Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 42


__ADS_3

setelah semua selesai, Erick kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan nya. dia berpesan kepada Riska malam ini akan pulang sedikit lebih telat karena ada urusan yang harus di selesaikan. riska hanya menuruti semua perintah Erick.


"sayang, papah berangkat dulu. jangan nakal oke."


Elson hanya mengangguk, Erick senang karena akhirnya Elson mau juga memanggil nya papah.


setelah mencium kedua pipi Elson segera erick pergi. Erick melirik Riska sekilas lalu tersenyum puas. tanpa sepengetahuan riska rumah baru ini telah di kelilingi cctv juga setiap no telpon telah di sadap olehnya.


dilan tersenyum begitu melihat erick keluar dari rumahnya.


"kita ikuti mereka atau biarkan saja." ucap dilan begitu Erick sampai di dekatnya. Erick mengeluarkan se gepok uang dari dalam koper lalu menyerahkannya pada dilan.


"kita lupakan masalah Alpin. sekarang aku hanya ingin tahu siapa yang menyuruh Reza melukai anisa."


"itu hal yang mudah. lalu.. apa hari ini aku juga harus menjaga Anisa dari kejauhan?"


"tidak usah. biarkan saja."


Erick dan dilan pun naik kendaraan masing-masing lalu pergi ke arah yang berlawanan.


_________________________


"kenapa kau menghentikan aksimu hanya karena melihat dilan.?" tanya Sasa.


Reza membuka topinya lalu melihat wajah Sasa yang terlihat begitu marah.


"jika aku melakukan nya didepan dilan, maka dia pasti akan melaporkan ku pada Erick."jawab Reza.


"aaahhhh.. rupanya kau ingin istri mu mati. aku sudah mengirim orang kerumah sakit untuk menghabisi nyawa istrimu jika kau gagal. "


"tidak..kumohon jangan."


Reza berlutut dengan cepat memohon. Sasa berjalan mendekatinya.


"oke...tapi kali ini kau harus berhasil."

__ADS_1


"iya..tenang saja. aku akan melakukan nya malam ini."


"bagus.. jika tidak tangan ini akan ku potong." Sasa menginjak kedua tangan Reza. dia terkekeh melihat Reza yang meringis menahan sakit.


"pergi lah.." usir Sasa kemudian.


Reza bangkit dan segera keluar dari apartemen sasa.


"Yo.. tuan Reza."


"dilan." Reza terkejut begitu saat menutup pintu dilan ada di belakang nya. Reza menelan ludahnya gugup.


"kau bekerja sama dengan siapa? kau ingin membunuh Anisa?" tanya dilan membuat Reza semakin gugup.


Reza terdiam. matanya bergerak tak tenang. dilan merogoh ponselnya lalu menghubungi Erick.


"dia ingin bicara denganmu." ujar dilan seraya memberikan ponselnya pada Reza. Reza mengambil nya dengan tangan gemetar.


"ha..halo.."


entah apa yang di katakan Erick tapi raut wajah Reza berubah pucat. tubuhnya ambruk kelantai, keringat nya mengucur dengan deras.


"bagaimana Erick.." tanyanya.


dilan terkekeh saat mendengar jawaban Erick. ia tak menyangka ternyata Erick lebih kejam dari seorang pembunuh bayaran. dan lebih licik dari seorang penipu.


dilan mengangkat Reza untuk berdiri.


"istri mu baik-baik saja. tapi.. kau tetap harus melakukan tugasmu." bisik dilan membuat reza menatap nya tak percaya.


baru saja Erick mengatakan kalau istri nya telah di lenyapkan, ternyata itu hanya kebohongan Erick untuk membuat nya takut saja.


"bawa Sasa kehadapan Erick."sambung dilan.


"tapi.. "

__ADS_1


"tenang saja, istri mu tidak akan terluka."


Sasa mengepalkan tangannya, tanpa sepengetahuan mereka Sasa mendengar semua. dia sengaja berdiri di balik pintu karena curiga saat mendengar Reza menyebut nama dilan dengan cukup keras.


"sialan.. lihat saja. aku akan melenyapkan Anisa dengan tangan ku sendiri." geramnya.


sementara itu Erick terus memantau keadaan rumahnya. dia melihat gelagat riska yang begitu mencurigakan. riska terus berkeliling di dalam rumah seperti sedang mencari jalan.


Erick yakin pasti riska sedang merencanakan hal lainnya.


Erick tersenyum puas begitu melihat riska menelpon seseorang. dengan cepat Erick menyalakan ponsel nya untuk mendengarkan semuanya. dia memang pintar tak sia-sia menyadap no telpon Riska.


"iya pak.. rumahnya sangat luas dan tak ada jalan menuju ke luar lewat belakang. semua jendela pun di pasang dengan kuat, tak akan mudah di bongkar." itu suara Riska.


"baiklah. besok nyonya bawa Elson keluar rumah." Erick mengeryit, benar ini adalah suara Alpin. Erick semakin bertambah kesal, atas ikut campur tangan Alpin. dia tak menduga lelaki itu akan bekerja sekeras ini demi mendapatkan Anisa.


semakin banyak masalah sekarang. Sasa dan Alpin adalah dua orang yang ingin dia lenyapkan sekarang.


______________________________


anisa tengah duduk di kursi taman, dia ingin menenangkan pikirannya yang kalut. Rahma baru saja meninggalkannya untuk selamanya, begitu juga elson yang belum kembali.


di belakang pohon besar seseorang terlihat berdiri mengawasi nya, dengan penampilannya yang begitu tertutup. sebuah jaket hitam yang tebal juga topi yang cukup menutupi wajah nya. tak lupa masker dan juga kacamata hitam melekat di wajah nya.


"aku tak akan membiarkan mu hidup." gumam orang itu seraya memakai sarung tangan yang cukup tebal, tak lupa sebuah belati dikeluarkan dari dalam tasnya.


Erick segera berlari dari kantornya begitu mendapat pesan dari dilan bahwa sekarang Anisa dalam bahaya. dilan memang di tugaskan untuk mengawasi keselamatan Anisa oleh Erick. tapi ia tak mungkin mengorbankan nyawanya begitu saja saat melihat ada pembunuh yang mendekati Anisa. dia langsung menghubungi Erick begitu melihat ada yang mencurigakan.


drt.. drt...


ponsel Anisa bergetar. anisa dengan cepat mengangkat nya.


"iya Alpin. aku di taman." ujar Anisa. "kau kesini saja. aku tak mau kerumah sakit, itu akan mengingatkan ku pada ibu."


setalah itu anisa menyimpan kembali ponselnya.

__ADS_1


orang di balik pohon itu terlihat mengatur napasnya, baginya ini adalah tugas yang berat. bagaimana juga membunuh orang bukan lah hal yang mudah, butuh ke siapan mental untuk itu.


sementara itu Erick dan Alpin kini tengah di perjalanan menuju tempat Anisa berada. dan dilan terlihat semakin gusar saat melihat orang itu mulai melangkahkan kaki nya menuju tempat anisa duduk.


__ADS_2