
Alisha menghela nafas panjang. Mencoba menenangkan dirinya sendiri. Its too rude today.
Tanpa diminta, otaknya memutar kembali kejadian yang dialaminya hari ini. Bermula dengan upacara bendera yang berakhir kacau. Belum lagi kejadian di ruang Kepsek.
Alisha menutup mukanya dengan kedua tangannya. Rasanya memalukan sekali. Entah bagaimana dia akan menghadapi teman - teman sekolahnya besok. Perlahan tangannya mengelus pipi kirinya yang masih sedikit panas.
Ya, bekas tamparan Karin.
Tadi, sekeluarnya Alisha dari ruangan Kepsek, bahkan sebelum Alisha sempat menjernihkan pikiran, Karin datang. Tanpa bicara langsung memberinya tamparan keras pada pipi kirinya. Tidak berhenti dari situ, Karin juga mulai berteriak padanya. Menudingnya sebagai pengkhianat. Seorang munafik. Dan serentetan kalimat lain yang membuat telinga panas. Hanya saja, Alisha cuma diam memandangi Karin. Entah mengapa tiba - tiba otaknya serasa hang. Buffering. Error. Atau entah apalah istilahnya.
Alisha hanya tidak percaya Karin menganggapnya seperti itu. Kalau semisal orang lain yang menudingnya, mungkin Alisha masih bisa mentolerirnya. Tapi, hei... ini Karin. Temannya. Best friend-nya.
Alisha kembali menghela nafas. Digigitnya bibirnya, mencegah agar air matanya tidak tumpah. Kepalanya kemudian menunduk, memandangi kedua kakinya yang mengenakan sandal jepit yang dipinjamnya dari Masjid sekolahnya. Tiba - tiba menyesali sebelah sepatunya yang hilang entah kemana.
Itu sepatu yang sudah lama diinginkannya. Selama ini Alisha sudah bersabar agar dapat mengumpulkan uang sakunya. Karena itulah dia merasa sangat bahagia akhirnya bisa membelinya di Midnite Sale kapan hari.
"Bye bye, St Iv*s..." gumamnya meratapi perpisahannya dengan Sang Sepatu. Merasa merana dan nelangsa sekali. Mendadak Alisha berasa jadi Maria Mercedes yang terluka. Hah !
Lalu lihat dimana dia sekarang. Cemberut, Alisha tahu betul siapa yang membuatnya terdampar di pinggir jalan seperti ini.
...
Dua jam sebelumnya.
Alisha sudah mencuci wajahnya. Berusaha mengurangi tanda - tanda kalau dia habis menangis. Ya, Alisha tadi menangis di taman belakang sekolah. Mencari sebelah sepatunya yang menghilang. Menangis sambil berjongkok di sudut taman. Sendirian. Tahu betul kalau penyebab tangisnya bukanlah hanya karena sebelah sepatunya yang hilang, tapi karena hal lain yang lebih penting baginya.
Merasa sedikit lebih tenang setelah menarik nafas beberapa kali, Alisha kemudian mulai berjalan ke arah Martha yang sudah menunggunya untuk pulang.
"Sha, jadi bareng kan ?" sapa Martha. "Aku tadi sudah telepon rumah, minta agar Pak Din jemput sekolah. Setidaknya kan kamu nggak perlu jalan jauh - jauh pakai sendal jepit gitu, Sha."
Alisha mengangguk dan tersenyum tipis sebagai jawaban. Belum mau bersuara karena merasa suaranya pasti masih serak, khawatir ketahuan kalau habis menangis.
Martha menghela nafas sedikit lega. Setidaknya Alisha tidak sediam tadi. Walaupun jelas terlihat wajahnya yang nampak letih dan agak pucat. Tapi Martha tidak mengatakan apapun lagi. Tahu dengan betul bahwa sahabatnya ini sebenarnya membutuhkan waktu untuk sendiri. Dengan diam, mereka berjalan beriringan ke arah gerbang sekolah.
Kalau Alisha berjalan dengan wajah muram, maka Martha memasang wajah garang. Seakan siap menghadapi siapapun yang berani melukai sahabatnya ini. Hatinya masih dongkol dengan ulah Karin yang tadi langsung saja menampar Alisha dan marah - marah tidak karuan.
"Pak Din !" seru Martha, memanggil supir keluarganya yang rupanya sudah menunggu, agar membawa mobilnya mendekat. Segera saja Civic silver itu meluncur mulus, berhenti tidak jauh dari tempat Alisha dan Martha berdiri.
"Ayo, Sha," ajak Martha sambil menggandeng sebelah tangan Alisha. Namun kemudian langkahnya tertahan. Saat dia berbalik, dilihatnya Althair sudah berada di sana. Menarik sebelah tangan Alisha yang lain.
"Dia pulang denganku," ujar Althair tenang.
Martha bisa merasakan teman - temannya yang lain mulai memperhatikan mereka bertiga. Seolah mereka sedang melakukan syuting sinetron atau apa.
"Alisha pulang denganku, Althair !" tegas Martha. Nada suaranya jelas menyiratkan rasa tidak sukanya.
"Mulai sekarang, dia pulang denganku," balas Althair tetap tenang. "Jadi pulang saja sana."
"Iihhh... lepas, Althair !" seru Alisha berusaha melepaskan genggaman tangan Althair dan gagal. "Lepasin ! Aku mau bareng Martha saja !"
"Melepasmu, Alisha ?! Aku ?! Huh ! In your dream, Sha," jawab Althair disertai senyum smirk-nya. Berhasil membuat Alisha menelan ludah.
Detik berikutnya Alisha memekik karena Althair tiba - tiba menggendongnya. Bukan ala bridal style yang romantis. No !!! Tapi Althair menggendong Alisha dengan menaruhnya di pundak. Seolah Alisha hanya sekarung beras yang dipanggulnya. Hah !!!
"Turunin aku, Althair !!!" teriak Alisha, tangan dan kakinya meronta - ronta. "Let me down, Althair !!!"
"Althair !!! Turunin Alisha sekarang !" seru Martha percuma karena Althair hanya terus berjalan santai menuju tempat dimana motornya diparkir.
Sementara sekarang para penonton Telenovela, reaksinya terbagi dua.
__ADS_1
Dari kalangan para cowok tidak terima melihat Alisha, cewek yang sebenarnya diam - diam sering mereka bayangkan menjadi pacar mereka, dipanggul seperti itu. Tapi kalau mau jujur sih, sebenarnya mereka juga kepengen gantiin Althair buat gendong Alisha. Ho ho ho...
Lanjut ke kubu cewek. Oke, merekalah yang paling heboh sejak kejadian upacara tadi. Secara gitu loh, siapa yang nggak ngiler manjah dicium Althair dengan hot seperti itu. Di depan seluruh sekolah lagi. Waooww... itu lebih dari sekedar romantis, Beibeh ! Mereka pasti meleleh. Uwuwuwu... Apalagi sekarang melihat bagaimana Alisha digendong oleh Althair. Lupakan soal cara gendong Althair yang seperti memanggul beras dan jauh dari kata romantis. Tapi lihat otot Althair yang terlihat menonjol itu. Dipadu dengan keringat yang mengalir tipis di pelipis dan lehernya. Belum lagi wajah gantengnya yang cool abis. So manly !
Rasanya mereka ingin berteriak : Gendong aku, Althair ! Turunin aja Alisha, toh dia juga nggak mau kamu gendong. Kasihan, anak orang jangan dipaksa. Gendong aku Althair !!! Aku mau !!! Mau banget lagi !!!
Tapi yah itu tadi, semua hanya terucap dalam hati. Membuat mereka hanya bisa mengelus dada, harap bersabar ini ujian. Jiahh !
Althair menurunkan Alisha di sebelah motornya. Belum lagi dia sempat mengambil helmnya, Alisha sudah berlari menjauhinya. Tapi dengan mudah Althair menangkap Alisha, melingkarkan sebelah tangannya pada perut Alisha dan mengangkatnya, naik ke atas motornya.
"Diam, Alisha," ujarnya tenang dengan wajah hanya berjarak sepuluh senti dari wajah Alisha.
Lima senti.
Dua senti.
Eh, loh ?!!
Menyadari bahaya yang datang, Alisha segera menutup mulutnya dengan kedua tangan. Membuat wajah Althair berhenti hanya satu senti darinya.
Seulas senyuman miring bermain di bibir Althair. Dia segera mengambil helm dan memakaikannya pada Alisha.
"Ihh, nggak mau Althair ! Berat !" seru Alisha.
"Pakai dulu. Nanti akan kubelikan yang pas untukmu," jawab Althair, menahan tangan Alisha yang akan melepaskan helm hitamnya.
Huh ?! Belikan helm ?! Hei, apa itu berarti Alisha akan dibonceng Althair lagi ?! Hell, no !!!
Althair sudah menyalakan motornya, menoleh pada Alisha dan berkata, "Pegangan, Alisha." Tapi dengan berani Martha berdiri menghadangnya.
"Turunin Alisha, Althair !!!" seru Martha.
"Minggir," ujarnya tenang.
"Nggak ! Turunin temenku dulu !" ujar Martha kukuh.
Althair hanya mengangkat bahu. Tanpa merasa perlu meladeni Martha lagi, Althair segera menjalankan motornya dengan hanya sebelah tangan. Berbelok lincah menghindari hadangan Martha dan keluar dari gerbang sekolah dengan mudah. Tidak dihiraukannya Martha yang masih berteriak marah.
...
Alisha tidak bisa menahan mulutnya yang terbuka. Melongo.
Mereka berhenti di sebuah toko besar di tengah kota. Althair menggandengnya, masuk melalui sepasang pintu kaca yang terbuka otomatis.
Di dalam toko dipenuhi interior mewah nan elegan. Para pegawai mengenakan setelan jas berwarna abu. Sedang beberapa pelanggan nampak asyik memilih - milih barang. Potongan mereka langsung saja menunjukkan kalangan kelas atas, dengan berbagai brand terkenal yang menghiasi tubuhnya. Beberapa menoleh sewaktu Althair dan Alisha masuk. Jelas menunjukkan wajah tidak suka melihat sepasang anak SMU yang memasuki toko sekelas mereka.
Alisha merasa tidak nyaman menerima pandangan meremehkan seperti itu. Sebelah tangannya meremas rok seragamnya. Diliriknya Althair yang tetap tenang di sebelahnya. Kepala Althair tetap terangkat lurus, seakan menantang celaan dan cibiran yang jelas tersirat. Tidak ada rasa takut atau malu padanya. Mengikuti cara Althair, perlahan Alisha mengangkat kepalanya yang tadi selalu menunduk. Tidak sengaja meremas tangan Althair yang sedari tadi terus menggandengnya.
"Selamat datang. Selamat datang," seru seorang pria baya berpakaian necis, pada name tag yang dipakainya, tertera keterangan : Adi Kurniawan - Store Manager.
Dia berjalan tergopoh menyambut mereka, seolah mereka tamu VVVIP. Membuat Alisha bertanya - tanya karena sedari tadi tidak ada satupun pegawai yang meladeni kedatangan mereka. Bahkan hampir semua seolah mencibir dan tersenyum sinis. Seolah berpikiran, apa sih yang dilakukan dua remaja SMU di toko mereka ?! Memang mereka sanggup bayar ?! Paling Cuma lihat - lihat saja. Hah !! Merepotkan ! Eh, tapi yang cowok ganteng banget sih. Sementara yang cewek... apaan tuh, cuman pakai sandal jepit ?!!
"Selamat datang. Saya sangat senang dengan kedatangannya," ujar Adi, sedikit membungkuk di depan Althair.
Tanpa perlu manjawab sapaan dari si Manager, dengan angkuh Althair berkata, "Suruh semuanya keluar !" dan langsung menggandeng Alisha masuk karena sedari tadi mereka hanya berdiri di depan pintu kaca.
Alisha melongo mendengar cara bicara Althair. Lebih melongo lagi karena Manager itu mengangguk hormat dan benar - benar menggiring keluar semua pengunjung. Sebagian besar nampak sakit hati namun dengan lihai Adi meminta salah satu pegawainya untuk membagikan voucher secara cuma - cuma. Yah, orang kaya sekalipun tidak menolak kan kalau diberikan gratisan ?!
Alisha memandang kagum pada tumpukan sepatu yang nampak cantik. Berjalan mendekati sepasang sepatu yang didisplay dan akhirnya meneguk ludah melihat harga pada tag-nya. Mehong, Cinnn. Dengan harga semahal itu, entah Alisha harus mengumpulkan uang sakunya selama apa. Mungkin bahkan dia harus tidak jajan selama setahun ?!
__ADS_1
"Duduk," perintah Althair. Mengedikkan kepalanya, menunjuk pada sofa di belakang Alisha.
Bertanya - tanya, Alisha tetap menurutinya, langsung merasa nyaman duduk di sofa yang disediakan bagi pengunjung yang ingin mencoba sepatunya.
"Ah, apa yang dapat kami bantu ?" tanya Adi dengan hormat.
"Carikan sepatu sekolah buat cewek. Ukurannya," Althair terdiam, melirik Alisha. "37 atau 38. Bawakan pilihannya," perintahnya lagi. Langsung dijalankan dengan sigap, bahkan Adi sendiri ikut mencarikannya.
Dua menit kemudian, beberapa pasang sepatu dengan beberapa model, siap di depan Alisha yang kembali melongo.
Ini maksudnya apa ?!
Alisha merasa lebih cengo lagi sewaktu Althair membungkuk di depannya, meraih kakinya dan memakaikan salah satu sepatu padanya.
"Iihhh... apaan sih, Althair ?!" seru Alisha terkejut.
"Coba dulu, Alisha. Mana yang cocok dan nyaman buat kakimu," jawab Althair kalem. "Sini. Diam saja. Aku bantu pakaikan."
"Ng.. nggak usah, Althair. Lagipula, anu... itu," Alisha kembali meremas rok seragamnya. "A, aku nggak ada uang buat bayarnya," gumamnya pelan.
Althair tersenyum, menjawab, "Tenang saja. Kamu nggak perlu bayar, Alisha."
"Nggak. Aku juga nggak mau kalau kamu yang bayar, Althair. Ini terlalu mahal," bantah Alisha, tangannya segera akan melepas sepatu yang terpasang pada kakinya. Padahal dalam hatinya, dia sangat menyukai sepatu yang dikenakannya ini. Begitu nyaman di kakinya. Modelnya juga cantik dan simple.
Althair melirik pada Adi, yang segera paham dan berkata, "Ah, jangan khawatir. Tidak ada yang perlu membayar. Kebetulan kami sedang ada promo sepatu gratis bagi pelajar. Kebetulan juga ini hari terakhir untuk periode promonya."
Hah ?! Sepatu gratis ?! Yakin sepatu ber-merk dari luar negeri ini gratis ?!
"Jangan melongo terus," ujar Althair menahan geli. "Jadi pilih yang mana ?! Semuanya ?!"
Walau dalam hati Alisha bersorak gembira kalau bisa memiliki semua sepatu cantik itu, tapi dia masih tahu diri. Dengan kalem berkata, "Mm, yang ini saja."
"Mau dipacking lagi atau langsung dipakai ?!" tawar salah satu pegawai.
"Packing saja, Mbak," jawab Alisha dengan ceria. Merasakan pandangan bertanya dari Althair, menambahkan, "Eh, kan baru akan dipakai buat sekolah besok."
Althair mendengus melihat Alisha yang memilih memakai sandal jepitnya lagi. "Pilih sandal sana gih. Mana yang kamu suka. Daripada pakai sandal jepit begitu."
"Huh ?! Memangnya kenapa ?!" tanya balik Alisha. "Nggak usah, Althair. Lagipula nggak mungkin kan ada program Sandal Gratis buat pelajar. Iya kan ?!" jawab Alisha polos, menerima tas karton berisi sepatu barunya.
Mendengus sekali lagi, Althair mengulurkan tangannya. "Ayo. Kita pergi."
Dan tanpa berdosa, Alisha beranjak dari sofa lalu berjalan menuju pintu kaca. Tidak mempedulikan tangan Althair yang tergantung tetap terulur padanya tadi.
"Ck, dasar cewek, " gumam Althair. Namun seulas senyum kembali bermain di bibirnya.
Althair menoleh pada Manager yang masih setia berdiri, siap membantu. "Pecat semua pegawai yang ada di area depan tadi," ujarnya dengan nada datar.
Adi hanya terperangah sedetik, segera menguasai perasaannya dan menjawab, "Baik, Zack. Siap." Membungkuk hormat lebih dalam, tahu dengan siapa dia berhadapan.
...
"Ishh, sebel !" Alisha mengentakkan sebelah kakinya dengan kesal.
Tadi Althair menurunkannya di tengah jalan, setelah sebelumnya menerima telepon yang sepertinya sangat penting. Dan sekarang, inilah dia. Berdiri cemberut di pinggir jalan dengan sandal jepit di kaki, menunggu abang tukang ojol yang belum juga nampak ujung hidungnya.
"Isshhh ! Awas kamu, Althair," gerutu Alisha lagi.
Tidak menyadari sepasang mata yang terus mengamatinya sejak dia ditinggal Althair.
__ADS_1
🦀🦀🦀