulu membukanya.


"mamah?"


"Alpin, apa-apaan ekspresi wajahmu itu. seperti tak suka saja melihat ibu mu sendiri."


"ah.. bukan begitu. aku hanya kaget." Alpin menurunkan Elson. "kau ganti baju dulu, nanti kembali untuk makan."


Elson langsung berlari begitu mendapat perintah. wanita paruh baya itu mendelik tak suka pada Alpin.


"heuh.. kau sampai kapan akan jadi baby sitter nya.?"


.


"Mama, dia putraku."


Alpin terdiam, perkataan ibunya benar.


"pokoknya, besok kau harus pulang. ada yang mama sama papa katakan pada mu. dan ingat.. jangan bawa anak nakal itu. mamah ga suka."


"iya..iya.." jawab Alpin malas. dia sudah tahu maksud dari perkataan ibunya. apalagi jika bukan sebuah perjodohan. Hah.. Alpin bisa gila jika terus di tekan untuk segera menikah.


"ingat baik-baik." ibunya pergi. seperti biasa.. datang hanya untuk mengomel saja.

__ADS_1


"papah..aku lapar.." Elson berlari kecil menuju alpin yang kini tengah duduk di sofa.


"mau makan apa jagoan papah?"


"umm.. buatkan Elson mie ya pah?" pinta Elson melas.


"tidak. bagaimana kalau papa masakin sayuran buat Elson..."


"ah.. ga.. Elson ga mau."


"mm..oke...oke.." Alpin tak pernah bisa menang melawan Elson. wajah merajuknya membuat Alpin tak tega.


ibu alpin kembali ke rumahnya dengan marah. dia kesal karena Alpin selalu mengurus bocah kecil yang orang tuanya saja dia tak tahu, mungkin alpim mengenal nya tapi ibunya sama sekali tak mengenalnya.


"ada apa lagi sih? pulang langsung cemberut"


"hah.. aku pusing sama anak mu. sudah berumur tapi masih saja saja lajang."


"sayang, kau tahukan Alpin tak suka jika kita ikut campur urusan pribadi nya. biarkan saja, mungkin dia masih ingin sendiri."


"sendiri apanya. asalkan mas tahu ya.. dia masih mengurus anak pungut itu. gara-gara itu Irene menolak tawaran ku untuk menjodohkan anaknya." wajahnya semakin masam saat mengingat Irene temannya menolak dengan untuk menjodohkan putrinya dengan Alpin karena saat pertemuan pertama Alpin membawa elson, parahnya lagi Elson terus memanggil nya papah tanpa henti. membuat mereka beranggapan kalau Alpin seorang duda beranak satu. meskipun sudah dijelaskan tetap saja mereka tak percaya.


sebagai seorang kepala keluarga, ayah dan suami yang baik Handoko hanya bisa diam tak bisa berkata lagi. dia tahu sifat istrinya yang keras kepala dan alpin memiliki semua sifat itu.

__ADS_1


"ayolah mas, bujuk Alpin.. masa dia mau jadi perjaka tua. aku juga ingin menimang cucu.. aku ingin seperti ibu-ibu yang lain."


"iya, nanti aku bicara padanya. sekarang biarkan saja dulu. jangan ganggu dia. kau tahukan sifatnya sama kerasnya dengan mu."


__ADS_2