Shotgun - Sub Zero : HER

Shotgun - Sub Zero : HER
Bab 22


__ADS_3

  I’ll be by yourside


  When you scared and blue


  I’ll be by yourside


🦀🦀🦀


  Alisha menatap bayangannya sendiri di cermin. Dadanya terasa sesak tiap kali menghela nafas. Perlahan, sebutir air mata meleleh turun di pipinya.


  ‘Jangan menangis, Alisha. Berjanjilah bahwa kamu hanya akan menangis dihadapanku saja. Setidaknya aku akan bisa menghapus air matamu. Seperti ini...’


  Tangan Alisha menyapu pipinya, menghapus air mata yang tadi sempat meleleh.


  ‘Be strong, My Girl. Alisha, be strong...’


  Alisha memejamkan matanya kuat – kuat. Mencoba meresapi lebih dalam segala kenangan yang memenuhi dirinya.


  “Be strong, Alisha. Be strong,” gumamnya, seakan mengucapkan sebuah mantra.


  “Alisha ! Ayo cepat sarapan. Nanti terlambat sekolah lho !” suara Mama mencapai telinga Alisha.


  Berdeham beberapa kali untuk memastikan suaranya tidak serak, akhirnya Alisha menjawab,” Iya, Ma. Sebentar.”


  Alisha menatap bayangannya pada cermin sekali lagi, memastikan tidak ada sisa air mata lagi, sebelum akhirnya mengambil tas ranselnya dan bergegas keluar kamar. Dalam hati berharap semoga hari ini tidak sebiru kemarin.


🦀🦀🦀


  “Pagi, Sha.”


  Alisha baru saja turun dari bemo sewaktu pundaknya ditepuk. Menoleh dan tersenyum ceria melihat siapa yang menyapanya.


  “Pagi, De,” balasnya pada Dewanti.


  “Pagi, Yun,” sapa Alisha lagi pada Yuni yang bersama Dewanti.


  “Tumben baru datang ?” obrol Dewanti sambil berjalan.


  “He he he, iya. Semalam keasyikan streaming drakor, jadi telat bangun,” cengir Alisha.

__ADS_1


  “Oh, pantesan bawah matamu agak hitam, Sha. Pasti habis nangis karena adegannya sedih banget ya ?” timpal Yuni. “Semalam aku juga sampai nangis sesenggukan, nonton The L*st Empreess.”


  Alisha tersenyum tipis. “Iya. Sedih banget ya...”


  “Sha !” Jalan Alisha terhenti sewaktu Martha menarik sebelah tangannya. Sepertinya begitu turun dari mobilnya dia langsung berlari mengejar Alisha.


  “Beiby, we need to talk,” ujarnya masih sedikit terengah.


  “Eh, kalo gitu kami duluan ya ?” pamit Dewanti dan Yuni.


  “Jangan. Kita bareng saja ke kelas,” sahut Alisha segera, menahan Dewanti dan Yuni.


  “Tha, sebentar lagi sudah bel. Ntar telat lho,” ujarnya menghadap Martha. “Kalau mau bicara, nanti saja ya.”


  Martha memandang Alisha dengan seksama, mencoba menebak isi pikiran sahabatnya. Tapi orang yang dipandanginya hanya memasang raut polos dengan cengiran di wajah.


  “Yuk, ke kelas,” lanjut Alisha sambil menggandeng Martha yang hanya bisa pasrah mengikutinya.


  Bel istirahat sudah berbunyi sejak beberapa saat lalu. Kantin sekolah seperti biasa sudah dipenuhi para murid yang tak ubahnya seperti piranha.


  Martha mendesah. Disinilah dia, terperangkap diantara teman – teman sekelasnya yang ribut berkicau sambil mengisi mulut penuh – penuh.


  Ah, atau memang Alisha sengaja menghindarinya ?!


 


  Apa Alisha benar – benar marah dan tidak mau berteman lagi dengan Karin ?!


  Martha kembali mendesah. Sadar betul kalau semuanya bukan salah Alisha juga. Kalau semisal dirinya yang ada di posisi Alisha, mungkin dia akan jauh lebih marah. Apalagi kalau ingat sewaktu Karin tiba – tiba menampar Alisha begitu saja di depan banyak orang.


  Martha kembali memandangi Alisha. Dilihatnya sahabatnya itu sempat melihat ke satu arah secara sekilas, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan dan kembali mengobrol. Mengikuti arah pandangan Alisha, Martha melihat Karin dan Fellin duduk di sisi lain.


  Tersenyum, Martha menghembuskan nafasnya lega. Alisha ternyata masih memperhatikan Karin.


  Ya, bahkan keberadaan Fellin di sisi Karin juga atas permintaan Alisha. Setidaknya masih ada yang menemani Karin di saat labil sekarang ini. Dan bukankah itu artinya masih ada kesempatan untuk mereka berempat kembali bersahabat seperti dulu ?!


  “Ck, dasar kamu ini, Sha. Bikin orang lain cemas saja,” gumam Martha sambil menyuapkan kembali siomaynya.


🦀🦀🦀

__ADS_1


  Lapangan sekolah dipenuhi sorak sorai yang menemani pertandingan sepak bola antar kelas. Walaupun waktu sekolah sudah usai, namun para murid masih betah bertahan di sekolah, berdiri memenuhi pinggir lapangan demi menonton pertandingan.


  Alisha menggembungkan pipinya. Meniup poninya dan menggoyangkan sebelah kakinya tidak sabar.


  “Sha,” panggil Martha berlari mendekat.


  “Beiby, lama banget sih,” cemberut Alisha. “Aku udah kelaperan nih. Pengen cepat pulang, iiihhh...”


  “Sori, deh. Tadi kecantol temen – temen dari ekskul PA soalnya,” sahut Martha dengan cengiran lebar, merasa bahagia. Akhirnya tadi Alisha sendiri yang mendatanginya, mengajaknya bicara dan tidak menolak sewaktu dirinya menawari untuk pulang bareng.


  “Nanti dijalan aku traktir deh,” tawar Martha, berjalan disebelah Alisha.


  “Nggak usah, Tha. Mau langsung pulang saja, makan di rumah,” Alisha menggeleng, menolak. “Tadi mama bilang mau masak sop jamur sama perkedel kentang. Hmm... Beiby, perutku tambah keroncongan niiihh.”


  Martha tertawa melihat gaya Alisha yang sudah seperti orang yang belum makan sebulan. Kentara sekali sahabatnya ini sudah lapar berat.


  “Iya, deh. Iya. Kamu ini umpama disuruh milih duit segepok atau nasi sepiring, pasti milih nasinya,” sembur Martha.


  “Iyes, Beiby. Pasti itu. Kan kamu sendiri yang bilang : makan yang banyak karena pura – pura bahagia itu butuh tenaga. Iya kan ?” sahut Alisha ringan.


  Martha hanya mendengus tertawa mendengar ucapan Alisha. Tetap berjalan merendengi langkah Alisha, menyeberangi pinggir lapangan menuju parkiran mobil.


  Mereka asyik mengobrol, sama sekali tidak menyadari bola yang melaju disertai suara ramai teriakan.


  “DUUKKKK !!!”


  Martha hanya sempat melihat bola yang meluncur cepat dan menghantam perut Alisha dengan kuat.


  “Alishaa !!!” teriak Martha kaget, sempat menahan tubuh Alisha agar tidak tersungkur begitu saja. Namun Alisha hanya mengerang sesaat, sebelum akhirnya lunglai.


  “Sha !!! Alishaa ! Beiby, bangunn...” seru Martha panik.


    “Alishaa !!!” Fellin menjerit dengan nada tercekat. Berlari menerobos para murid yang sudah berkerumun dan langsung duduk di sebelah Martha, saling bertukar tatap dengan cemas.


  Sementara Karin hanya berdiri dengan kedua tangan membekap mulutnya. Kedua matanya melebar nampak ketakutan. Sewaktu menyadari kalau Martha melihat ke arahnya, Karin segera berbalik dan menghilang di tengah kerumunan.


  Dan pertandingan sepak bola yang semula dipenuhi sorakan penuh semangat dari para pendukung kedua belah pihak, sekarang diliputi oleh rasa cemas.


  Alisha jatuh pingsan.

__ADS_1


🦀🦀🦀


__ADS_2