
Alisha masih ingat dengan jelas bagaimana dulu dia pertama kali bertemu dan akhirnya berteman dengan Martha, Karin dan Fellin.
Hari pertama MOS.
Alisha berlari setengah mati. Dia terlambat. Bukan karena terlambat bangun atau karena macet. Tapi karena supir bemo yang baik hati nan budiman malah memutuskan untuk adu mulut dengan sesama supir bemo lain. Hanya untuk mempersalahkan siapa yang berhak berangkat dulu dan siapa yang wajib nge-tem dulu.
Dalam hati Alisha dan sesama penumpang lain bersemburat ratusan kata terima kasih yang paling dalam. Terima kasih karena berkat adu mulut mereka, puluhan kendaraan mengekor macet di belakang. Berkat mereka dua orang satlantas terpaksa turun tangan dengan kewalahan. Berkat mereka banyak pegawai akan mendapatkan siraman rohani di pagi hari oleh atasan masing – masing karena sudah sukses datang lebih lambat dari jam kerja yang ditentukan. Dan juga terima kasih karena pada akhirnya Alisha terpaksa berlari di hari pertamanya sekolah. Makasih. Makasih.
Bahkan dari kejauhan Alisha sudah tahu kalau dia terlambat. Mengerang putus asa demi melihat gerbang sekolah yang tertutup. Ditambah dengan satpam penjaga yang memasang gaya acuh. Seolah berkata : salah sendiri terlambat. Yaelaaa... pelit to the max banget sih, Pak.
Alisha masih terengah mengatur nafas sewaktu secara bersamaan datang dua orang cewek. Yang satu berambut pendek dengan kacamata bulat, yang satu nampak imut dengan pita di kepala. Yep, Fellin dan Karin.
“Aduuuhh, bagaimana ini ?” keluh Fellin cemas. “Duh, gara – gara ban bocor sih...”
“Ck ! Ini gara – gara Mama sih, telat banguninnya,” gerutu Karin, bersedekap.
Belum sempat Alisha bersuara, terdengar suara di belakangnya, membuatnya menoleh dan melihat seorang cewek dengan rambut di atas bahu. Martha.
“Diihh, telat juga akhirnya. Tahu gini mending tadi nggak masuk saja sekalian. Bikin repot saja,” dengus Martha berkacak pinggang. “Eh, kalian telat juga kan ? Bolos saja yuk,” ajak Martha.
Alisha sedikit melongo. Lahh ???
“Daripada kita garing di sini, nunggu sampai upacara selesai. Belum lagi ntar kita bakal dipajang macam tersangka di lapangan gara – gara telat,” Martha mengangkat bahu berkata ringan. “Ya kan ?”
Oke. Alasannya memang masuk akal. Tapi, bolos di hari pertama sekolah ?!
Mereka saling bertatapan. Ragu. Sampai akhirnya, setelah berdehem beberapa kali, Alisha bersuara,” Anu... Sebenarnya kalau mau, ada sih cara masuk ke sekolah selain dari gerbang. Ehm yah... daripada harus bolos.”
Mereka bertiga diam menatapnya. Membuat Alisha nyengir dengan kecut. Upss, apa dia sok tahu ya ?
“Gila ! Beneran ada ?! Bilang dari tadi dong,” seru Martha semangat. Fellin juga berbinar dan Karin mengangguk senang.
__ADS_1
Tidak lama, nampak empat orang gadis bergerombol pada pagar samping sekolah yang berada di sebelah selokan. Dimana diantaranya, terdapat tiga ruas pagar yang patah dan dua lagi rapuh berkarat. Tertutup rimbunnya tanaman. Dari sana, keempat gadis itu bergantian menyusup dan langsung menuju lapangan. Berlagak seolah baru saja dari toilet.
Cerita selepasnya mudah ditebak. Mereka berempat semakin dekat dan berteman. Lalu bersahabat.
Bersahabat sampai semua ini terjadi...
...
Alisha menarik nafas perlahan. Dadanya terasa sesak. Seakan ada beban berat yang menindihnya.
Suara – suara di sekitarnya terasa bergaung. Memang masih terdengar namun seolah berasal dari kejauhan. Tiba – tiba Alisha merasa sendirian.
Kepalanya seolah kosong.
Tadi sewaktu dia mendengar Stella mengatakan hal itu, otaknya masih menolak memproses informasi yang diterima. Alisha menolak untuk percaya. Tapi raut wajah Martha dan Fellin memberikan pernyataan jelas. Belum lagi Karin yang hanya terdiam menunduk. Seakan mempertegas kenyataan.
Ya Tuhan... Kenapa ?!!
Alisha salah apa, Tuhan ?!!
Terbelah oleh rasa bingung antara Karin atau Alisha, Martha bimbang beberapa detik.
“Martha, kejar Karin !” seru Fellin tegas mengambil kendali. Martha mengangguk dan langsung berlari ke arah Karin.
“Sha...” ujar Fellin, kedua tangannya menangkup pipi Alisha. “Alisha, ingat apa yang kita sama – sama janjikan.”
Alisha masih terdiam, pucat menatap Fellin.
“We still have each other, no matter what happen,” ujar Fellin lagi, kedua matanya mulai berlinang air mata.
“Alisha... Selama ini selalu kamu yang jadi penengah. Selalu kamu yang paling bisa berpikir jernih. Please, Sha... dont give up now," ujar Fellin lagi.
__ADS_1
Alisha masih terdiam.
“Alisha, Karin need us. Martha nggak mungkin bisa handle Karin sendirian. Karin butuh kita, Sha..."
Haruskah ?!! Setelah yang dilakukan Karin, haruskah Alisha tetap berteman dengannya ?!!
"Sha... aku tahu Karin salah. Dan aku nggak ada niat buat bela dia. Tapi ini nggak akan selesai hanya dengan kita diam saling marah," Fellin masih berusaha memberi pengertian.
Lalu apakah dia tidak berhak marah ?!! Tidak berhak sakit hati ?!!
"Sha, aku tahu kamu sakit hati. Itu pasti. Tapi bukankah kita masih bisa membicarakannya ?" bujuk Fellin.
Lalu apa ?!! Bukankah mereka sudah pernah bicara dan tidak ada hasilnya ?!!
Malah akhirnya sampai terjadi hal seperti ini...
"Alisha, please..." suara Fellin bergetar putus asa karena Alisha masih tetap diam.
"Apa yang kalian lakukan ?!! Kenapa belum masuk kelas ?!" hardik seorang guru yang kebetulan lewat. Membuat beberapa murid langsung mlipir balik ke kandang eh kelas masing-masing.
“Kyaaaaa !!!!”
Belum sampai kerumunan para murid bubar secara sempurna, terdengar suara jeritan yang segera saja menarik perhatian. Membuat mereka akhirnya urung kembali ke kelas.
Seorang siswi tidak sengaja mendongak dan langsung menjerit histeris. Orang - orang disekitarnya lalu mengikuti arah pandangannya, ingin tahu apa yang membuatnya menjerit. Tak lama kemudian, merekapun ikut menjerit juga. Segera, lapangan sekolah dipenuhi jeritan kaget dan dengungan bernada cemas.
Guru yang semula mengobrak para murid tadi, turut mendongak dan sekarang nampak pias. Segera berlari menuju ruang guru dengan panik. Berteriak meminta bantuan.
Sekilas Alisha dan Fellin bertukar pandang heran, sebelum akhirnya ikut mendongak ingin tahu. Seketika itu juga dada Alisha berdengap. Bisa dirasakannya juga Fellin yang ada disebelahnya menahan nafas dengan tubuh menegang.
Karin ada di atap sekolah.
__ADS_1
🦀🦀🦀