Shotgun - Sub Zero : HER

Shotgun - Sub Zero : HER
Bab 10


__ADS_3

Pukul sembilan pagi di hari Minggu.


  Jalanan kota teelihat sedikit lebih lenggang bila dibanding pada hari–hari kerja biasanya. Sudah tiga puluh menit sejak Alisha meneleponnya dan sekarang Althair memacu motornya, melaju kencang membelah jalanan.


  Sembari fokus mengendarai motornya, Althair teringat kembali bagaimana pembicaraannya dengan Alisha di telepon tadi.


...


  “Alisha, bicara yang jelas !” ucap Althair, merasakan kecemasan pada nada suara Alisha. "Jelaskan padaku dengan perlahan. Oke ?!"


  “Karin pergi dengan teman–temanmu, Althair ! Aku sudah berusaha mencegahnya, tapi Karin bilang kalau kamu ingin ketemu dengannya. Dan teman–temanmu menjemputnya atas permintaanmu. Demi Tuhan, Althair... kalau sampai terjadi sesuatu pada Karin, aku nggak bakal memaafkanmu !” Alisha berseru dalam satu tarikan nafas. Diujung kalimatnya, Althair jelas mendengar suara nafasnya yang sedikit tersengal setelahnya.


  Damn ! She’s so sexy even just her breath !


  “Relaks, Alisha. Katakan padaku kemana mereka membawa Karin pergi,” ucap Althair, berusaha menjaga agar nada suaranya tetap tenang. Padahal kenyataanya ?! He’s so lust !


  “Mana aku tahu ?!” hardik Alisha. “Mereka temanmu, Althair. Dimana biasanya kalian nongkrong ?! Mereka Cuma bilang kalau kamu sudah menunggu di tempat biasanya.”


  Althair menghela nafas sekali, lalu berkata, “Fine, Alisha. Karin akan kembali, dia akan baik–baik saja. Sekarang kamu tunggu dengan tenang. Aku akan segera mengabarimu.”


  Althair segera memutus sambungan telepon dan bergegas meraih kunci motor dan helmnya.


...


  Althair terus berpikir, siapa yang dimaksud teman-temannya oleh Alisha ?! Bagaimana mereka bisa bertemu dengan Karin ?!


Berani–beraninya mereka sampai menggunakan namanya seperti ini.


  "Cih !!!" makinya.


  Althair mempercepat motornya, menerobos traffic light yang baru saja berwarna merah. Melesat lincah di antara kendaraan lain yang melintas.


  Apapun yang terjadi, masih belum jelas. Tapi yang pasti, dengan kejadian ini, akan semakin menobatkan dirinya sebagai orang nomor satu yang harus dihindari oleh Alisha.


  “Damn it !!!” maki Althair lagi. Tangannya menggenggam erat stang motornya. Sudah gatal saja ingin menghajar siapa pelakunya.


  Tempatnya biasa nongkrong ?!

__ADS_1


  Tersenyum kecil, Althair segera menekan habis gas motornya, membuatnya melaju jauh lebih cepat.


  Sepertinya Althair punya sedikit gambaran soal siapa pelakunya dan dimana tempat yang dimaksud.


  "We'll see..."


🦀🦀🦀


  “Alisha, wait ! Kamu dengar apa kata Althair tadi kan ?!”


  Martha meraih lengan Alisha, menahan temannya yang hendak pergi.


  “Martha, gimana aku bisa diam sementara keberadaan Karin saja masih belum pasti ?!”


  “Sialan si Karin itu ?! Apa dia nggak bisa berpikir sedikit saja ?!” Martha menghentakkan kakinya, merasa sangat kesal.


  “Lalu bagaimana kamu bisa menemukan Karin, Alisha ?! Bukannya kita juga nggak tahu ke mana mereka membawa Karin ?!” Fellin mengutarakan pertanyaan dengan logis, berharap bisa sedikit mengurangi emosi kedua temannya itu.


  “Nggak tahu, Fellin. Tapi kalau perlu aku akan kelilingi jalanan demi mencarinya. Tapi yang pasti aku nggak bisa hanya diam saja di sini !” seru Alisha gusar.


...


  Tadi sewaktu mereka berempat berjalan di pedestrian sembari asyik berfoto – foto, tiba – tiba dua orang cowok datang di dekat mereka. Alisha mengenali salah satunya sebagai anggota geng motor yang mengepungnya minggu lalu. Samar Alisha ingat, kalau cowok itulah yang pertama kali menarik tangannya malam itu.


  “Wah, kebetulan sekali bisa ketemu lagi dengan Nona Cantik,” ujar cowok itu dengan senyum mesumnya. Membuat Alisha muak.


  “Ayo pergi,” Alisha segera balik badan, mengajak teman–temannya menyingkir. Merasa lebih baik tidak perlu menanggapinya.


  “Wah, berarti benar juga ya kata Althair kalau lo bukan ceweknya ?” ujarnya lagi.


  Alisha sedikit tercenung. Althair ?! Ada hubungan apa mereka dengan Althair ?! Apa mereka membicarakan Althair yang sama dengan yang Alisha kenal ?! Karena nama Althair bukanlah nama yang umum sehingga sedikit saja orang yang bernama sama.


  “Kamu kenal Althair ?! Althair dari SMU Cattleya ?!” kali ini bukan Alisha, melainkan Karin yang bertanya. Sedikit nama Althair yang didengarnya membuatnya menjadi tertarik.


  “Wah, kalau soal sekolahnya, sori gue nggak tahu. Tapi yang pasti, Althair yang gue tahu, dia pakai motor sport hitam dari Audy,” jawab cowok itu, jelas melihat ketertarikan Karin pada Althair.


  “Ya. Itu Althair,” engah Karin bersemangat. “Dan soal ceweknya Althair, itu aku, Karin. Bukan Alisha.”

__ADS_1


  “Ho... Jadi namanya Alisha.” Cowok itu mengusap dagunya dengan sebelah tangannya, mengamati Alisha dari atas hingga bawah. Pandangan matanya membuat Alisha bergidik, seperti malam itu. Saat berikutnya, cowok itu mengalihkan  pandangannya pada Karin. “Lo mau ikut ? Ini kebetulan kami mau ketemuan dengan Althair. Kebetulan dia juga minta kami buat jemput ceweknya.”


  “Karin, stop !” cegah Martha. “Kamu mau ikut begitu saja ?! Memang kamu kenal siapa mereka ?”


  “Nggak perlu takut. Kami ini benar teman–temannya Althair kok. Sekarang juga kami mau ke tempat kami biasa nongkrong,” jawab cowok itu tanpa diminta. “Kalau kalian ragu, gimana kalau kalian sekalian ikut saja ?! Tapi motor kami kan hanya ada dua, jadi kalian menyusul saja,” imbuhnya sambil menunjuk ke arah Martha dan Fellin.


  Jadi maksudnya, Alisha dan Karin yang ikut mereka ?!


  “Aku nggak mau !” ucap Alisha dengan nada tegas. Gila namanya kalau dia sampai mau ikut dengan mereka.


  Seraut rasa kecewa menghias wajah cowok itu tapi kemudian dia mengangkat bahu dengan masa bodoh dan menaiki motornya.


  “Lo jadi ikut atau nggak ?” tanyanya pada Karin sementara mesin motornya sudah menyala, siap untuk pergi.


  Karin menoleh gugup pada ketiga temannya, nampak bimbang. Dan diluar dugaan, tanpa berpikir panjang lagi dia segera menaiki boncengan motor cowok itu.


  “Karin ! Nggak boleh !!!” seru Alisha, mencoba menarik turun Karin dari atas motor. "Jangan pergi !!!"


  “No, Alisha. Berhenti mengatur–aturku. Aku ingin ketemu Althair dan kamu nggak bisa melarangku,” tolak Karin cepat, berusaha melepas cekalan Alisha pada salah satu lengannya.


  “Tapi Karin, kamu bahkan nggak kenal mereka kan ?! Cobalah sedikit berpikir sehat, Karin !” sergah Martha, merasa mulai emosi menghadapi sikap Karin.


  Tapi Karin bergeming. Dia berhasil menyentakkan kasar tangan Alisha. Tangannya lalu memegang bagian belakang jaket cowok yang mengaku sebagai teman Althair itu dan berkata, “Ayo pergi ke tempat Althair. Sekarang.”


  Alisha masih sempat melihat sekilas seringai cowok itu sebelum akhirnya motornya melaju dan menjauh. Membawa serta Karin entah kemana dan Alisha merasakan firasat buruk akan hal ini.


  Apa yang harus dilakukannya sekarang ?!!


  Tiba-tiba Alisha ingat, ada satu nomor yang tidak dikenalnya yang berada pada list panggilan keluar pada handphone-nya. Beberapa hari ini, lebih dari sekali dia memikirkan kemungkinan kalau itu adalah nomor Althair. Hanya saja dia masih merasa ragu untuk menghubungi nomor itu.


  Althair.


  Ya, semua ini gara–gara Althair. Dan cowok itu harus bertanggung jawab.


  Tanpa berpikir panjang, Alisha kemudian menghubungi nomor tanpa nama itu. Di detik panggilannya diterima, Alisha langsung saja berseru, “Tanggung jawab, Althair. Kamu harus tanggung jawab !”


🦀🦀🦀

__ADS_1


__ADS_2