Shotgun - Sub Zero : HER

Shotgun - Sub Zero : HER
Bab 11


__ADS_3

"Think, Alisha ! Think !"


Alisha bergumam pada dirinya sendiri. Memerintahkan dirinya untuk terus berpikir. Martha masih terus berusaha menghubungi Karin. Sedang Fellin memilih duduk terpekur sambil memandangi kedua tangannya.


Alisha memutar otak. Di mana kira - kira tempat yang biasa dipakai para anggota geng motor untuk berkumpul ?!


Lapangan ?! No. Sebagian besar lapangan di kawasan kota berbayar. Jadi kemungkinan kecil mereka menyewa lapangan.


Taman kota ?! Ya. Kemungkinan ini sepertinya yang paling besar. Taman kota gratis untuk digunakan siapa saja. Tapi jangan lupa, ini hari Minggu pagi dan hampir semua taman kota pasti akan ramai dikunjungi sehingga tidak memungkinkan untuk dijadikan tempat nongkrong bagi para geng motor.


Taman kota yang berlokasi jauh di pinggiran kota. Atau yang letaknya kurang strategis. Atau yang terkenal sebagai daerah rawan sehingga kurang diminati orang - orang.


Alisha segera meraih handphone-nya, langsung googling. Sejenak dia terdiam memandangi layar handphone-nya menunggu hasil olahan data yang dimintanya.


"Tha," panggil Alisha pelan. "Orderkan ojek online. Sepertinya aku tahu kemungkinan ke mana mereka membawa Karin."


🦀🦀🦀


Althair melepaskan helmnya. Dari kejauhan dia sudah bisa melihat sekumpulan motor yang diparkir sembarangan. Memenuhi satu sisi taman hingga meluber ke jalanan.


Dengan tenang dia berjalan ke arah kerumunan. Terdengar gelak tawa dan berbagai omongan makian. Tidak luput juga telinganya mendengar suara cewek yang menangis di sela - selanya.


Althair menghela nafas. Perkiraannya ternyata tepat. Tanpa menoleh, pandangan matanya bergerak menyapu sekitar. Memperhitungkan situasi dan kondisi. Area sekitar taman sepi. Baguslah, setidaknya dia tidak perlu repot membersihkan sisa kerusuhan nanti.


"Yo !!!" panggil Althair dengan gahar. Seketika segala ocehan, makian dan gelak tawa terhenti. Para anggota geng motor itu menoleh melihat siapa tamu mereka.


"Siapa lo ?!"


Sebelah alis Althair terangkat, melihat sikap penanyanya yang jelas tidak bersahabat.


"Soal siapa gue, lo tanya saja sama temen lo yang sudah bawa itu cewek," jawab Althair, menunjuk ke arah Karin yang menangis.


"Kamu nggak apa - apa kan, Karin ?" tanya Althair dengan nada yang lebih ramah.

__ADS_1


"Althair !!!"


Demi melihat Althair, Karin segera berlari hendak menghampirinya. Tapi langkahnya terhenti, tertahan karena rambutnya ditarik paksa oleh seorang cowok.


"Aaawww !!!" Karin memekik kesakitan olehnya.


Karin tidak berdaya. Kedua lengannya dipegang erat oleh dua cowok sekaligus. Menghalanginya untuk kabur sehingga dia hanya bisa meronta - ronta.


"Jangan kasar sama cewek !" hardik Althair. Kedua tangannya sudah terkepal menahan emosi.


"Memang apa hubungan lo sama ini cewek ?!! Hah ?!!"


Althair terdiam. Secara spontan dalam hatinya menyebut nama Alisha. Kalau bukan karena Karin adalah teman Alisha, belum tentu dia mau repot seperti ini.


"Bukan urusan lo," jawab Althair tenang. "Sekarang lo pilih : lepasin cewek itu dengan baik - baik atau... "


"Atau apa ? Hah ?!" sambar cowok yang tadi pertama menanyai Althair.


Jawaban Althair dibalas dengan gelak tawa menghina. Beberapa melontarkan makian, menganggap Althair tidak tahu diri.


"Oke. Gue anggap kalian sudah ambil pilihan," ujar Althair. "Tapi sebelumnya, gue mau banci kaleng yang sudah pakai nama gue, maju !!!"


"Lo jaga mulut lo kalo ngomong !" sergah seorang cowok sambil merangsek ke depan.


Althair mendengus tertawa. "Ternyata memang lo, Tir."


"Kenapa, hah ?!! Gara - gara lo buat gue malu di depan teman - teman geng gue ! Jangan mentang - mentang Radith ada di pihak lo !"


Althair diam, masih bersabar mendengarkan Tirta.


"Lagipula bukan salah gue. Cewek ini yang ngebet pengen ketemu lo. Padahal tujuan gue itu si Alisha, sayang banget dia nggak mau ikut. Sok jual mahal banget tuh cewek. Cuihh !" Tirta meludah.


'BUUKKK !!!!!!!'

__ADS_1


Wajah Tirta masih dihiasi senyum pongahnya, tidak menyadari pukulan Althair yang menghantamnya cepat. Tubuhnya melayang, jatuh tersuruk sejauh dua meter. Belum sempat dia menarik nafas, Althair sudah menghadiahi tendangan keras pada perutnya. Seolah dirinya tak ubahnya sebuah bola sepak.


"Uhuk ! Uhuk !" Tirta terbatuk - batuk dengan nafas tersengal.


Dirinya baru saja hendak bangun tapi Althair segera menindihnya kuat dengan sebelah kakinya. Membuat Tirta mengerang dan kembali terkapar.


"Gue sudah pernah peringatkan lo. Jangan pernah sedikitpun ganggu cewek itu," Althair berkata pelan, tetap tidak kehilangan ketenangannya. Tapi nada dalam suaranya membuat Tirta gentar. "Gue habisi lo hari ini juga."


Saat berikutnya Tirta berteriak - teriak meminta tolong. Tubuhnya seolah menjadi samsak tinju bagi Althair. Sementara teman - teman satu gengnya sesaat terpaku, terdiam melihat Tirta yang menjadi bulan - bulanan. Entah mengapa mulai merasakan ketakutan dalam hati masing - masing untuk menghadapi Althair. Tapi saat berikutnya, entah nekat atau apa, mereka semua maju menghajar Althair.


"Hajar si brengsek itu !"


"Habisi, Bro !"


"Libas saja ! Toh dia Cuma sendirian !"


"Dia nggak sendirian !" sahut Radith. Bergegas maju membantu Althair, diikuti teman - teman gengnya yang lain.


"Elo, Dith," sapa Althair dengan nada santainya. "Nggak perlu repot, bisa gue atasi sendiri."


"Tapi gue memang mau repot, Al," jawab Radith. "Apalagi masalah ini disebabkan sama anak buah gue. Untung saja Tohir tadi sempat lihat lo lewat. Jadi gue dan temen - temen bisa cepet nyusul."


Althair memberikan senyum miringnya sebagai ungkapan terima kasih. Obrolan singkat mereka disambung dengan tangan dan kaki yang bergerak menghajar lawan.


Althair berkelit menghindari pukulan kayu yang diarahkan kuat padanya. Sebelah kakinya mengayun, menendang jatuh tiga orang sekaligus. Seseorang mencekiknya dari belakang sedang seorang maju menyasarkan tinju pada perutnya. Althair memutar tubuhnya, membuat orang yang mencekiknya itu seolah bergelantungan padanya. Memekik kesakitan sewaktu tinju temannya malah mengenai punggungnya. Dengan satu tangan, dibetotnya tangan orang yang mencekiknya dan langsung dibantingnya.


Althair mengusap peluhnya. Wajahnya masih saja tampak tenang tanpa emosi. "Maju lo semua !!!" tantangnya pada lima orang yang kembali menghadangnya.


"Kasih gue bagian juga, Al !" seru Radith, langsung menghajar dua diantaranya.


Tersenyum santai, seolah ini hanya sebagai olah raga rutin, Althair maju meladeni sisa tiga orang di depannya.


🦀🦀🦀

__ADS_1


__ADS_2