
Day 2.
Di SMU Cattleya saat ini sedang berlangsung adegan ala drama korea. Lokasi yang dipilih adalah koridor sekolah, tempat para murid ramai lalu lalang setelah sekolah berakhir.
Alisha menarik nafas berat.
Dihadapannya berdiri Stella and the geng yang dengan sengaja menghadang jalannya. Kalau hanya Stella dan para kroni yang menghadangnya, Alisha tidak akan ambil pusing. Tapi yang membuat nafasnya serasa tercekat adalah sosok Karin yang berdiri disebelah Stella.
"Halo, Karin. Lama nggak ketemu ya," sapa Alisha terlebih dulu. Sebuah senyuman bermain di bibirnya.
"Diihh, sok akrab lagi pake nyapa - nyapa segala," sembur Stella. "Emang lo kenal dia, Karin ?"
Karin hanya berdiri, menggigit bibirnya dan meremas - remas tangannya. Tidak berani menatap Alisha.
"Eh, iya. Lupa. Dia ini kan MANTAN temen lo yang sudah ngrebut pacar lo. Iya kan, Karin ?" sambung Stella dengan jumawa.
Alisha merasakan tusukan menyakitkan di dadanya sewaktu Stella mengucapkan kata mantan teman. Mencoba berhitung dalam hati agar dirinya tetap tenang tapi gagal. Bagaimanapun terlalu menyakitkan bagi Alisha melihat sahabatnya malah berbalik melawannya.
"Teruss ?" kata Alisha, memiringkan kepala dengan sebelah tangan bertumpu menyangga pipinya.
"Ha ?" Stella dan barisan para cewek sakit hati sedikit melongo. "Maksud lo apa, hah ??!!"
"Kok jadi aku yang ditanya ?" Alisha memasang sikap polos. "Harusnya kan aku yang tanya : Terus kalian mo ngapain berdiri baris di depanku seperti ini ? Mau fashion show ?! Serasa berjalan di catwalk ya kalau jalan serombongan gitu ?"
"Kalau menurutku sih macam bebek - bebek yang bergerombol, Sha !" sahut Martha dari kejauhan, berjalan mendekati Alisha.
Kontan saja ucapannya disambut tawa para murid yang sudah menggerombol di sekitar.
Yes, para penonton setia sudah langsung saja mengambil posisi. Bahkan beberapa murid yang sudah melenggang ke arah gerbang hendak pulang, langsung berbalik, ingin serta menikmati pertarungan para gadis. Serasa menikmati pertunjukan drakor secara live. Wuiihh !
Stella sang M3 alias mahkluk menye - menye langsung saja menggeram marah. Senyum kemenangan yang semula disandangnya, hilang dalam sekejap.
"Mau apa lagi lo, hah ??!!!" bentak Martha segera setelah sampai di sebelah Alisha. Membuat Alisha sendiri jadi kaget. Diihh, Martha... volumenya itu loh, tolong disesuaikan.
__ADS_1
"Kalo lo semua pada mo nampang doang disini, minggir ! Gue sama SAHABAT BAEK gue mo lewat !" sambung Martha, masih dengan nada yang sama tinggi.
Alisha memegang sebelah tangan Martha, memberinya pandangan memperingatkan. "Rileks, Tha. Sabar."
Mengerti maksud pandangan temannya, Martha menarik nafas panjang. Mencoba menyabarkan dirinya. Tanpa ba bi bu lagi langsung menarik tangan Alisha, menyingkir dari pandangan merusak mata.
Para penonton setia baru saja dihinggapi pertanyaan : Diihhh... masa iya gini doang ? Sebelum akhirnya sebuah suara yang nyaris berteriak terdengar.
"Terus saja kamu bela Alisha seperti itu, Martha !!!"
Yepz, itu adalah Karin yang akhirnya bersuara. Teriakan marahnya membuat Alisha dan Martha akhirnya berhenti. Dan yess ! Hati para penonton setia berbunga. Akhirnya pertunjukan kembali berlangsung. Lanjut, Bosku !
"Maksudmu apa, Karin ?" tanya Martha dengan suara sedikit gemetar menahan marah. "Maksudmu apa ?!!"
"Selama ini kalian sering bilang kalau Althair itu nggak baik buat aku. Selalu minta agar aku menjauhi Althair. Lalu buktinya apa ?!! Nyatanya malah Alisha sendiri yang mendekati Althair kan ?!! Kalau bukan Alisha dulu yang mendekati Althair, nggak mungkin kan Althair bakal ngelakuin itu semua !" Karin sedikit terengah setelah mengatakan semua. Kedua matanya sudah digenangi air mata.
Martha sudah bergerak akan maju, tapi lagi - lagi langkahnya tertahan. Sebuah tangan yang memegang lengannya, menahannya. Dirinya berbalik, saling berpandangan dengan Alisha yang menggeleng pelan. "No, Beiby. Karin teman kita."
"Lah ! Bukannya kamu sama temen - temenmu tiap harinya juga khusyuk godain Althair ya, Stell ?!" celetuk Dewanti yang kebetulan lewat. Hatinya ikut panas melihat bagaimana Alisha terus dipersalahkan. "Bahkan kerjaan kalian hampir seperti lalat yang mengerubungi Althair dimana -mana. Cuman ya itu, nggak ditanggapi sama sekali kan sama Althair ? Diihhh, acian banget..."
Para penonton setia, termasuk para teman sekelas Alisha, berseru setuju. Diihhh... nggak usah muna deh, Stella.
"Lo nggak punya urusan jangan ikut - ikutan nyolot," geram Stella dengan marah. Tangannya sudah terangkat ke arah Dewanti tapi tertahan. Kemarahan semakin jelas terlihat pada wajahnya sewaktu melihat Alisha-lah yang menahan tangannya untuk menampar Dewanti.
Alisha memegang tangan Stella, membuat Stella berkutat beberapa saat mencoba melepaskan tangannya. Sampai sebelah tangannya yang lain ikut terangkat, hendak menampar Alisha. Tapi lagi - lagi Alisha menangkapnya sehingga kedua tangan Stella dicengkeram Alisha.
Dan yes, para penonton menahan nafas. Adegan kali ini pasti mengandung unsur action, Saudara ! Akhirnyaa... !!!
"Iihh... Stella, jangan suka main tangan. Nggak baik kalau anak cewek suka main tangan. Ntar nggak ada cowok yang mau lho," seru Alisha dengan tampang cemberut.
Para penonton sukses berwajah cengo. Semula mengira bakal ada adu fisik ala cewek alay macam jambak - jambakan rambut atau cakar - cakaran, tapi akhirnya... yah selamat, silakan kecewa. Etdah, si Alisha ini. Benar - benar gag bisa ditebak.
"Kamu mau apa sih ? Mau Althair ? Ambil gih, bawa yang jauh sana. Kalo perlu, kawin lari saja sekalian sono. Eh tapi, kalau kalian kawin lari, aku nggak bisa ngasih amplop dong."
__ADS_1
Alisha melepaskan kedua tangan Stella yang sekarang ikut memasang wajah cengo. Lah ?! Ini seriusan ?!
"Hu-ump ! Serius, Stella. Dua rius malah. Mau berapa rius juga nggak apa - apa kali," ujar Alisha mengangguk yakin. "Lagian kalau cuman harus bertengkar gara - gara cowok, iiihhh... unfaedah pake banget deh ! Not my type, Stella. Toh masih banyak cowok keren dan baik hati yang bertebaran. Iya nggak ?"
Para cowok langsung saja berdiri lebih tegap, mencoba terlihat gagah. Diam - diam merapikan rambut dan berpose. Ehem, ehem. Alisha, cowok keren dan baik hati itu ada disini loh. Kira - kira begitulah isi hati mereka.
Martha memukul jidatnya. Temannya yang satu ini selain tidak bisa ditebak, juga pintar mengarahkan suasana. Lihat saja kelakuan para cowok itu yang sekarang bersikap bak para bintang K Pop yang sedang tebar pesona, senyum - senyum nggak jelas. Bikin Martha hampir muntah.
"Jadi, Stella. Kita sudahan sampai disini saja ya. Kan kamu harus pulang juga. Capek kan ? Pasti butuh istirahat. Jangan capek - capek, ntar nggak kelihatan seger lho," Alisha masih saja mengoceh.
"Ah, eh. Iya, ya. Aku kan harus kelihatan cantik kalau Althair masuk nanti," ucap Stella yang dengan mudah termakan omongan Alisha.
Alisha mengangguk setuju. "Yapz, betul. Tapi kayaknya kamu mending ke salon dulu deh. Itu... kok ada jerawat ya di pipimu ?"
Ucapan Alisha barusan membuat Stella memekik, seolah baru saja ada yang memberitahunya kalau dia terkena kanker.
"Hell, no way !!! Eh, ada jerawat di wajahku ya ?? Omaigaatt," seru Stella, langsung berbalik ngeloyor pergi. Meninggalkan teman - teman gengnya yang cengo parah, macam anakan bebek yang ditinggal induknya. Lho kok ?!
"Pergi sana sekalian. Cepetan pulang gih," ujar Alisha dengan tersenyum, membuyarkan para anakan bebek dari lamunan.
Sempat sedetik merasa ragu, akhirnya barisan para cewek sakit hati itu bubar. Diikuti oleh para penonton setia yang juga buyar. Paham kalau akhirnya pertunjukkan sudah selesai. Tamat. The end. Dalam hati mengambil satu kesimpulan : jangan harap deh ada rame - rame kalau ada Alisha. Dia itu udah jadi semacam Duta Perdamaian atau apa sih...
"Aku balik dulu ya, Sha," pamit Dewanti sambil menepuk bahu Alisha. Alisha mengangguk menjawabnya.
Karin baru saja juga akan pergi, namun ucapan Alisha menahannya. "Tunggu, Karin. Kita perlu bicara."
Karin berbalik, menghadap Alisha juga Martha yang berdiri didepannya. Namun Alisha mendongak, menatap Fellin yang baru saja datang dan berdiri di belakang Karin.
Fellin mengangguk singkat. Martha hanya mengangkat bahu sambil mengerutkan dahinya. Sementara Karin meneguk ludah melihat wajah Alisha. Mulutnya baru saja membuka hendak memprotes, menolak. Namun Alisha segera memotongnya.
"Kita harus bicara," ulang Alisha tegas. Tidak ada senyuman sama sekali pada wajahnya. "Kita berempat harus bicara ! Sekarang !!"
🦀🦀🦀
__ADS_1