
Tirta beringsut lemah. Merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Membatin apakah ada tulangnya yang patah.
Dalam hati Tirta memaki Althair habis–habisan. Tuh cowok dari luar saja terlihat super tenang dan cool, tapi kalau sudah menyangkut Alisha, bisa berubah seperti serigala yang buas. Siap menerkam dan menyobek–nyobek siapa saja yang melanggar teritorinya. Dan sepertinya Alisha termasuk di dalamnya.
“Cih ! Sayang banget cewek secantik Alisha mesti berurusan dengan Althair,” gumam Tirta, perlahan mencoba untuk duduk dan berjengit. Sial ! Apa tulang rusuknya patah ?!!
Tirta baru saja berhasil duduk sewaktu suara tembakan terdengar. Erangan kesakitan dan teriakan terdengar. Disusul kemudian dengan keheningan yang ada. Pandangannya mengedar, melihat sosok pelaku yang memuntahkan tembakan.
“Git ! Sigit ! Lo sudah gila !” seru Tirta melihat Sigit, sepupunya sekaligus sang ketua geng motor, yang memegang sepucuk pistol rakitan. Pandangan Tirta melebar, terkejut melihat siapa yang tertembak.
Althair berjongkok dengan satu kaki menumpu. Sebelah tangannya menahan tubuhnya sementara sebelah tangannya yang lain menekan perutnya. Dimana peluru yang ditembakkan Sigit bersarang.
Alisha menggigit keras bibirnya. Tadi dia tidak dapat menahan teriakannya sewaktu Althair jatuh terjerembab bersamaan dengan suara tembakan. Dan sekarang dilihatnya Althair meringkuk, nampak menahan sakit sementara darah merembes deras di daerah perutnya.
Radith langsung menerobos maju dan berjongkok di sebelah Althair, berseru, “Althair ! Lo... lo nggak apa–apa ?!!”
Wajahnya pucat karena khawatir karena meskipun geng motornya beberapa kali mengalami bentrokan dengan geng motor lain, tidak pernah sekalipun mereka melibatkan senjata api atau sanjata tajam.
__ADS_1
Althair menarik nafas dengan tajam, melirik Radith sekilas dan mendorongnya menjauh. Sebelah tangannya menggenggam tanah dengan kuat, perlahan mulai berdiri. Dilihatnya Sigit yang juga sama tersengalnya karena amarah.
Marah karena pada akhirnya dia dan geng motornya yang dihajar habis. Marah sehingga membuatnya nekat menembak Althair dengan pistol rakitan yang selama ini selalu dibawanya. Ya, bagi Sigit, Althair-lah orang yang mengakibatkan ini semua. Dan akan lebih baik kalau dia lenyap.
Suasana mendadak hening. Tanpa perlu diutarakan, semua yang hadir merasakan perubahan suasana. Siapa lagi kalau bukan dari Althair. Beberapa bahkan mulai beringsut mundur, merasakan bahaya yang sudah hampir mencapai permukaan.
Althair mengangkat kepalanya. Seulas senyuman miring menghiasi wajahnya. Sementara kedua matanya menatap dingin pada Sigit.
Althair sudah marah.
Hampir tidak ada yang melihat Althair bergerak. Bagaimana dia bisa maju mendekati Sigit, melemparkan tanah di genggaman tangannya sehingga membuat Sigit buta sesaat dan menembak dengan sembarangan. Saat berikutnya, sebuah tonjokan keras mendarat di perut Sigit, membuatnya terhenyak. Althair meloncat dan sukses memberikan tendangan pada tengkuk Sigit, membuatnya menghantam tanah dengan keras disertai erangan sakit yang teredam. Tidak cukup sampai di situ, Althair langsung menendang Sigit dengan kuat. Jauh lebih kuat dibanding tendangan yang diberikannya pada Tirta tadi. Membuat tubuh Sigit melayang dan mendarat di depan Alisha. Membuat Alisha sekali lagi memekik.
Bukankah dia tertembak ?! Lihat, bahkan darahnya saja masih terus merembes pada kaosnya.
Lalu bagaimana dia bisa bergerak seperti itu ?!!
Begitu cepat. Begitu kuat. Tetap dengan wajahnya yang tanpa ekspresi dan pandangan matanya yang dingin. Nampak begitu mengerikan.
__ADS_1
Althair berjalan mendekati Sigit yang hanya mampu mengerang kesakitan. Dengan kasar dijambaknya rambut Sigit, membuatnya mendongak. Nampak jelas wajahnya berlumur darah. Mungkin hidungnya patah. Atau ada pendarahan di bagian dalam perutnya yang membuatnya sampai muntah darah ?!! Mengingat Althair tadi menendangnya begitu keras.
“Lo kalau punya masalah sama gue, ngomong !!! Gue ladeni lo satu lawan satu,” ujar Althair dengan nada suara tanpa emosi. Tapi sebagian besar orang disana meneguk ludah. Merasakan jelas kemarahan Althair. “Jangan main bopong tembakan. Lo tahu, sedikit lagi tembakan lo bisa nyasar ke Alisha ! Hah !!!”
Alisha menutup mulutnya dengan kedua tangan. Baru menyadari kalau tadi Althair memang sempat bergerak cepat ke depannya sebelum akhirnya jatuh tertembak. Mungkinkah Althair sengaja menerima tembakan itu demi melindunginya ?!!
Althair melepaskan tangannya dengan kasar. Membuat wajah Sigit kembali membentur tanah dengan telak. Menyadari kalau lawannya sudah tidak berdaya, Althair berjalan mendekati Alisha.
Wajah cewek itu sudah memutih saking pucatnya. Althair mengeluh dalam hati, bagaimana dia bisa membiarkan Alisha terlibat dengan bentrokan antar geng motor seperti ini ?!!
“Sha, ka...” ujar Althair, segera dipotong oleh Alisha.
“Al ! Lukamu !” Alisha berseru panik. Jelas lebih mengkhawatirkan luka Althair dibanding terlalu memikirkan kemungkinan dia hampir tertembak tadi. Lagipula kenyataanya dia baik–baik saja kan ?!!
Alisha segera melepaskan cardigan rajutannya dan, diluar dugaan, meloloskan kaos flanel yang dipakainya. Menampakkan tubuhnya yang sekarang hanya dibalut tank top hitam. Alisha segera menekan luka Althair dengan kaosnya, melepas pita rambutnya sehingga membuat rambutnya tergerai sempurna. Dan mengikat kuat, memastikan kaosnya tetap menekan kuat luka Althair.
Dia sama sekali tidak menyadari pintu neraka yang baru saja dibukanya.
__ADS_1
🦀🦀🦀