
riska terus berpikir, dimana gadis yang katanya tinggal bersama Erick. sudah beberapa hari disini tapi tak ada tanda-tanda kalau ada penghuni lain di rumah ini. Riska mengambil ponselnya, hari ini harus menghubungi Alpin. memberi tahukan kalau elson baik-baik saja. dan sekalian menanyakan apa benar gadis itu memang tinggal bersama Erick.
Riska: pak Alpin anda tenang saja, Elson baik-baik saja.
Alpin: bagus. bekerja lah seperti biasa jangan membuat Erick mencurigai nyonya.
Riska: iya, tapi.. gadis yang anda maksud seperti nya tak ada di sini.
Alpin: maksud nyonya.?
Riska: den Erick hanya tinggal sendiri. tak ada gadis seorang pun.
Alpin: umm.. oke. nyonya besok pagi bawa Elson ke taman kota. aku sudah merencanakan semuanya.
Riska: baik. selamat malam tuan Alpin.
riska segera menutup telponnya begitu mendengar pintu kamar di buka. Erick masuk dengan mata yang tajam menatap nya. membuat riska takut kalau Erick mendengar semuanya.
"den Erick.. sudah pulang. sa..ya buat makan malam dulu." ujar riska gugup. Erick menggeleng kan kepalanya membuat Riska akhirnya tetap diam di kamar.
__ADS_1
Erick berjalan mendekati kasur, di lihat nya Elson begitu terlelap dalam tidur nya.
"bagaimana hari ini, apa Elson masih merengek ingin bertemu ibunya?" tanya Erick seraya membelai pipi Elson.
"tidak den. den elson begitu penurut hari ini."
"baguslah. besok pagi-pagi sekali ikut aku. kita pindah dari sini." ujar Erick seraya keluar kamar. Riska mengerutkan keningnya.
"maksud den Erick.?"
"kita pindah rumah. aku sudah tak betah tinggal disini."
riska terdiam. jika besok harus pindah, itu artinya rencananya dengan Alpin harus di tunda lagi. Riska harus menghubungi Alpin lagi dan segera memberi tahu semuanya.
"aku tahu sejak awal kedatangan mu ada yang tidak beres." desisnya. " apa kau sangat senang ikut campur Alpin Renon." geramnya.
sebenarnya Erick sudah sampai sebelum Riska menelpon Alpin. dia hanya tak sengaja mendengar percakapan riska di telpon. niatnya untuk masuk kekamar di urungkannya saat mendengar Riska menyebut nama Alpin. karena ingin mengetahui dengan jelas siapa yang sedang berbicara dengan Riska di sebrang sana Erick terus berdiri di balik pintu.
Erick masuk ke kamarnya. merebahkan tubuhnya. memandang langit-langit kamar dengan pikirannya yang melayang jauh entah kemana.
__ADS_1
"Anisa.. apa aku begitu kejam padamu hingga kau membenciku sekarang.." gumamnya.
"ah..hahaha.. ya, aku memang kejam lebih kejam dari iblis. menyakiti mu dengan membawa gadis lain dalam rumah tangga kita." Erick tertawa getir. airmata nya meleleh.
semenjak sadar akan betapa penting nya Anisa di hatinya, airmata Erick begitu mudah mengalir. Erick seperti seorang gadis yang sedang putus asa karena di campakkan pacarnya. dia tak terlihat seperti lelaki kejam yang tak berperasaan.
sementara itu Alpin dengan cepat mengatur kembali rencana. Riska menelponnya kembali dan mengatakan kalau Erick akan membawa mereka pindah rumah. Alpin melempar ponselnya karena rencananya kembali gagal.
"sial. sudah susah-susah aku berbuat sejauh ini. Erick.. tak akan ku biarkan kau membuat Anisa menangis lagi" geramnya.
Alpin menyandarkan kepalanya di kursi. dia masih ada di rumah sakit. semenjak Rahma di rawat di sini, alpin memang sengaja tak pulang ke rumahnya. dia terus menemani anisa menjaga Rahma.
matanya terpejam. mencoba mengatur napasnya.
maaf Anisa jika aku terlalu egois. aku mencintai mu. aku tak ingin kau kembali padanya. aku sudah menyembunyikan semua nya darimu. sebenarnya aku tahu segalanya, Sasa yang terus menyakiti mu dengan niat jahatnya. semenjak aku sadar ada cinta di hati ku, aku memilih menutupi semuanya karena aku takut kau juga akan menjauh dariku.
hati kecil nya begitu tak rela jika Anisa menjauh darinya, apalagi jika mengetahui bahwa dia terus diam meskipun tahu kalau Sasa memang punya niat buruk padanya.
dulu Alpin memang pacar Sasa, tapi sebenarnya hatinya selalu di isi oleh anisa. Sasa dan dirinya mungkin sama egois, dan semua salahnya membuat Anisa menjadi target utama Sasa.
__ADS_1
Sasa memang tak pernah mengungkit soal alpin yang terus memikirkan Anisa padahal waktu itu statusnya adalah pacar Sasa. Alpin mendesah, ia tahu dengan jelas kenapa Sasa lebih memilih Erick waktu itu.
"hahaha.. apa kau akan membenciku Anisa, jika tahu semua ini." kekeh Alpin. dia menjadi sangat gusar.