
"Sha, kamu nggak apa - apa ?!"
"Alisha, wajahmu pucat."
"Martha, sepertinya Alisha mau muntah," ujar Fellin cemas.
Hari Senin di sekolah.
Alisha duduk di selasar depan ruang guru, lengkap dengan seragam petugas upacaranya yang serba berwarna putih. Tampak begitu pucat dan diam. Martha dan Fellin memandanginya dengan cemas, sedang Karin berdiri tidak jauh dari tempat mereka dengan wajah bersalah.
"Alisha, kamu sakit ?! Sudah sarapan belum tadi ?!" tanya Martha kembali. "Aku mintakan ijin ya biar kamu nggak perlu ikut upacara."
Alisha diam, menggeleng. Membuat Martha menghela nafas dan berjongkok di depannya, menggenggam erat tangan Alisha yang terasa dingin.
"Sha, apa terjadi sesuatu setelah kami pergi kemarin ?!" tebak Martha. "Maaf karena kemarin kami pergi meninggalkanmu. Tapi itu karena dua orang cowok itu menahan kami agar tidak kembali ke tempatmu."
"Ah, aku juga tidak begitu paham soal kejadian kemarin. Alisha, kamu menyuruhku untuk nggak ikut dengan kalian kan ? Berjaga - jaga kalau terjadi sesuatu yang diluar kendali," ujar Fellin. "Aku hampir saja menelepon polisi karena nggak ada kabar sama sekali dari kalian. Syukurlah Martha kemudian meneleponku sebelum aku nekat menelepon polisi," lanjutnya, dibalas dengan anggukan kepala Martha.
"Alisha, kemarin aku mencoba menghubungimu. Bahkan hampir semalaman. Tapi kamu sama sekali nggak respon, baik itu telepon atau WA. Nggak ada kabar darimu, Sha," kata Martha. Wajahnya benar - benar terlihat khawatir. "Alisha, Beiby. Please... Say something to me."
Alisha menarik nafas dalam, menggigit bibirnya. Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku bercerita pada mereka ?!
"Alisha... Ka, kamu marah padaku," tanya Karin dengan suara pelan, hampir tak terdengar. "A, aku minta maaf, Sha. A, aku bodoh. Benar - benar bodoh. Maafin aku, Sha."
Alisha menggeleng, berkata pelan, "Aku nggak marah kok, Karin."
"So, tell us what's wrong with you, Alisha," erang Martha hampir putus asa.
Alisha memandang Martha dengan pandangan memohon. Seolah meminta agar Martha bisa mengerti bahwa dia tidak bisa mengatakan apapun padanya. Belum.
__ADS_1
Martha mencoba memahami sahabatnya ini, memandangi lekat wajah pias Alisha. Menghela nafas untuk ketiga kalinya, Martha berdiri dan menegakkan badan. "Fine ! Whatever happened, its done !” tegasnya. “We're friends ! We still friends, right ?"
Fellin dan Karin menggangguk, sementara Alisha mendongak menatap Martha. Ekspresi wajahnya sulit ditebak.
"Tapi satu yang aku minta, jangan ada diantara kita yang berhubungan lagi dengan mahkluk bernama Althair !!! Jauhi Althair ! Stay away from him ! Deal ?!!" lanjut Martha. Kali ini pandangannya agak menusuk ke arah Karin, yang kemudian mengangguk pasrah.
Seruan agar para murid segera bersiap terdengar. Para guru bergerak, mengobrak murid – murid yang masih asyik mengobrol. Upacara pagi akan segera dimulai.
"Sha, kamu yakin kuat ikut upacara ?! Aku mintakan ijin ke guru ya ?" tawar Martha kembali. Alisnya sedari tadi mengerut, cemas melihat Alisha yang bertingkah tidak seperti biasanya
"Ng, nggak apa - apa, Martha. Aku bisa kok. Lagipula aku kan jadi petugasnya. Mana mungkin ijin mendadak," ujar Alisha, memaksakan diri tersenyum. "Kalian segera pergi sana gih. Ntar malah dihukum lho kalau telat," imbuhnya.
Alisha mendesah, memandangi teman - temannya yang bergegas ke lapangan. Tetap memasang senyumnya karena sesekali Martha masih menoleh, khawatir padanya.
“You’ll be fine, Alisha,” gumam Alisha, mensugesti dirinya sendiri. “Tenang, Alisha. Tenang.”
Ya. Seperti dulu. Saat dia belum mengenal cowok bernama Althair itu.
Alisha sudah berdiri tegap di deretan petugas upacara. Map berisi teks pembukaan UUD 45 yang akan dibacanya nanti dipegang erat di sebelah kiri tubuhnya.
Ya, cukup jauhi Althair dan semua akan baik - baik saja. Iya, kan ?!!
Pemimpin upacara sedang memberi laporan pada inspektur upacara bahwa upacara akan segera dimulai.
Alisha menggigit bibirnya. Masih bisa dirasakannya ciuman yang diberikan Althair kemarin. Bagaimana bibirnya dilumat begitu rupa. Bibirnya yang belum pernah disentuh siapapun. Dan Alisha harus merelakan first kiss-nya direbut begitu saja.
Tiga orang paskibraka berjalan menuju tiang bendera. Siap mengibarkan Sang Saka.
“Forget it, Alisha !” gumam Alisha, memejamkan matanya dan menarik nafas. Berusaha mengenyahkan ingatan seputar ciuman kemarin itu. “Forget it. Just forget it !”
__ADS_1
Lagu Indonesia Raya mengalun mengiringi Sang Merah Putih yang ditarik semakin tinggi, seolah hendak membelah langit.
Alisha kembali menarik nafas. Tubuhnya sedikit gemetar setelah semalaman hampir tidak tidur dan tidak makan.
Inspektur upacara memimpin mengheningkan cipta. Suasana terasa lebih hening dihiasi alunan suara para anggota paduan suara. Namun diantara lagu Gugur Bunga yang dinyanyikan, samar terdengar suara derum motor.
Pembacaan Teks Proklamasi dan Teks Pancasila sudah berakhir. Alisha menguatkan dirinya, menghela nafas beberapa kali. Waktunya dia maju.
“Undang – undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,” suara Alisha terdengar membahana ke seluruh lapangan sekolah. Suaranya sedikit bergetar.
“Pembukaan. Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa.”
Terjadi sedikit keributan di barisan belakang peserta upacara.
“Dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan.”
Barisan peserta upacara tersibak. Seolah ada yang memaksa menerobos. Menimbulkan kericuhan diantara para murid.
“Karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan oleh sebab itu...”
Alisha terdiam. Sedang sebagian besar peserta upacara sudah tidak lagi bisa tenang dan berdengung ramai. Beberapa melongok dan berjinjit penuh rasa ingin tahu.
Alisha menelan ludahnya. Dihadapannya jelas terlihat Althair yang sedang berjalan di antara barisan murid. Berjalan lurus ke arahnya.
Dan di hadapan seluruh murid dan guru. Di hadapan semua orang satu sekolah. Dengan senyuman miring khasnya yang menghiasi wajah dan tanpa bicara, Althair mencium Alisha.
“From now and on, you’re mine, Alisha,” bisik Althair, kembali melanjutkan ciumannya pada Alisha tanpa ragu.
🦀🦀🦀
__ADS_1