Shotgun - Sub Zero : HER

Shotgun - Sub Zero : HER
Bab 24


__ADS_3

  Martha sedang menguap sembunyi – sembunyi. Bagaimanapun dua jam Sosiologi merupakan siksaan tiada tara baginya.


  Ya Lord, sungguh ini cobaan yang sangat berat...


  Saat berikutnya, Martha mendengus menahan tawa. Ingat kalau minggu lalu Alisha sempat kena hukum karena ketiduran sewaktu pelajaran Sosiologi. Alisha dihukum keluar kelas, dilarang mengikuti kelas sampai pelajaran Sosiologi berakhir. Lucunya, setelahnya para penghuni kelas, yang didominasi para cowok, satu persatu keluar kelas dengan berbagai alasan. Sakit perut. Mau muntah. Pusing. Alergi Sosiologi ( #eh??!! ). Bahkan ada yang sengaja, pura – pura ngorok hanya agar dikeluarkan dari kelas. Dan dengan senang hati mereka menyeret Alisha ke kantin. Asyik makan sambil ketawa – ketiwi.


  Martha mendesah. Ah, betapa menyenangkannya kehidupan sekolahnya minggu lalu. Wajahnya kemudian muram, teringat betapa beratnya hari – hari kemarin.


  Martha menoleh, memandang sendu meja Alisha yang kosong. Pagi tadi dia sempatkan datang ke rumah Alisha. Tapi sahabatnya itu masih bergelung di tempat tidur. Mengeluh sakit pada perutnya.


...


  “Pasti sakit banget ya, Sha...” gumam Martha, tanpa sadar ikut meringis melihat wajah pucat Alisha.


  “No, Beiby. Nggak apa – apa kok. Aku cuman pengen bolos aja hari ini. Mumpung ada alasan kan ? He he he...,” cengir Alisha, namun langsung mengernyit  menahan sakit.


  Martha cepat – cepat pamit hendak berangkat sekolah. Bukan karena dia sudah mepet waktunya. Tapi karena tidak tega melihat Alisha. Sahabatnya itu, entah mengapa walau apapun kondisinya, pasti akan berkata : baik – baik saja.


...

__ADS_1


  “Padahal kamu sedang nggak baik – baik saja kan, Sha...” gumam Martha.


  Detik berikutnya dia merasa geram pada pelaku yang menendang bola. Bukan hanya Martha, tapi bisa dibilang seluruh kelas XI-E kemarin hampir kalap mengeroyok si pelaku. Untung ada guru yang kebetulan lewat dan berhasil menyelamatkan si Slamet, penghuni kelas XI-C yang malah hanya cengar – cengir tanpa dosa.


  Sebuah nada terdengar dari pengeras suara yang ada di dalam kelas. Menyusul pengumuman bahwa semua guru dan staf, tanpa terkecuali, diharapkan kedatangannya di ruang auditorium sekarang. Dan sesegera mungkin. Atas permintaan dari sang Kepsek sendiri.


  “Anak – anak, kerjakan tugas yang saya berikan tadi dan jangan berisik,” pesan Bu Sundari yang kemudian bergegas meninggalkan kelas.


  Menit pertama, seluruh kelas masih memasang sikap bak siswa berhati malaikat yang patuh pada perintah guru. Ya, satu menit. Cuma satu menit. Karena menit berikutnya kelas gegap gempita. Pelajaran baru berjalan setengah jam setelah jam istirahat tadi dan sekarang mereka bebas. Yesss !!!


  Ya Lord. Sungguh engkau sangat bermurah hati hari ini.


  “Ayo, Tha,” ajak Arik penuh semangat, menyusul para cowok yang sudah melesat ke lapangan.


  Lapangan sudah ramai oleh para murid yang nampak berjibun. Semua kelas kosong tanpa guru yang bertugas. Jadilah disini para penghuninya, sedang khusyuk menikmati tontonan di lapangan.


  Martha baru saja berhasil menyelinap, ingin melihat apa sebenarnya yang terjadi. Karena ramainya penonton membuatnya terpaksa menyelip sana menyelip sini. Dibelakangnya mengekor Arik, Dewanti, Yuni, Ria dan Sofie. Yep, para gadis kelas XI-E. Minus Alisha tentunya.


  Dan pemandangan yang menyambutnya membuatnya terkesiap.

__ADS_1


  Di sana, di tengah lapangan sekolah, nampak Slamet yang dipegang oleh dua orang cowok di kanan kirinya. Kondisinya terlihat kesakitan dan payah.


  Pekikan kaget para penonton cewek terdengar sewaktu sebuah bola meluncur cepat dan menghantam keras tubuh Slamet. Lagi. Lagi. Dan lagi. Seolah tubuh Slamet tak lebih dari sebuah target yang harus dituju.


  Martha bergerak lebih maju, ingin melihat siapa yang sedari tadi menarget Slamet dengan tepat sasaran. Dan Martha terbeliak kaget.


  “Ha ha ha... Sori. Sori, Slam. Gue nggak sengaja. Padahal suer deh, gue pengen nargetin tuh si Ayik. Itu, yang ada di sebelah kiri lo,” Althair tertawa dengan ringan. Nampak super santai dan tenang. Sebuah bola dimain – mainkan oleh kakinya yang nampak lincah bergerak.


  “Kita coba lagi ya ? Kali ini gue usahakan biar nggak kena lo mulu bolanya,” ujarnya lagi dengan senyum yang masih mengembang. “Tapi kalau masih juga kena lo, ya mau gimana lagi. Namanya juga nggak sengaja.”


  Martha tercenung. Yang dikatakan Althair tadi adalah kalimat yang sama persis seperti yang dikatakan oleh Slamet, sewaktu dia mengaku nggak sengaja menendang bola sampai mengenai Alisha kemarin. Lalu bagaimana bisa sama persis ?! Kebetulankah ?!


  Saat berikutnya, teriakan ngeri para cewek terdengar. Mengiringi lesatan bola yang sudah ditendang kuat oleh Althair. Dan sekali lagi, tepat mengenai tubuh Slamet.


  “Ups ! Gue nggak sengaja lagi. Sori ya, Bro,” ucap Althair dengan senyuman miringnya.


  Dan Martha tanpa sadar meneguk ludahnya sendiri. Mengakui rasa ngeri yang hadir dalam dadanya kini.


  Rasa ngeri pada seorang Althair.

__ADS_1


🦀🦀🦀


__ADS_2