
"apa ini? kau membawanya. anak pungut mu lagi?" Elson tersentak, menatap takut wanita tua yang menatapnya tajam.
"mamah, jangan seenaknya bicara.. dia Elson..."
"anak yang kau pungut di jalan kan? seorang gembel." makinya dengan terus menatap Elson penuh ketidak sukaan.
"a..aku..bukan gembel. aku putra ibu dan ayah..." suara kecilnya bergetar. Alpin yang tak teha melihatnya segera menarik Elson ke pelukannya.
"mah, Elson putra temanku. mereka sedang koma sekarang." jelas Alpin.
"mamah, tak peduli. kenapa harus kau yang urus. berikan pada keluarganya, neneknya pasti ada kan.?"
"mah.. Elson tak punya siapa-siapa lagi. hanya memiliki kedua orang tua yang saat ini terbaring di rumah sakit."
Alpin maupun ibunya sama-sama keras kepala. mereka tetap pada pendiriannya masing-masing.
"ne..nek.. jangan marahi papah." suara Elson terbata-bata.
"apa kau bilang.. aku bukan nenekmu. dan dia bukan ayahmu."
di tatap begitu tajam membuat Elson semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Alpin.
"mah, kenapa begitu tak menyukai nya? apa salahnya?"
__ADS_1
"salahnya? kau bertanya apa salahnya?"
"ya, mah. Elson hanya anak kecil. apa alasan mamah tak menyukainya."
"karena dia selalu menggagalkan acara perjodohan mu. semua gadis menjauhi karena bocah sialan... itu terus memanggil mu papah." teriaknya membuat Elson memejamkan matanya. dia tak pernah di hadapkan dengan situasi macam ini. ibu dan ayahnya tak pernah berteriak, apalagi memarahinya.
"Zola,, kau keterlaluan." Handoko masuk kedalam karena mendengar teriakan istrinya yang begitu kencang.
"mas, lihat.. dia membawa bocah si...."
"cukup Zola. Jangan memaki anak yang tak tahu apa-apa." potong Handoko. "Alpin, bawa dia ke kamarmu. malam ini dia tak boleh ikut.."
Elson menatap pria tua yang baru masuk itu dengan tatapan takut. tangan mungilnya menggenggam tangan Alpin tak mau di lepaskan.
Alpin mendesah berat. dia tak tega meninggalkan Elson di rumah sendirian.
"papah. Elson gapapa. papah pergi saja."
"apa?" Alpin menatap Elson ragu. "kau tak papa di tinggal di rumah sendiri."
Elson mengangguk yakin. "ya.. papah pergi sama kakek dan nenek saja."
"cik..terus saja panggil sesukamu. dasar." gerutu Zola.
__ADS_1
Handoko hanya menghela napas melihat kelakuan istrinya. Zola memang seperti itu, jika tak menyukai seseorang atau sesuatu maka akan dengan terang-terangan mengungkapkan nya. tapi, apa dia juga harus mengekspresikan kebencian nya pada bocah yang masih polos itu.
"hup.. papah antar ke kamar." Alpin menggendong elson, membawanya ke kamar.
membaringkan tubuh kecilnya, lalu mencium kening nya dengan lembut. "tidurlah." ujarnya.
Alpin melangkah keluar kamar dengan berat. dia tak yakin dengan keputusannya. dia begitu peduli pada elson. padahal Elson bukan darah daging nya , tapi entah kenapa Alpin begitu menyayanginya melebihi dirinya sendiri.
malam ini sesuai rencana Zola, mereka akan bertemu dengan seseorang yang akan di jodohkan dengan Alpin. Alpin tak menolaknya sekarang karena dia tak mau lagi mendengar Omelan Zola. yang selalu mengoceh soal masa lajangnya.
"Alpin, ingat. kau harus memberikan kesan baik saat bertemu pak delpan nanti." Zola terus saja mengoceh.
"lalu kau juga harus bersikap ramah pada putrinya......
katakan kalau kau seorang dokter yang hebat."
Alpin mendelik tak suka. masukan macam apa yang Zola katakan. masa iya dia harus mengakui kehebatan nya sendiri, justru itu hanya akan membuatnya terlihat sombong.
"sudah, hentikan ocehan mamah. kita sudah sampai" ucap Alpin dengan kesal.
"biarkan saja. ibu mu tak akan berhenti sebelum napas nya habis." timpal Handoko.
kedua pria berwajah hampir mirip itu saling melempar kan pandangan nya. mereka sudah tak aneh lagi dengan sikap Zola. dia begitu cerewet, selalu saja mengoceh.. mengoceh..dan mengoceh..
__ADS_1
Alpin menghembuskan napasnya melihat zola yang begitu semangat. wanita itu terlihat bahagia hanya karena acara perjodohan anaknya. ya, semua ibu pasti menginginkan hal terbaik bagi anak-anak nya bukan. hanya saja setiap ibu punya caranya masing-masing untuk menyampaikan rasa sayangnya. dan Alpin mengerti itu, Zola seperti ini hanya karena rasa sayang nya yang begitu dalam padanya.
"ingat, jangan menyinggung soal bocah itu di sini." bisik zola entah untuk keberapa kalinya.