
Erick merasa akhir-akhir ini Anisa terlihat sangat berbeda dari biasanya. sikapnya menjadi sedikit lebih berani dan sering membantah apa yang di katakannya.
dan juga kedekatan nya dengan Alpin membuat Erick jengah. ia merasa tak suka tiap kali Alpin datang kerumahnya hanya untuk menemui Anisa. ya, Erick memang egois. dia menjalin hubungan dengan Sasa di depan Anisa yang notabene masih istri sahnya.
"hari ini biarkan Sasa yang masak. sebentar lagi kalian akan menikah bukan?" Anisa mengambil Elson dari gendongan Sasa. sebenarnya Anisa tak mau bercerai dengan Erick. ia ingin mempertahankan pernikahan nya.
"hei, kenapa bisa begitu?"
"kau benar. perceraian kami dalam proses." ujar Erick datar sambil melirik Anisa dengan ujung matanya. Anisa terlihat tenang saja sambil terus mengeyong Elson.
"hum.. baiklah." Sasa menyerah. pergi ke dapur meninggal kan mereka bertiga di ruang tamu.
"Elson, tinggal sama papah baik-baik ya. sebentar lagi bunda mau pergi ke suatu tempat yang jauuhh sekali."
Erick mengeryit mendengar nya.
"kau hanya keluar dari rumah ini. jauh apanya?" Erick menaruh koran yang di bacanya.
__ADS_1
"mm.. mungkin saja nanti kita tidak bisa bertemu lagi." masih dengan wajah tenang. membuat Erick gusar. ucapan Anisa seperti mau mati saja.
"Erick, aku hanya mau menanyakan satu hal.. apa kau mengenal ku dan alisya secara bersamaan?"
"maksudmu?"
"ibu bilang.. aku dan alisya kembar." Erick merasa anisa mulai mengingat semuanya.
"ya, meskipun penampilan kami berbeda. aku hanya mau bertanya.. apa kau masih ingat.. teman sekelas mu dulu yang bernama alisya itu seperti apa? dan aku seperti apa?"
"kau sampai berbuat sejauh ini. berarti ini penting. aku hanya penasaran saja, kenapa kau mengira kalau gadis itu adalah aku." anisa menatap Erick dengan serius. Erick terdiam. tentu saja, karena Sasa yang mengatakannya kalau gadis itu bernama Anisa. dan gadis itu sendiri yang mengatakan kalau Anisa Rahma Azhari adalah orang terkaya yang tak bisa di kalahkan di sekolah itu. tapi Erick diam saja, tak mengatakan apapun.
"mm.. baiklah. aku mulai mengingat sebagian. dan aku ingat kau adalah anak lelaki berkacamata yang selalu duduk di kantin sendirian. bahkan aku mulai ingat kalau kau adalah perebut pacar Alpin dulu saat di SMP.".
Erick terkejut mendengar penuturan itu. jadi ini lah alasan Anisa dan Alpin menjadi sangat akrab. karena anisa sudah mengingat siapa Alpin sebenarnya. tapi siapa pacar Alpin. setahu dia tak pernah ada seorang murid perempuan yang dekat dengan nya kecuali Sasa.
"makan malam sudah siap. kakak..ayo kita makan." obrolan mereka terhenti saat mendengar teriakan Sasa dari dapur.
__ADS_1
"seperti nya terjadi salah paham antara kita. kenangan itu begitu penuh teka-teki." Anisa beranjak membawa elson yang sudah tertidur. Erick semakin merasa kalau Anisa menyembunyikan hal besar.
"dia pacarmu atau mantan Alpin." lanjut Anisa.
Erick menatap Anisa yang pergi menuju kamarnya. dia masih tak mengerti apa maksud pembicaraan Anisa.
"kak, kenapa malah bengong sih.. cepetan nanti keburu dingin." Sasa menarik Erick yang masih saja diam diruang tamu.
"Sasa.. apa kau dan Alpin.."
"apa?"
"sudahlah." Erick mengurung kan niatnya untuk bertanya..dia masih tak yakin dengan apa yang dipikirkan nya. bagaimana mungkin Sasa adalah pacar alpin dulu.
yang dia tahu Sasa sangat membencinya saat zaman sekolah dulu. karena Alpin memukul ku yang telah melecehkan Anisa. ya, mungkin Alpin mengarang itu semua. memanfaatkan Anisa yang lupa akan masa lalunya.
tapi dia sendiri masih penasaran. alisya apa Anisa nama gadis itu. dulu Erick tak terlalu peduli dengan nama-nama teman sekelas nya. dia mengenali wajah mereka tapi tak mengingat namanya. hanya Sasa yang ia tahu. mengenai alisya atau Anisa, Erick tak tahu sama sekali mana yang alisya dan mana yang anisa. dia tahu mereka kembar. makanya bertanya pada Sasa siapa gadis jahat itu. dengan jelas waktu itu Anisa nama yang Sasa.
__ADS_1