
Di sebuah kamar mewah yang dipenuhi barang - barang mewah dan berkualitas.
Kamar yang seharusnya hening di tengah malam itu, kini ramai dengan suara desahan. Di tengah ruangannya terdapat sebuah ranjang berukuran king size, di mana di atasnya terdapat sebuah selimut yang bergerak - gerak tak karuan.
Dari balik selimut, menyembul kepala seorang pria baya. Suara dengusan jelas terdengar dari mulutnya. Tubuhnya bergerak tak beraturan dengan wajah merah padam. AC yang menyalapun sepertinya tidak terlalu berpengaruh karena keringat nampak membanjiri tubuh tambunnya.
"BRAAKKK !!!"
Ditengah - tengah kegiatannya yang entah apapun itu, tiba - tiba pintu kamarnya didobrak sehingga terjeblak dengan keras.
"Brengsek !!! Siapa yang berani menggangguku !!!" raung si pria baya, merasa marah karena tertunda dari kegiatannya. Dia segera berbalik dengan nafas berdengus - dengus dan kembali berteriak, "Kuhabisi kalia... ah !"
Pria baya itu urung meneruskan teriakannya. Wajahnya yang semula memerah karena libido dan amarahnya, sekarang nampak memucat.
Saat ini dihadapannya berdiri seorang pria yang masih sangat muda. Walaupun begitu, arogansi pada wajahnya membuat siapapun akan berpikir ulang untuk berbuat ulah dengannya. Di kanan kirinya, berdiri beberapa pria berbadan tegap dengan senjata siap di tangan. Salah satu dari merekalah yang tadi mendobrak pintu kamar.
"Wah, wah. Sepertinya aku mengganggu," sebuah suara bernada dingin terdengar. Membuat pria baya itu meneguk ludahnya dengan gugup.
"Mma... mma... mmaa... aaaff. Aaa... aakk... ku," suara pria Baya itu yang semula terdengar garang kini berganti dengan suara yang terbata - bata. Tubuhnya gemetaran dipenuhi rasa takut.
"Tidak perlu minta maaf. Kalau ada yang harus minta maaf, maka akulah orangnya," balas lawan bicaranya dengan ketenangan yang sama.
"Tttiiid... ddaakk pppeerr... lluu."
"Aah, kenapa sekarang Anda gagap seperti itu ?!" si pria muda itu menanggapi dengan sebelah alis terangkat. "Bukankah tadi Anda akan menghabisiku ?! Hm ?!"
Tidak mampu berkata, pria baya itu menggeleng dengan panik. Kedua tangannya bergerak cepat ke kanan dan kiri, seakan berusaha mengelak.
"Lihat ketidaksopananku," decak si pria muda dengan nada bosan. "Aku bahkan tidak memberikan Anda waktu untuk berpakaian dengan pantas."
__ADS_1
Pria baya itu mencicit, baru menyadari kalau dia sedang berdiri dalam keadaan tidak layak. Dengan tergesa dia segera berbalik. Sedikit memaksa menarik selimut, yang ternyata menyembunyikan seorang perempuan muda, lalu membelitkannya di sekujur tubuh tambunnya.
"Tapi kalau dipikir kembali, sepertinya lebih baik begitu." ujar si pria muda itu lagi dengan tubuh sedikit miring, mengambil sesuatu dari tangan salah satu pengawalnya. "Setidaknya bisa sedikit mengurangi kerepotan sewaktu orang lain memandikan jenazah Anda."
"KYAAA....!!!"
Perempuan muda itu menjerit histeris sewaktu tubuh si Pria Baya kembali jatuh dan menindihnya. Kali ini dengan kepala berlubang dan darah yang meleleh. Jelasnya dengan nyawa yang sudah amblas.
Jeritannya baru terhenti saat dilihatnya pistol berperedam itu kini berganti mengarah padanya. Kedua matanya melebar ketakutan, berhadapan dengan pria muda berwajah tampan yang saat ini berada di depannya.
"Jjjaaa... jangan. Kkuu.. kumohon...," suaranya menghiba dengan kepalanya yang menggeleng - geleng putus asa.
Segaris senyuman miring menghiasi wajah tampan pria muda itu. Dan seolah tidak peduli sama sekali, dengan wajah yang masih tersenyum dingin dia berkata, "Selamat tinggal."
Sebuah peluru kembali melesat keluar dari lubang pistol. Melaju nyaris tanpa suara dan dengan tepat menuju sasarannya.
🦀🦀🦀
Jam istirahat di SMU Cattleya.
Suasana terasa sangat bising dipenuhi dengung suara para murid yang berbicara dan terkadang diselingi teriakan panggilan atau jerit tawa.
"Brakk !!!"
Meja kantin sedikit bergetar, digebrak dengan geram oleh seorang gadis dengan rambut sebahu yang diurai.
"Rin, kamu serius ??!!" suaranya terdengar tidak sabar. Menatap gadis yang duduk berseberang meja dengannya, dengan ekspresi wajah serius.
"Sabar dulu, Sha," sela salah satu gadis lain yang berkaca mata, sembari memegang salah satu lengannya. Mencoba menyabarkan temannya yang tadi sempat menggebrak meja.
__ADS_1
"Sudahlah, Fellin..." Gadis berkaca mata itu menoleh ke arah temannya yang menyebut namanya tadi. "Aku juga sempat marah tadi. Nggak percaya dengan apa yang ada di dalam kepala si Karin ini."
"Sabar dulu, Martha," desah Fellin sementara Martha mendengus sebal.
Empat orang gadis itu duduk mengelilingi meja kantin. Berbeda dengan suasana sekitar yang begitu ramai dan ceria, keempatnya saat ini justru dilingkupi rasa tegang dan serius.
Alisha mendesah, memandang tidak percaya pada Karin yang duduk di depannya.
Ah, bagaimana bisa temannya yang super kalem itu ternyata jatuh cinta ?! Kalau dia jatuh cinta pada cowok baik - baik sih, masih wajar. Tapi ini ?!
Alisha memijit pelipisnya, mendadak merasa pusing memikirkan temannya yang satu ini. Makin bertambah pusing sewaktu didengarnya teriakan histeris dari para siswi. Yang kemudian berebut menuju balkon, menumpuk saling tindih dan dorong di sana.
Karin bergerak rikuh sesaat sebelum akhirnya beranjak mengkuti kumpulan betina yang histeris. Membuat Alisha kembali mendesah.
"Apa sih ?! Ada apa kok sampai Karin pergi begitu ?!" tanya Fellin dengan lugunya.
"Duh, Fellin. Please, deh," sahut Martha dengan dengusan kesalnya. "Kalau sampai cewek - cewek alay itu heboh seperti itu, berarti 'dia' sudah datang ke sekolah !!!"
Fellin masih memasang tampang bingung. Sepertinya hari ini mode telmi-nya agak lebih parah dari biasanya.
"Duh, Fellin. Bisa sakit jantung aku gara - gara telmi-mu !!!" Martha berkata dengan gemas. "Kehebohan seperti itu cuma berarti satu hal : Althair sudah datang ke sekolah !"
Tanpa dosa, Fellin hanya ber-oh ria. Tidak terganggu dengan wajah Martha yang sudah merah padam menahan marah.
Alisha menatap dengan sebal pada kerumunan cewek yang berjubel di area balkon, berebut saling dorong agar bisa berdiri paling depan dan berteriak - teriak histeris. Seolah bertemu artis K-Pop idola mereka.
Semua kehebohan itu demi menyambut kedatangan Althair Kyro Zackqueen.
Siswa penghuni penghuni kelas XI - A. Cowok yang memiliki tampang di atas rata - rata. Bad boy bagi para guru namun seorang Prince Charming di mata sebagian besar kaum hawa. Satu - satunya murid yang paling banyak melanggar peraturan sekolah tapi anehnya selalu lolos dari hukuman.
__ADS_1
Cowok pada siapa temannya, Karin, menaruh hati.
🦀🦀🦀