Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 41


__ADS_3

Rahma mengangkat tangannya dengan susah payah. tenaganya seperti terkuras habis, dia melihat anisa tertidur dengan posisi terduduk, kepalanya menyandar pada ranjangnya.


"Anisa.." tangannya benar-benar susah digerakkan. suaranya terdengar begitu lemah.


Anisa bangun begitu mendengar namanya di panggil.


"ibu ada apa?" Anisa panik melihat Rahma yang begitu terlihat pucat dengan napas yang tersengal.


"sebentar aku panggil perawat." anisa segera menekan tombol hijau yang ada di samping ranjang Rahma.


Rahma semakin tak bisa membuka matanya, kesadaran nya perlahan menurun.


"ibu.. ibu.. kenapa?" menggoncang tubuh rahma dengan kuat. anisa takut dan panik. Rahma benar-benar tak sadarkan diri sekarang.


seorang perawat masuk dan cepat memeriksa Rahma. kepanikan terlihat dari raut si perawat membuat anisa semakin ikut panik.


"bagaimana apa yang terjadi.?"


perawat itu tak menjawabnya, malah dengan cepat keluar meninggalkan anisa.

__ADS_1


tak begitu lama perawat itu kembali dengan seorang dokter dan beberapa perawat lain di belakang nya.


"apa yang terjadi? ku mohon selamat kan ibuku. dokter katakan sesuatu?" cercah Anisa.


dokter yang memeriksa Rahma terdiam. dia menatap anisa dengan tatapannya yang sulit di artikan.


"maaf, pasien sudah tak tertolong lagi" ujarnya.


bruk..


tubuh anisa ambruk, kepalanya tiba-tiba pusing dan jantungnya berpacu dengan cepat. penglihatan nya semakin lama semakin memudar, yang dia rasakan hanya tubuhnya yang di angkat oleh seseorang dan gemuruh orang di ruangan itu. dia masih dapat melihat meski samar tubuh Rahma yang di tutup seluruhnya oleh kain.


"ibu.." bisiknya lalu seluruh kesadaran nya hilang.


Alpin berjalan ke ranjang tempat anisa terbaring. sudah pukul 4 sore, pemakaman Rahma pun sudah selesai. dan beberapa pelayat juga mulai berpamitan untuk pulang.


Anisa lagi-lagi pinsan hari ini, sudah ke 3 kalinya anisa kehilangan kesadaran. membuat Alpin tak bisa meninggalkan nya begitu saja. meminta cuti untuk tidak bertugas dulu di rumah sakit. di ingin terus menemani anisa sekarang.


"Alpin.. " suara Anisa serak dan parau karena terus menangisi kepergian Rahma, matanya pun merah dan sedikit bengkak.

__ADS_1


"kau sudah sadar."


"aku mau minum?"


"ini, aku bantu kau minum" Alpin memegang gelas dengan tangan kirinya dan tangan kanan dengan sigap membantu Anisa untuk mengangkat tubuhnya, sedikit menyender ke ranjang.


"terima kasih."


Alpin menyimpan gelas itu kembali ke atas meja. dia menatap Anisa dengan khawatir.


"apa kau lebih baik sekarang? apa kau lapar sekarang?"


anisa menggeleng pelan. Alpin memeluk anisa mencoba menyalurkan kekuatan untuk nya. Anisa terisak kembali, ini terlalu berat baginya. Alpin ikut terhanyut dalam suasana ini, dia merasakan betapa pedih nya Anisa sekarang.


"istirahat.." Alpin melepaskan pelukannya membantu Anisa kembali merebahkan tubuhnya.


"Alpin jangan tinggalkan aku." anisa meraih tangan Alpin menggenggam nya erat.


"iya.. aku akan tetap disini menjagamu." Alpin mengecup kening anisa, tanpa melepaskan tangannya Alpin kembali duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Anisa memejamkan matanya. rasanya sedikit tenang dengan kehadiran Alpin sekarang.


"tenang saja, aku tak akan membiarkan mu sendirian." Alpin menarik selimut, menyelimuti tubuh anisa. Anisa semakin mengeratkan genggaman tangan nya membuat Alpin merasakan kalau dia begitu di butuhkan sekarang. ada rasa senang di hatinya karena Anisa begitu membutuhkan nya, Alpin semakin ingin mendapatkan anisa apapun resikonya. yang terpenting baginya sekarang adalah bagaimana cara membuat anisa kembali bangun dari keterpurukannya.


__ADS_2