Shotgun - Sub Zero : HER

Shotgun - Sub Zero : HER
Bab 14


__ADS_3

Ehm, hai. Pernahkah mendengar istilah lupa daratan ?!


  Karena saat ini para cowok dengan tampilan berantakan dan babak belur itu sedang mengalaminya.


  Bisa dibilang mereka mengalami euforia massal. Demi melihat pemandangan di depan mereka.


  Lihatlah kulit Alisha yang putih bersih, nampak sedikit kemerahan. Tubuhnya yang bisa dibilang bak model papan atas, dengan dada yang membusung indah, hanya tertutup selembar kain tank top yang tipis. Memberi akses yang bebas bagi mata mereka untuk menikmatinya. Rambutnya yang tergerai menambah kesan sensualnya.


  Belum lagi sewaktu Alisha membungkuk di depan Althair untuk mengikatkan kaosnya pada luka Althair.


  Sungguh ini godaan yang amat teramat berat, Jendral !!!


  Hampir semua menatap tak berkedip. Nafas mereka mulai memburu dan tanpa sadar beberapa kali menelan ludah, membuat jakunnya naik turun. Seluruh sakit dan luka dari bentrokan sebelumnya, serasa menghilang. Apa yang mereka lihat bagai membius mereka.


  Yah, setelah mereka merasakan teror sewaktu Althair mengamuk tadi, bisa dibilang sekarang mereka seolah sedang terbang melayang ke surga.


  Tapi, ho ho ho... Tidak semudah itu Ferguso !


  Karena sekarang Althair sudah memberikan tatapan tajamnya.


  Kalau semisal tatapan mata bisa membunuh, pasti mereka sudah mati sekarang. Setelah sempat terbang ke surga, sekarang mereka merasa seolah melihat pintu neraka yang terbuka dengan api yang menyala-nyala. Siap membakar habis mereka.


  Duh si Althair ini, benar - benar nggak bisa lihat orang senang sedikit !


  Althair menghela nafas. Tak perlu menunggu lama, dia melepaskan jaketnya dan segera memakaikannya pada Alisha. Mengakhiri kesenangan para pejantan yang sekarang pasti mengeluh dalam hati. Tapi toh mereka menyerah juga. Akhirnya bubar dan menyibukkan diri dengan membantu temannya yang terluka lebih parah.


  "Ihh, apaan sih, Althair ?!" protes Alisha karena Althair memakaikan jaketnya tanpa permisi.

__ADS_1


  "Pakai !" jawab Althair pendek.


  "Nggak mau. Aku pakai kardiganku saja," tolak Alisha keras kepala. Melepaskan jaket Althair dan memakai kardigan yang tadi dilepasnya. "Iihhh, jaketmu bau keringat lagi. Ish !"


  Althair kembali menghela nafas. Kardigan yang dipakai Alisha tidak bisa menutupi dengan sempurna bagian dada Alisha. Dia menyadari bahwa masih ada beberapa pasang mata yang nekat mencuri pandang.


  "Pakai, Alisha !" perintah Althair lagi, kali ini dengan intonasi yang tidak ingin dibantah.


  Cemberut, Alisha terpaksa memakainya. Merasa kalau Althair terlalu cerewet untuk ukuran orang yang sedang terluka tembak.


  "Sudah ! Tapi nanti jangan suruh aku 'bawa dulu' jaketmu ini, Althair. Jaketmu yang lalu saja belum kukembalikan."


  "Memang kenapa ? Tinggal dikembalikan saja kan ? Hmm ?"


"Eh.. ehm... itu. Anu, soalnya..." Alisha salah tingkah, sedang pipinya mulai merona. "Itu, soalnya kamu nggak pernah sendirian, Althair."


  Althair menatap Alisha dengan pandangan tertarik. Seulas senyum tipis bermain di bibirnya.


  "Iihhh ! Memangnya siapa yang mau berduaan denganmu, Althair !" seru Alisha, memalingkan wajahnya yang makin memerah. Malu.


  Saat berikutnya Alisha tercengang selama beberapa detik, tidak lama kemudian mendorong jatuh Althair dan berteriak, "Awas, Althair !!!"


  Detik berikutnya, suara tembakan kembali terdengar. Sementara Alisha jatuh menimpa Althair. Merasakan hembusan peluru yang lewat dari tembakan yang meleset.


  Alisha perlahan membuka matanya yang tadi terpejam karena takut. Saat yang sama, merasakan bibirnya menyentuh sesuatu yang hangat dan lembut. Bibir Althair.


  Kalau dalam drakor biasanya adegan jatuh dan tidak sengaja berciuman ini akan berlangsung beberapa menit. Memanjakan mata penontonnya untuk menikmati adegan tersebut. Tapi hei, this is reality, Guys !

__ADS_1


  Alisha langsung bangun, diikuti oleh Althair sehingga mereka sekarang duduk berhadapan. Althair sedikit mengernyit, merasakan lukanya yang terasa nyeri karena tadi tertindih Alisha. Sementara itu keheningan kembali terjadi. Bagaimanapun tidak ada yang berani maju melawan.


  Alisha melihat seorang cowok anggota geng Sigit yang sekarang sedang mengacungkan senjata api rakitannya. Mengarah lurus pada punggung Althair.


  Seolah tubuhnya bergerak otomatis, Alisha meraih pistol milik Sigit yang tergeletak tidak jauh darinya, mengarahkannya pada cowok di belakang punggung Althair dan menarik pelatuknya. Sekali lagi suara tembakan terdengar di udara.


  Pistol itu nyaris terlepas dari tangan Alisha yang sekarang gemetar dengan hebat. Althair segera mengambil pistol itu dari tangannya dan sebagai gantinya, dia menggenggam erat tangan Alisha.


  Berbeda dengan wajah Alisha yang sudah kembali pucat, wajah Althair saat ini justru dihiasi senyuman.


  "Alisha, tembakanmu meleset," ujarnya kalem. "Lihat, telingaku luka terserempet pelurumu."


  Alisha menggigit bibirnya. Baru disadarinya luka yang menggaris di sebagian pipi kiri Althair dan berakhir pada telinganya yang sekarang nampak berdarah.


  "Tanggung jawab, Alisha," lanjut Althair.


  "A, apa ?" gagap Alisha, masih merasa begitu shok dan bingung.


  Tidak menjawab, Althair hanya tersenyum. Dan sambil memeluk Alisha, dia berbalik, menembak si pelaku yang sudah mulai berlari hendak kabur.


  'DOORRR !!!'


  Tembakan Althair tepat mengenai kakinya. Membuat si pelaku terjerembab dan segera diringkus anggota geng Radith. Rupanya masih ada saja anggota geng Sigit yang masih belum terima kalau kalah.


  Alisha sesaat masih gemetar dalam pelukan Althair sebelum akhirnya sadar diri dan hendak berdiri. Tapi Althair segera menahannya dengan berkata, "Aku belum selesai denganmu, Sha."


  Lalu tanpa banyak bicara, Althair menarik Alisha, membuat Alisha masuk kembali dalam pelukannya.  Tanpa ragu dia mencium Alisha. ******* bibir yang sudah lama menggodanya.

__ADS_1


  "Mine..." bisiknya.


🦀🦀🦀


__ADS_2