Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 63


__ADS_3

"cepat.. darahnya semakin banyak keluar."


"kita butuh darah tambahan."


"maaf dokter, darah tipe ab kosong. kita harus meminta keluarga nya untuk segala mencari pendonor."


"cepat, tidak ada waktu lagi."


"tekan dadanya lebih kuat, jangan biarkan dia berhenti bernafas."


suasana di ruangan itu sangat tegang. dokter pun terlihat sangat khawatir karena darah yg terus keluar tanpa hentinya. seperti sedang berperang melawan ribuan musuh, keringat dingin bercucuran di tubuh para dokter juga perawat yang ada di sana.


seorang perawat wanita yang ditugaskan untuk menemui keluarganya segera tergesa keluar.


"keluarga pasien?" tanya nya pada dilan.


"aku temannya." jawab dilan. "apa yang terjadi?"


"kami butuh orang yang bisa mendonorkan darahnya, karena pasokan darah ab dirumah sakit sedang kosong."


"apa? bagaimana ini Alpin.?"


Alpin memasukan kembali ponselnya ke dalam saku sebelum sempat menghubungi Anisa. dia berjalan mendekati perawat itu.


"biar aku saja. darah ku ab."


"dokter alpin, baiklah mari ikut saya."


dilan terduduk dengan lemas, dia berpikir apa Alpin sudah menghubungi Anisa atau belum. jika di lihat dari sifatnya tak mungkin Alpin menghubungi Anisa sekarang.


Alpin berbaring dengan posisi setengah duduk, dia melihat selang infus yang sedang menyedot darahnya.

__ADS_1


mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan?


Alpin memejamkan matanya, sekali lagi dia menutupi hal penting dari Anisa hanya karena berpikir takut terjadi apa-apa jika Anisa mendapatkan kabar kecelakaan Erick. dia takut Anisa akan shock dan jatuh sakit. memang sangat berlebihan kekhawatiran nya terhadap Anisa.


setelah di rasa cukup, perawat itu langsung membawa 2 kantong darah ke ruangan di mana Erick di tangani.


Alpin meminum obat juga segelas susu untuk memulihkan tenaganya. dia berjalan menuju tempat dilan berada.


"kau tak menghubungi nya kan?" tanya dilan langsung tanpa melihat Alpin.


alpin terdiam. "saat ini Erick butuh Anisa. apa kau ingin menyesal seumur hidup mu jika terjadi sesuatu hal terburuk."


Alpin masih terdiam. mencoba memikirkan ucapan dilan. dengan cepat dia merogoh ponselnya kembali, lalu memberikannya pada dilan.


"kau yang hubungi."


dilan menerimanya. "hubungi Riska, dia asisten rumah tangga nya."


dilan segera.mencari kontak dengan nama Riska, lalu segera menelponnya.


cukup lama dilan menunggu panggilan nya di angkat, mungkin Riska sedang tidur karena ini sudah tengah malam.


dilan mencoba menghubungi nya lagi untuk ketiga kalinya baru Riska mengangkatnya.


"pak Alpin? ada....."


"bi, ini temanya. saat ini Erick sedang di rumah sakit. beritahu Anisa dan katakan cepat lah kemari."


tuut...Tut...Tut...


dilan langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu riska menjawab. dia langsung memberikan ponsel itu kembali pada alpin.

__ADS_1


"aku tahu kau mencintainya. tapi jangan biarkan karena ego mu dia jadi membenci mu." dilan menepuk pundak Alpin. "cinta itu bukanlah sesuatu yang harus kamu miliki seutuhnya. tapi cinta itu adalah sebuah pengorbanan."


Alpin terpaku, ucapan dilan selalu benar. meskipun dia tipe lelaki yang sedikit serampangan tapi pandangannya tentang hidup selalu jauh didepan. mungkin Alpin harus banyak belajar lagi pada dilan. seorang yang setia kawan, tak pernah menyerah soal apapun dan akan melunak jika berhubungan dengan hati.


seorang perawat kembali keluar, wajahnya kini terlihat lebih santai tak seperti tadi. lalu perawat lainnya keluar dan terakhir sang dokter.


"bagaimana dok? apa teman saya baik-baik saja.?" buru dilan. dokter itu membuka masker nya.


"ini berkat anda dokter." dokter itu tersenyum ke arah Alpin. "suster bilang kau yang mendonorkan darah. apa dia kerabat mu?"


"aku hanya mengenalnya saja."


Alpin pun pergi bersama dokter itu. sementara dilan masih duduk di tempat karena masih belum di perbolehkan melihat Erick, menunggu Erick di pindahkan dulu ke ruangan rawat.


Riska segera berlari ke atas. "non.. non Anisa bangun non.."


tok..tok..tok..


"iya bi, ada apa ribu-ribut." Anisa melihat jam weker nya, masih tengah malam.


ceklek..


Anisa membuka pintunya.


"non, burusan ada yang telpon, den Erick ada di rumah sakit."


"apa? apa yang terjadi bi?"


"tak tahu non, cuma bilang den Erick ada di rumah sakit. dan menyuruh non segera kesana."


anisa tanpa berpikir lagi langsung berlari keluar dan masuk kedalam mobil. dalam ke adaan masih memakai baju tidurnya.

__ADS_1


Erick, apa mimpi ku tadi sore adalah nyata..


pikirannya melayang ke mimpi nya tadi saat di mobil Alpin. dadanya berdebar kencang.


__ADS_2