
Malam belum begitu larut namun sang pemilik kamar sudah terlelap. Bergelung hangat dalam selimut sambil memeluk boneka kesayangannya. Penerangan dalam kamarnya remang - remang, hanya diterangi sebuah lampu tidur mungil.
Semilir angin lirih berhembus dari jendela yang tadinya tertutup. Dan sekarang nampak bayangan seseorang yang duduk bersandar dengan santai di kusennya.
“Hhaaahh...”
Althair mendongak, menghembuskan nafas panjang. Sepasang matanya kembali mengamati sosok yang pulas di atas tempat tidur. Sebuah pistol berputar – putar, dimainkan dengan sebelah tangannya seolah senjata itu hanya seperti mainan gasing baginya.
Althair melompat turun, berjalan menghampiri tempat tidur dan berhenti di sisi tempat tidur. Kepalanya menunduk, sejajar dengan kepala penghuni kamar yang masih juga lelap.
“Kitty, setelah tadi menggangguku, berani sekali kamu sekarang tidur seperti ini ?” bisiknya. Ujung pistol Althair menyibakkan sehelai rambut poni sang pemilik kamar.
“Padahal setelah tiga hari, bahkan tidak ada keinginan darimu untuk menghubungiku. Tapi hari ini kamu malah menggangguku,” bisiknya lagi, diakhiri oleh desahan nafas.
Althair berdiri, meraih handphone yang tergeletak di atas meja di sebelah tempat tidur. Cahaya dari handphone menerangi wajah tampannya. Sementara jari Althair bergerak pada touchscreen-nya, membuka menu log telepon. Mendengus, setelah mendapati nomor kontaknya ada pada panggilan keluar, Althair melemparkannya begitu saja.
“Cih !” gerutu Althair, teringat kejadian siang tadi.
...
Althair hanya perlu sedikit mengedikkan kepala, dan baik Ayik maupun Angga yang sedari tadi memegangi Slamet, langsung beranjak pergi. Tidak perlu waktu yang lama terdengar teriakan meronta, menolak untuk dihadirkan ke tengah lapangan.
“Lo senang kan, Slam. Akhirnya ada yang bakal gantiin posisi lo...” kata Althair dengan tertawa kecil. Seolah baru saja melontarkan sebuah lelucon. Sedang Slamet hanya memandangnya tidak percaya.
“Iya, Slam. Temen lo itu juga harus ikut ngrasain apa yang lo rasain dari tadi. Biar adil kan ?”
“Al, Althair lo serius ??? Tapi Althair, dia kan...??” gagap Slamet. Sedikit bagian wajahnya yang tidak bengkak, nampak memucat.
“Kenapa ? Kasihan ?” tanya Althair dengan sebelah alis terangkat. “Harusnya lo pikir dulu sebelumnya. Giliran seperti ini saja baru lo merasa kasihan. Trus kemarin itu lo nggak mikir atau nggak punya otak. Hm ?”
Althair sudah kembali memainkan bola di kakinya sewaktu Angga dan Ayik sudah kembali ke lapangan dengan menyeret seseorang.
__ADS_1
Kedua tangan Martha mengepal sedang wajahnya nampak marah sekaligus lebih pucat. Tadi sewaktu Slamet meneriakkan nama itu, Martha masih tidak percaya. Yakin bahwa ada yang salah dengan pendengarannya. Tapi sekarang, melihat sosok yang diseret itu...
“Tha, Martha,” ujar Dewanti pelan, menyadari Martha yang mendadak diam. “Kamu nggak apa – apa ?”
Martha masih belum menjawab. Tiba – tiba otaknya serasa lumpuh, tidak dapat berpikir.
Kalau Alisha, pasti akan menjawab : nggak apa – apa. Tapi sanggupkah dia, Martha, mengucapkan kalimat itu sekarang.
“Tha ! Althair... !” seru Yuni panik, kedua matanya melebar ke arah Althair yang sudah mengambil posisi untuk menendang bola.
Seruan Yuni seakan berhasil menyadarkannya. Dengan segera Martha meraih handphone-nya, menekan speed dial menghubungi seseorang.
Althair menyunggingkan senyum miring khasnya. Tidak ada keraguan di wajahnya. Dia tidak akan pilih – pilih, kalau ada yang berani mengusik miliknya, akan segera disingkirkannya. Tidak peduli siapapun itu. Sementara seisi lapangan serasa menahan nafas, tidak tega melihat eksekusi yang akan terjadi. Kaki Althair sudah terangkat, mengayun ke arah bola yang siap di depannya, saat deringan itu terdengar.
Sontak ada kelegaan di hati para murid saat Althair menurunkan kakinya, urung menendang. Ada jeda sewaktu Althair berdiri terdiam selama beberapa menit. Itu adalah nada dering khusus yang diaturnya untuk satu nomer. Tanpa melihat handphone-nyapun dia tahu, siapa yang akhirnya meneleponnya.
Ya, akhirnya. Setelah beberapa hari ini dia menunggu.
Alisha calling...
...
“Sepertinya kamu menderita sekali sewaktu aku nggak ada ya, Kitty ? Kasihan,” bisik Althair di dekat Alisha. Bisa diciumnya bau khas Alisha yang beraroma lembut. “Tapi pasti rasanya lebih menderita lagi kalau kamu tahu apa yang terjadi siang tadi.”
Althair beringsut duduk di samping tempat tidur. Kepalanya bersandar di sebelah kepala Alisha. Bisa diamatinya dengan jelas lekuk wajah Alisha. Kedua matanya yang terpejam. Hidung mungilnya. Bibirnya.
Pandangan Althair terhenti pada bibir Alisha. Meski dalam keadaan hampir gelap seperti inipun, bibir itu seolah menggodanya.
“Huhh !” dengusnya, mengalihkan pandangan. “Hei, Kitty. Daripada nantinya menderita, apa nggak lebih baik mati saja ? Hm ? Setidaknya kan kamu nggak perlu repot sakit hati.”
“Tenang saja, aku bisa bunuh kamu tanpa rasa sakit kok. Seperti ini...” Althair mengokang pistolnya, membuka kunci pengamannya dan mengarahkan ujung pistolnya pada pelipis Alisha.
__ADS_1
“Tapi kalau begitu, jadi nggak seru dong,” ujarnya sedang jarinya sudah bergerak siap pada pelatuk. “Kubunuh atau nggak ya ?”
Althair bergerak, kali ini duduk menghadap Alisha. “Kitty, kamu tidur mulu sih. Jadinya gimana, kamu mau kubunuh atau nggak ?”
“Enghmmp...” Alisha bergumam dalam tidurnya. Nampak tubuhnya yang menggeliut dalam selimutnya.
“Ya. Ya. Tidur terus sana, Kitty. Kalau besok kamu ngerasa menderita sekali sampai mau mati, jangan salahkan aku. Toh aku sudah menawarimu untuk kubunuh kan ?” ujarnya sambil berdiri dan berjalan menjauh.
“Kit... sa.. kitt...” erang Alisha dengan mata tetap terpejam.
Althair sudah meloncat menaiki kusen jendela, hendak meninggalkan kamar Alisha. Tapi gerakannya tiba – tiba terhenti sewaktu Alisha mengerang.
“Mama... sakit... Perut Alisha sakit, Maa.. Hiks. Hiks. Hiks...” tangis Alisha dalam tidurnya.
Althair kembali mendekati tempat tidur. Dengan sekali gerakan, dibukanya selimut dan langsung disingkapkannya kaos Alisha. Rahangnya mengeras melihat lebam yang masih terlihat di perut Alisha.
“Hiks. Hiks. Hiks... Sakit,” Alisha bergerak meringkuk, menutupi perutnya.
“Ssh... ssh... tenang, Kitty. Besok juga hilang sakitnya,” bisik Althair sambil mengelus kepala Alisha.
“Kit... sakit, A.. tha,” gumam Alisha lagi.
“Hm ? Siapa yang kamu panggil, Kitty ? Martha ? Huh, bahkan dalam tidurpun kamu masih sempat juga panggil – panggil dia,” dengus Althair, sudah beranjak berdiri dan berjalan kembali ke jendela. Entah mengapa merasa sedikit sebal.
“Altha... sakit. Hiks. Hiks. Hiks... Perutku sakit, Altha...” tangisan Alisha teredam sewaktu dia memeluk bonekanya lebih erat.
Sekali lagi Althair berhenti dari gerakannya, tetap diam bertengger di kusen jendela. Segera, seulas senyum hadir di bibirnya.
Altha ?!! Apa Alisha tadi memanggil nama 'Altha' ?!!
“Oke, Kitty. You have my attention now...”
__ADS_1
...🦀🦀🦀...